Menggigit Kuku Bukan Sekadar Kebiasaan, Ini Penjelasan Psikologisnya

Kebiasaan menggigit kuku bisa jadi tanda stres hingga gangguan kecemasan. Simak penyebab psikologis dan cara menghentikannya. (Foto: Freepik)
Kebiasaan menggigit kuku bisa jadi tanda stres hingga gangguan kecemasan. Simak penyebab psikologis dan cara menghentikannya. (Foto: Freepik)

Kebiasaan menggigit kuku bisa jadi tanda stres hingga gangguan kecemasan

Kebiasaan menggigit kuku sering dianggap sepele. Banyak orang melakukannya tanpa sadar, terutama saat sedang berpikir atau menunggu sesuatu. Namun di balik kebiasaan ini, ada faktor psikologis yang perlu diperhatikan.

Dalam istilah medis, kebiasaan menggigit kuku dikenal sebagai onychophagia. Kondisi ini termasuk dalam kategori body focused repetitive behavior atau BFRB, yaitu perilaku berulang yang berfokus pada tubuh.

Berdasarkan ulasan dari Psychology Today, kebiasaan ini umumnya mulai muncul sejak masa kanak-kanak, meningkat saat remaja, dan bisa berlanjut hingga dewasa. Jika dilakukan terus-menerus, menggigit kuku dapat merusak kuku, kutikula, kulit sekitar jari, bahkan berdampak pada gigi dan rahang.

Faktor Psikologis yang Memicu Kebiasaan Menggigit Kuku

Berikut beberapa kondisi mental yang kerap dikaitkan dengan kebiasaan menggigit kuku.

Stres

Stres menjadi salah satu pemicu paling umum. Saat menghadapi tekanan, sebagian orang mencari cara untuk menenangkan diri. Menggigit kuku bisa menjadi mekanisme coping sementara yang memberi rasa lega. Namun jika dilakukan berulang, kebiasaan ini justru sulit dihentikan.

Gangguan kecemasan

Selain stres, gangguan kecemasan juga sering menjadi latar belakang perilaku ini. Saat seseorang merasa gelisah atau cemas, tubuh akan mencari aktivitas untuk meredakan ketegangan. Pada individu dengan gangguan kecemasan, kebiasaan menggigit kuku biasanya lebih intens dan sulit dikontrol. Kondisi ini bisa menjadi sinyal bahwa masalah psikologis belum tertangani dengan baik.

Bosan

Menggigit kuku juga dapat muncul ketika seseorang merasa bosan atau tidak memiliki aktivitas. Secara psikologis, otak mencari stimulasi tambahan. Tanpa disadari, tangan dan mulut bergerak otomatis untuk membuat otak tetap merasa sibuk.

Perfeksionisme

Menurut sejumlah studi yang dikutip dari Nailknowledge, kebiasaan menggigit kuku juga dikaitkan dengan kecenderungan perfeksionisme. Orang dengan karakter ini memiliki dorongan untuk memperbaiki bagian kuku yang terasa tidak rata atau kasar. Awalnya hanya ingin merapikan, namun lama-kelamaan menjadi kebiasaan berulang.

Cara Menghentikan Kebiasaan Menggigit Kuku

Menghentikan kebiasaan ini memang tidak mudah, tetapi ada beberapa langkah yang bisa dicoba. Berdasarkan informasi dari WebMD, berikut beberapa cara yang dapat membantu.

Pertama, potong kuku secara rutin dan jaga tetap pendek. Dengan kuku yang pendek, tidak ada bagian yang cukup panjang untuk digigit.

Kedua, gunakan kuteks atau pelapis kuku. Selain membuat kuku terlihat lebih rapi, rasa tidak enak dari cat kuku dapat membantu mengurangi dorongan untuk menggigit.

Ketiga, alihkan perhatian dengan aktivitas lain. Mengunyah permen karet, memegang bola antistres, atau menggunakan fidget toys dapat membantu mengurangi kebiasaan tersebut.

Meski terlihat sederhana, menggigit kuku bisa menjadi tanda adanya stres, kecemasan, atau kondisi psikologis tertentu. Jika kebiasaan ini terasa sulit dihentikan dan mengganggu aktivitas sehari-hari, berkonsultasi dengan tenaga profesional dapat menjadi langkah yang tepat.

Referensi:
CNN Indonesia

📚 ️Baca Juga Seputar Kesehatan

Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Kesehatan Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia kesehatan — semua ada di sana!

✍️ Ditulis oleh: Fadjri Adhi Putra & Fahmi Fahrulrozi
📌 Editor: Redaksi Tren Media

Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.

📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral

Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!

BERITATERKAIT

BERITATERBARU

INSTAGRAMFEED