Pembenahan perlintasan sebidang kereta api di Indonesia kembali menjadi sorotan. Pengamat transportasi menilai pembangunan underpass atau jalan bawah tanah menjadi solusi yang lebih efektif dan realistis dibandingkan pembangunan flyover.
Menurut pengamat transportasi Darmaningtyas di Jakarta, underpass dinilai lebih memungkinkan dari sisi pembiayaan dan implementasi. “Kalau ada dananya, mungkin lewat underpass lebih baik,” kata Darmaningtyas.
Ia menjelaskan bahwa pembangunan flyover umumnya membutuhkan biaya yang jauh lebih besar. Sementara itu, underpass dianggap lebih fleksibel dan dapat diterapkan di lebih banyak titik perlintasan.
Selain pembangunan infrastruktur, Darmaningtyas juga menekankan pentingnya penambahan fasilitas penyeberangan di perlintasan sebidang. “Memang pemerintah perlu menambah tempat penyeberangan untuk perlintasan sebidang itu,” ujarnya.
Namun, ia mengingatkan bahwa pembenahan tidak hanya soal pembangunan fisik. Kesadaran masyarakat dalam berlalu lintas juga menjadi faktor penting untuk mengurangi risiko kecelakaan. Edukasi kepada pengguna jalan dinilai harus berjalan beriringan dengan pembangunan infrastruktur.
Terkait keberadaan perlintasan liar, Darmaningtyas menyebut hal itu tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemerintah. Banyak perlintasan muncul karena kebutuhan akses masyarakat di sekitar jalur kereta.
Data Kecelakaan Perlintasan Kereta Sepanjang 2026
Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, tercatat 40 kecelakaan di perlintasan sebidang sepanjang tahun 2026.
Mayoritas kecelakaan terjadi di perlintasan tanpa palang pintu, yakni sebanyak 23 kejadian atau 57,5 persen. Sementara itu, 17 kejadian lainnya atau 42,5 persen terjadi di perlintasan yang sudah memiliki palang pintu.
Faktor utama penyebab kecelakaan didominasi oleh perilaku pengendara yang menerobos perlintasan, dengan total 34 kasus. Selain itu, terdapat juga kasus kendaraan mogok sebanyak 4 kejadian serta keterlambatan penutupan palang pintu sebanyak 3 kasus.
Dampak dari kecelakaan tersebut tergolong serius. Tercatat 25 orang meninggal dunia, 5 orang mengalami luka berat, dan 11 lainnya mengalami luka ringan.
Dari sisi jenis kendaraan, kecelakaan melibatkan 22 mobil atau sekitar 55 persen dan 18 sepeda motor atau 45 persen.
Beberapa penyebab kendaraan mogok di perlintasan antara lain mesin kendaraan mati saat melintas, beban berlebih pada sepeda motor yang membuat roda tersangkut, gangguan mesin mobil di tengah rel, hingga truk dengan muatan rendah yang tersangkut karena kondisi elevasi perlintasan yang tidak sesuai.
Data ini menunjukkan bahwa persoalan perlintasan sebidang tidak hanya berkaitan dengan infrastruktur, tetapi juga menyangkut perilaku pengguna jalan serta kondisi teknis kendaraan.
Referensi:
CNN Indonesia