Curah hujan ekstrem yang mengguyur Sumatera Utara sejak akhir pekan lalu memicu banjir besar dan longsor di tujuh daerah, termasuk Sibolga, Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan. Berdasarkan data terbaru dari BPBD Sumatera Utara, total sepuluh warga meninggal dunia akibat bencana ini, sementara beberapa lainnya masih dalam pencarian.
Empat korban jiwa ditemukan di Desa Mardame, Kecamatan Sitahuis, Tapanuli Tengah. Mereka satu keluarga, terdiri dari seorang ibu dan tiga anak yang tertimbun material longsor di dalam rumah. Di Kota Sibolga, longsor di enam titik menewaskan lima warga serta merusak belasan rumah. Sementara itu, seorang warga Tapanuli Selatan dilaporkan meninggal di Desa Hapesong Baru saat longsor menimpa sebuah rumah di wilayah tersebut.
Dampak Besar di Tapanuli dan Sibolga
Wilayah Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan menjadi lokasi dengan dampak paling berat. Banjir bandang merendam sejumlah desa seperti Garoga, Aek Ngadol, Hutagodang, Batuhoring dan Hapesong Baru. Menurut laporan lapangan, 34 warga mengalami luka ringan dan berat, dengan sebagian dirawat seadanya akibat akses medis yang terbatas.
Di Desa Batu Hula, posko dapur umum mulai didirikan untuk memenuhi kebutuhan para pengungsi. Sementara itu, alat berat dikerahkan untuk mencari empat warga yang masih tertimbun longsor di Batangtoru.
Sibolga juga menghadapi situasi serius. Selain longsor yang menewaskan warga, sedikitnya 17 rumah rusak berat, sedangkan empat warga lainnya diduga masih tertimbun material. Kondisi cuaca yang masih tidak stabil membuat proses pencarian harus dilakukan dengan sangat hati-hati.
Ratusan Rumah Terendam dan Akses Jalan Terputus
Di Mandailing Natal, banjir melanda Kecamatan Muara Batang Gadis hingga merendam ratusan rumah dan membuat 400 warga mengungsi. Di Tapanuli Utara, luapan Sungai Aek Mahassan menenggelamkan sekitar 60 rumah dan memicu longsor di dua titik yang menyebabkan satu keluarga terluka.
Beberapa ruas jalan antar kabupaten di Nias Selatan, Gunungsitoli dan Tapanuli Utara ikut terdampak. Material longsor berupa tanah dan batu menutup jalan hingga sepanjang 25 meter, membuat akses transportasi terhenti.
Polda Sumatera Utara mengerahkan empat satuan Brimob untuk membantu evakuasi, pencarian, serta pengaturan lalu lintas. Tim medis, telematika dan Samapta juga dikerahkan untuk memperkuat layanan kesehatan dan komunikasi.
BPBD Sumut telah melaporkan bencana ini ke BNPB untuk permintaan dukungan tambahan. Personel, tenda lapangan dan logistik sudah bergerak ke titik terdampak. Mengingat kondisi hujan yang masih tinggi, warga diminta menjauhi bantaran sungai dan lereng yang rawan longsor.
Referensi:
Tempo
DetikSumut