Cermin yang Retak

Sejak kecil, ibu selalu mengajarkan satu hal kepada Raka.

“Kalau tidak bisa berkata baik, lebih baik diam.”

Dulu ia mengangguk. Tapi semakin dewasa, nasihat itu tenggelam di antara kebiasaan yang dianggap biasa.

Di kantor, saat jam makan siang, selalu ada topik yang lebih menarik daripada pekerjaan.

Orang.

“Eh, tahu nggak? Si Bima katanya dimutasi karena nggak becus.”

“Si Sinta itu kelihatannya baik, padahal…”

“Yang di rumah pojok itu sok kaya. Lihat aja gayanya.”

Semua tertawa.

Termasuk Raka.

Lucunya, ia tak pernah merasa sedang berbuat salah. Baginya itu hanya obrolan. Hanya candaan. Semua orang juga melakukannya.

Sampai suatu malam…

Raka pulang lebih cepat. Lampu rumah masih menyala. Ia hendak membuka pintu ketika mendengar suara istrinya sedang berbincang dengan tetangga.

“Kasihan ya suamiku. Orangnya memang baik, tapi kadang gengsinya tinggi. Utangnya juga belum lunas, tapi kalau ada teman selalu mentraktir. Kadang aku capek.”

Raka membeku.

Bukan karena marah.

Melainkan karena kalimat itu benar.

Ia memang sering begitu.

Namun mendengar kekurangannya diucapkan oleh orang lain terasa seperti ditusuk pelan-pelan. Tidak berdarah, tetapi cukup dalam untuk membuat dadanya sesak.

Ia tidak jadi masuk.

Malam itu, untuk pertama kalinya, ia mengerti bagaimana rasanya menjadi bahan pembicaraan.

Esoknya, ia datang ke kantor seperti biasa.

Teman-temannya sudah berkumpul.

Baca Juga:  Rahasia Anak Bergaun Kuning, Nama yang Hilang dari Langit

“Rak… sini. Ada cerita baru.”

Biasanya, Raka akan duduk paling depan.

Hari itu, ia hanya tersenyum tipis.

“Nggak ah.”

“Lho, tumben.”

“Aku baru sadar…”

Ia berhenti sejenak.

“…ternyata jadi orang yang dibicarakan itu sakit.”

Semua tertawa kecil.

“Paling juga baper.”

Raka tidak membalas.

Beberapa hari kemudian, kabar mengejutkan datang.

Pak Hasan, satpam kantor yang sudah belasan tahun bekerja, meninggal dunia karena serangan jantung.

Seluruh karyawan datang melayat.

Di rumah duka, Raka melihat seorang anak perempuan kecil memeluk foto ayahnya sambil menangis.

Saat itu, salah seorang rekan berbisik pelan,

“Padahal dulu kita sering bilang Pak Hasan pemalas ya. Sering tidur di pos.”

Seorang pria tua yang duduk di samping mereka menoleh.

“Pak Hasan tidur bukan karena malas.”

Mereka menatap pria itu.

“Beliau setiap malam bekerja sebagai sopir ambulans supaya anaknya bisa tetap sekolah. Siangnya tetap jadi satpam di sini. Tubuhnya cuma punya satu cara untuk bertahan… tertidur beberapa menit.”

Sunyi.

Tidak ada yang berani mengangkat kepala.

Raka merasa tenggorokannya tercekat.

Ia teringat…

Dialah orang yang paling sering menyebut Pak Hasan malas.

Bahkan pernah tertawa saat melihat beliau tertidur.

Tak ada lagi kesempatan meminta maaf.

Tak ada lagi kesempatan menjelaskan bahwa ia tidak tahu.

Yang tersisa hanyalah penyesalan.

Sepulang dari pemakaman, Raka membuka media sosial.

Baca Juga:  Tips Anti Galau Ketika Pasangan Dunia Maya Sudah Berpaling

Jarinya berhenti di sebuah unggahan.

Seseorang sedang dihujat ratusan komentar.

Dulu, tanpa berpikir panjang, mungkin ia akan ikut menulis sesuatu.

Namun kali ini ia hanya menutup ponselnya.

Tiba-tiba ia teringat satu kalimat ibunya yang dulu sering ia abaikan.

“Lidah tidak pernah meninggalkan bekas di kulit. Tapi sering meninggalkan luka yang seumur hidup tidak sembuh.”

Malam itu, Raka berdiri di depan cermin kamar mandi.

Ia menatap wajahnya lama sekali.

Lalu ia berbisik lirih,

“Aku terlalu sibuk mencari noda di wajah orang lain… sampai lupa membersihkan wajahku sendiri.”

Cermin itu tidak menjawab.

Tetapi pantulan di dalamnya seolah berkata sesuatu.

Orang-orang yang paling sering kita bicarakan, mungkin hanya melakukan kesalahan sekali. Sedangkan kita… telah berkali-kali membicarakan kesalahan mereka.

Dan saat itu Raka sadar…

Selama ini ia mengira dirinya berada di sisi orang-orang baik.

Padahal tanpa ia sadari, ia justru sering menjadi pelaku dari keburukan yang paling ia benci jika dilakukan kepada dirinya sendiri.

📚 ️Baca Juga Seputar Novel

Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Novel Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia novel — semua ada di sana!

Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.

📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral

Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!

BERITATERKAIT

BERITATERBARU

INSTAGRAMFEED