Benarkah Cat Rambut Tingkatkan Risiko Kanker Payudara? Ini Penjelasan Pakar

Benarkah cat rambut meningkatkan risiko kanker payudara hingga 60 persen? Pakar menjelaskan arti angka tersebut dan pentingnya memahami hasil penelitian.

Benarkah cat rambut meningkatkan risiko kanker payudara hingga 60 persen? Pakar menjelaskan arti angka tersebut dan pentingnya memahami hasil penelitian

Isu penggunaan cat rambut yang disebut dapat meningkatkan risiko kanker payudara hingga 60 persen kembali ramai diperbincangkan. Angka tersebut memang berasal dari sebuah penelitian, tetapi tidak bisa diartikan bahwa 60 persen perempuan yang menggunakan cat rambut akan terkena kanker payudara.

Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, Samuel Stemi, mengingatkan masyarakat agar membaca hasil penelitian tersebut secara hati-hati. Menurut Samuel, penelitian yang menjadi dasar isu tersebut menunjukkan adanya hubungan atau asosiasi, bukan bukti bahwa cat rambut secara langsung menyebabkan kanker payudara.

“Angka ini harus dipahami secara hati-hati. Ini adalah peningkatan risiko relatif, bukan berarti 60 persen pengguna cat rambut akan terkena kanker payudara,” kata Samuel.

Penelitian yang dimaksud dilakukan oleh National Institute of Environmental Health Sciences (NIEHS) di Amerika Serikat dan dipublikasikan dalam International Journal of Cancer pada 4 Desember 2019. Studi tersebut melibatkan 46.709 perempuan dalam Sister Study.

Apa arti angka 60 persen pada pengguna cat rambut?

Dalam penelitian tersebut, penggunaan pewarna rambut permanen memang dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker payudara. Namun, angka 60 persen memiliki konteks yang sangat spesifik.

Berdasarkan data penelitian, perempuan kulit hitam atau African American yang menggunakan pewarna rambut permanen setiap lima hingga delapan minggu atau lebih sering memiliki risiko relatif kanker payudara sekitar 60 persen lebih tinggi dibandingkan kelompok pembanding. Sementara itu, peningkatan risiko pada perempuan kulit putih dalam kelompok dengan frekuensi penggunaan serupa tercatat sekitar 8 persen.

Jika seluruh peserta penelitian diperhitungkan, penggunaan pewarna rambut permanen dalam 12 bulan sebelum penelitian dikaitkan dengan sekitar 9 persen peningkatan risiko. Analisis berdasarkan kelompok juga menunjukkan perbedaan, dengan sekitar 45 persen pada perempuan kulit hitam dan sekitar 7 persen pada perempuan kulit putih dalam hasil penelitian utama.

Perbedaan angka tersebut menunjukkan mengapa hasil penelitian tidak tepat jika disederhanakan menjadi klaim bahwa “cat rambut menyebabkan kanker payudara hingga 60 persen”.

Baca Juga:  Kebiasaan Pagi yang Diam-Diam Merusak Ginjal dan Sering Diabaikan

Selain itu, penelitian tersebut merupakan studi observasional. Artinya, peneliti melihat hubungan antara paparan tertentu dan kejadian kanker selama periode penelitian. Desain seperti ini dapat menunjukkan adanya asosiasi, tetapi tidak dengan sendirinya membuktikan hubungan sebab-akibat.

Penelitian juga menemukan sedikit atau tidak ada peningkatan risiko yang sama pada penggunaan pewarna semi-permanen atau sementara.

Bahan kimia cat rambut juga menjadi perhatian

Salah satu alasan cat rambut terus diteliti adalah karena produk pewarna mengandung berbagai formulasi kimia. Salah satu kelompok bahan yang menjadi perhatian adalah aromatic amines, termasuk p-phenylenediamine atau PPD.

Namun, keberadaan suatu bahan kimia dalam produk tidak otomatis berarti produk tersebut terbukti menyebabkan kanker pada manusia. Risiko juga perlu dilihat berdasarkan jenis bahan, tingkat paparan, frekuensi penggunaan, lama paparan, serta faktor lain yang dapat memengaruhi kesehatan.

NIEHS sendiri mencatat bahwa penelitian mengenai hubungan pewarna rambut dan kanker telah dilakukan selama bertahun-tahun dengan hasil yang belum selalu konsisten. Studi 2019 tersebut menemukan hubungan antara penggunaan pewarna rambut permanen dan risiko kanker payudara, tetapi para peneliti juga menekankan perlunya penelitian lanjutan untuk memperkuat temuan tersebut.

Kajian lain juga menunjukkan bahwa hasil penelitian mengenai pewarna rambut dan kanker masih beragam. Karena itu, temuan satu penelitian tidak cukup untuk menyatakan bahwa penggunaan cat rambut secara langsung menjadi penyebab kanker payudara.

Menurut Samuel, formulasi produk pewarna rambut juga telah mengalami perubahan. Sejumlah bahan yang diketahui memiliki sifat karsinogenik telah dihilangkan atau dibatasi dalam berbagai produk, sehingga paparan dari produk masa kini tidak selalu dapat disamakan dengan formulasi yang digunakan pada masa lalu.

Temuan ini juga sejalan dengan informasi lain mengenai pewarna rambut. ANTARA pada 2026 melaporkan bahwa bukti ilmiah mengenai penggunaan pewarna rambut untuk kebutuhan pribadi dan kanker masih belum konsisten. Penggunaan pewarna rambut secara pribadi belum dapat dipastikan sebagai penyebab kanker pada manusia.

Baca Juga:  Terlalu Sering Duduk Bisa Memicu Penyakit Serius, Ini Penjelasannya

Karena itu, masyarakat tidak perlu langsung panik setiap kali menggunakan cat rambut. Samuel menyarankan agar penggunaan produk tetap dilakukan secara bijak, terutama bagi mereka yang memiliki kebiasaan mengecat rambut dengan frekuensi sangat tinggi selama bertahun-tahun.

Produk yang digunakan sebaiknya legal dan memiliki profil keamanan yang baik. Petunjuk pemakaian pada kemasan juga perlu diikuti, termasuk ketentuan mengenai lama penggunaan. Samuel juga menyarankan agar cat rambut tidak digunakan ketika kulit kepala sedang mengalami luka atau iritasi.

“Jika seseorang sesekali mengecat rambut, tidak ada dasar ilmiah yang kuat untuk mengatakan bahwa ia harus takut akan terkena kanker payudara karena aktivitas tersebut,” kata Samuel.

Namun, penggunaan yang sangat sering dan berlangsung dalam jangka panjang, khususnya pewarna permanen, patut menjadi perhatian. Mengurangi frekuensi penggunaan dapat menjadi langkah bijak untuk membatasi paparan bahan kimia.

Dengan demikian, angka 60 persen yang ramai beredar tidak boleh dipahami sebagai peluang langsung bahwa enam dari setiap sepuluh pengguna cat rambut akan mengalami kanker payudara. Angka tersebut merupakan peningkatan risiko relatif yang ditemukan pada kelompok tertentu dalam penelitian tertentu.

Pemahaman terhadap konteks penelitian menjadi penting agar informasi kesehatan tidak berubah menjadi kepanikan. Pada saat yang sama, hasil penelitian tersebut tetap menjadi alasan bagi para peneliti untuk terus mempelajari hubungan antara bahan kimia dalam produk perawatan rambut dan risiko kanker.

Referensi:
CNN Indonesia

📚 ️Baca Juga Seputar Kesehatan

Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Kesehatan Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia kesehatan — semua ada di sana!

Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.

📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral

Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!

BERITATERKAIT

BERITATERBARU

INSTAGRAMFEED