Persaingan di industri kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin memanas. OpenAI, perusahaan pengembang ChatGPT, dikabarkan tengah mempertimbangkan strategi pemangkasan harga layanan sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan kebijakan serupa yang dilakukan oleh pesaing utamanya, Anthropic.
Informasi tersebut muncul di tengah persiapan kedua perusahaan menuju pasar modal melalui proses penawaran saham perdana atau Initial Public Offering (IPO). Jika langkah itu benar-benar dilakukan, pasar AI generatif berpotensi memasuki fase baru berupa persaingan harga yang lebih agresif.
Menurut laporan yang dikutip dari The Wall Street Journal, OpenAI saat ini sedang mengevaluasi berbagai opsi penyesuaian biaya layanan, termasuk kemungkinan menurunkan harga token AI yang menjadi dasar perhitungan penggunaan model kecerdasan buatan.
Sumber yang mengetahui pembahasan internal perusahaan menyebutkan bahwa langkah tersebut masih berada pada tahap awal dan belum menghasilkan keputusan final. OpenAI sendiri belum memberikan komentar resmi terkait laporan tersebut.
Potensi Perang Harga Jelang IPO
Persaingan antara OpenAI dan Anthropic dalam beberapa tahun terakhir terus meningkat. Kedua perusahaan berlomba mengembangkan model AI generatif yang semakin canggih untuk menarik pengguna individu maupun korporasi.
Anthropic dikenal melalui chatbot Claude, sementara OpenAI menguasai pasar melalui ChatGPT yang telah digunakan secara luas di berbagai sektor.
Berdasarkan data perusahaan, OpenAI baru saja mengajukan proses pencatatan saham publik pada pekan ini. Dalam putaran pendanaan terakhir yang dilakukan pada Maret 2026, valuasi perusahaan dilaporkan mencapai US$852 miliar atau sekitar Rp13.887 triliun (asumsi kurs Rp16.300 per dolar AS).
Sementara itu, Anthropic juga tengah bersiap memasuki pasar saham. Perusahaan tersebut disebut berhasil memperoleh pendanaan baru dengan valuasi mencapai US$965 miliar atau sekitar Rp15.729 triliun.
Persaingan tidak hanya datang dari sesama perusahaan AI generatif. OpenAI dan Anthropic juga harus menghadapi tekanan dari perusahaan teknologi besar seperti Microsoft dan Google yang terus mengembangkan layanan AI mereka masing-masing.
Selain itu, perusahaan milik Elon Musk melalui SpaceX dan unit AI-nya, xAI, juga dikabarkan tengah mempersiapkan langkah menuju pasar publik dengan valuasi yang diperkirakan mencapai US$1,8 triliun atau sekitar Rp29.340 triliun.
Biaya AI Mulai Jadi Sorotan Perusahaan Besar
Di tengah optimisme terhadap perkembangan AI, sejumlah perusahaan mulai memperhatikan besarnya biaya operasional teknologi tersebut.
Menurut laporan yang beredar, beberapa perusahaan besar telah melakukan pembatasan penggunaan layanan AI internal karena tingginya biaya komputasi yang harus ditanggung.
Perusahaan transportasi Uber Technologies misalnya, disebut telah membatasi penggunaan sejumlah alat berbasis AI bagi karyawannya setelah anggaran tahunan untuk teknologi tersebut habis lebih cepat dari perkiraan.
Hal serupa juga dilaporkan terjadi di Walmart, yang mulai menerapkan pembatasan terhadap penggunaan agen AI internal oleh para pegawai.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meskipun teknologi AI terus berkembang pesat, faktor biaya masih menjadi tantangan besar bagi perusahaan maupun pengguna korporasi. Karena itu, jika OpenAI dan Anthropic benar-benar memangkas harga layanan mereka, langkah tersebut dapat membuka peluang adopsi AI yang lebih luas sekaligus meningkatkan persaingan di pasar global.
Di sisi lain, strategi penurunan harga juga berpotensi menjadi senjata penting untuk menarik pelanggan baru menjelang IPO, saat investor mulai menilai kemampuan perusahaan dalam mempertahankan pertumbuhan pengguna dan pendapatan di tengah kompetisi yang semakin ketat.
Referensi:
Bloomberg Technoz