Kampung Sultan di Cilacap Terungkap, Kisah Sukses Perantau Jadi Juragan Kelontong

Desa Jambu di Cilacap dijuluki kampung sultan. Rumah mewah berdiri dari hasil kerja keras perantau yang sukses usaha kelontong. (Foto: jateng.disway.id)

Desa Jambu di Cilacap dijuluki kampung sultan

Desa Jambu di Kecamatan Wanareja, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, belakangan dikenal dengan julukan kampung sultan. Julukan ini muncul bukan tanpa alasan. Di balik perbukitan Wanareja yang cukup terpencil, berdiri deretan rumah besar dan mewah yang mencolok dibanding desa-desa lain di sekitarnya.

Akses menuju desa ini tidak mudah. Dari pusat Kecamatan Wanareja, jaraknya sekitar 24 kilometer atau ditempuh sekitar satu jam perjalanan. Sementara dari pusat Kota Cilacap, jaraknya mencapai 100 kilometer dengan waktu tempuh sekitar empat jam.

Sebagian jalan menuju desa sudah beraspal halus, namun masih terdapat ruas yang rusak, terutama saat melintasi kawasan hutan pinus sebelum masuk ke permukiman warga.

Meski lokasinya cukup terpencil, pemandangan di Desa Jambu justru berbeda. Rumah-rumah warga berdiri megah, banyak yang bertingkat layaknya kompleks perumahan di kota.

Menurut Kepala Seksi Kesejahteraan Desa Jambu, Enno Carsono, perbedaan ini memang cukup mencolok.

“Kalau dibandingkan dengan desa lain yang kategorinya kampung, memang beda. Rumahnya ada yang tingkat, mewah lah istilahnya. Orang-orang kabupaten juga kadang bilang, kok ini kayak rumah dewan,” kata Enno.

Ia menjelaskan bahwa nilai rumah di desa tersebut berkisar antara Rp500 juta hingga Rp1 miliar. Julukan kampung sultan sendiri muncul dari pengunjung yang mengabadikan kondisi desa lalu membagikannya di media sosial.

Tradisi Merantau Ubah Wajah Desa Jambu

Perubahan wajah Desa Jambu tidak terjadi secara instan. Menurut Enno, pembangunan rumah-rumah mewah mulai terlihat sejak sekitar 2015, ketika banyak warga merantau ke kota besar, terutama Bandung.

“Yang booming itu sekitar 2015 mulai dibangun. Tapi yang bangunan mewah-mewah itu sekitar 2020 ke sini,” jelasnya.

Tradisi merantau di desa ini sangat kuat. Dari total sekitar 3.400 penduduk, sekitar 70 persen warga memilih bekerja di luar daerah.

Bandung menjadi tujuan utama para perantau. Menurut Enno, sebagian besar warga yang merantau memilih kota tersebut untuk mencari penghidupan.

“Biasanya yang paling banyak ke Bandung. Misalnya dari 500 orang yang merantau, sekitar 400 orang di Bandung,” ujarnya.

Selain Bandung, warga juga merantau ke Bogor, Jakarta, hingga beberapa wilayah di Jawa Tengah seperti Kebumen dan Purwokerto.

Sebelum tren merantau berkembang, mayoritas warga bekerja di sektor pertanian, mulai dari petani hingga buruh harian.

Dari Karyawan Jadi Juragan Toko Kelontong

Kesuksesan warga Desa Jambu di perantauan tidak lepas dari usaha di bidang perdagangan, khususnya warung sembako atau toko kelontong.

Salah satu warga, Taryono (61), menceritakan bahwa tradisi merantau sudah dimulai sejak tahun 1990-an. Pada awalnya, para perantau tidak langsung membuka usaha sendiri.

“Sekitar tahun 90-an sudah mulai merantau. Awalnya ya jualan sembako, kelontongan,” kata Taryono.

Ia menjelaskan, banyak warga yang terlebih dahulu bekerja sebagai karyawan untuk belajar cara berdagang sebelum akhirnya membuka usaha sendiri.

“Mulanya kerja di orang lain dulu, sempat jadi karyawan. Tapi begitu sudah tahu caranya dagang, akhirnya buka sendiri di Bandung,” ujarnya.

Seiring waktu, usaha tersebut berkembang pesat. Kini, mayoritas warga Desa Jambu yang merantau diketahui memiliki usaha warung sembako.

Kesuksesan ini juga dirasakan keluarga Taryono. Ia memiliki enam anak yang semuanya merantau sejak puluhan tahun lalu.

“Anak saya dari tahun 90 juga sudah mulai merantau semuanya, ada enam. Satu di Jakarta, sisanya di Bandung,” katanya.

Hasil kerja keras mereka terlihat nyata. Selain memiliki rumah di kota tempat mereka bekerja, anak-anak Taryono juga membangun rumah di kampung halaman.

“Di sana sudah beli rumah sendiri. Di sini juga punya rumah. Tapi rumahnya yang besar justru di sini,” ujarnya.

Saat ini, total terdapat enam rumah milik anak-anaknya yang berdiri di Desa Jambu, masing-masing satu rumah untuk setiap anak.

Fenomena ini memperlihatkan bagaimana tradisi merantau dan usaha kecil seperti toko kelontong mampu mengubah wajah sebuah desa menjadi lebih maju dan sejahtera.

Referensi:
CNN Indonesia

📚 ️Baca Juga Seputar Nasional

Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Nasional Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia nasional — semua ada di sana!

✍️ Ditulis oleh: Fadjri Adhi Putra & Fahmi Fahrulrozi
📌 Editor: Redaksi Tren Media

Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.

📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral

Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!

BERITATERKAIT

BERITATERBARU

INSTAGRAMFEED