Review Film Wicked For Good: Drama, Musik, dan Konflik di Oz

Review Wicked: For Good menilai sekuel musikal ini sebagai penutup emosional dengan konflik politik, persahabatan, dan lagu baru yang menyentuh. (Foto: Dok. Universal Pictures/Wicked: For Good)

Review Wicked: For Good menilai sekuel musikal ini sebagai penutup emosional dengan konflik politik, persahabatan, dan lagu baru yang menyentuh

Wicked: For Good bukan sekadar bagian kedua dari kisah magis Oz — ia merupakan penutup emosional yang menghadirkan konflik batin, persahabatan retak, dan dinamika kekuasaan. Disutradarai oleh Jon M. Chu, film ini menyuguhkan nuansa yang jauh lebih gelap dibanding pendahulunya, sekaligus menampilkan pertumbuhan karakter yang sangat manusiawi.

Atmosfer yang Berbeda dari Wicked Pertama

Satu hal yang sangat terasa di Wicked: For Good adalah perubahan atmosfer. Jika film pertama (2024) banyak menonjolkan keajaiban, warna, dan gairah musikal di Land of Oz, maka sekuel ini memilih jalur kontras. Konflik politik, pemberontakan, drama keluarga, dan cinta segi banyak menjadi bagian besar dari narasi. Review dari CNN Indonesia menyebut bagaimana Jon M. Chu dan penulisnya berhasil menghadirkan babak yang lebih berat — “semua masalah yang sudah terpendam meledak” dalam durasi 137 menit.

Menurut detik.com, konflik utama berpusat pada persahabatan dan perpecahan Elphaba (Cynthia Erivo) dan Glinda (Ariana Grande). Elphaba hidup dalam pengasingan, sementara Glinda menjadi figur publik yang glamor di Emerald City. Hubungan mereka diuji oleh rasa bersalah, harapan, dan jalan hidup yang berbeda.

Penampilan Para Pemain Utama

Ariana Grande sebagai Glinda mendapat pujian lebih besar di film ini dibanding pertama. Review menyatakan bahwa Grande berhasil menggambarkan sisi rentan Glinda yang “people pleaser”, seseorang yang tersenyum meski hatinya tidak tenang. Ini sangat terlihat lewat lagu barunya, The Girl in the Bubble, yang dianggap sebagai momen paling rapuh dan emosional dari karakter tersebut.

Sementara itu, Cynthia Erivo kembali sebagai Elphaba dengan performa matang. Di sekuel ini, ia lebih banyak menampilkan sisi lembut dan perasaan yang sebelumnya tersembunyi. Chemistry antara Erivo dan Grande juga diapresiasi karena mampu menggambarkan persahabatan kompleks yang penuh cinta dan bekas luka.

Aktor pendukung seperti Jonathan Bailey (Fiyero), Jeff Goldblum, dan Michelle Yeoh juga mendapat sorotan. Bailey menghadirkan dinamika romantis dan emosional yang kuat, Goldblum tetap enerjik meski usia dewasa, dan Yeoh sebagai Madame Morrible tampil meyakinkan dengan aura kekuasaan dan manipulasi.

Musik dan Lagu Baru

Musik tetap menjadi jantung dari Wicked: For Good. IDN Times mencatat dua lagu baru: The Girl in the Bubble dan No Place Like Home. Walaupun For Good, lagu ikonik penutup, tetap hadir, menurut beberapa ulasan, versi film terasa lebih sederhana dibanding versi panggung. Namun, The Girl in the Bubble menerima pujian karena sifatnya yang melankolis dan menyentuh.

Media lokal seperti Republika menyoroti bagaimana musik dan akting disatukan untuk menampilkan emosi yang kuat. Lagu dan dialog musikal di film ini mampu menegaskan tema persahabatan, pengampunan, serta kejahatan dan citra publik di Oz.

Kritikan & Kekurangan

Meski banyak diapresiasi, Wicked: For Good juga mendapat kritik. IDN Times menyebut bahwa meski visual dan efek sinematik sangat menarik, beberapa lagu baru terasa kurang “magis” seperti lagu-lagu dari film pertama. Ada anggapan bahwa sekuel ini lebih menitikberatkan pada cerita daripada musikal, sehingga terasa berbeda dari ekspektasi fans musikal Broadway.

Menurut laporan dari media seperti Times Jakarta, skor Rotten Tomatoes untuk sekuel ini menurun dibanding film pertamanya: sekitar 72–71 persen, turun dari 88 persen film pertama. Penurunan ini menimbulkan pertanyaan tentang seberapa baik film ini mampu memadukan dramatisasi dan musik panggung.

Makna Sosial & Tema Besar

Selain konflik pribadi, Wicked: For Good juga menyentuh tema sosial yang relevan: diskriminasi, ketidakadilan, dan kekuasaan. Menurut ulasan dari Republika, film ini mengemas isu-isu tersebut dengan cara teatrikal, menjadikan Oz sebagai metafora untuk realitas yang kompleks. Chu disebut berhasil menyeimbangkan adegan spektakuler dengan muatan emosional dan pesan sosial yang mendalam.

Persahabatan Elphaba dan Glinda menjadi pondasi narasi kuat, bukan hanya sebagai kisah sahabat tetapi representasi bagaimana perbedaan dan perubahan bisa menyatukan. Konflik mereka juga mencerminkan bagaimana “kebaikan” dan “jahat” bukan hitam-putih — pesan ini terasa sangat manusiawi.

Produksi & Nilai Estetika

Sutradara Jon M. Chu mendapatkan pujian atas skala produksi besar film ini. Desain set, kostum, efek visual, dan koreografi dipuji karena membawa nuansa magis sekaligus dramatis. IDN Times menyoroti tata artistik dan set yang “berkelas”, dengan warna, pencahayaan, dan detail kostum yang menghadirkan dunia Oz versi lebih gelap tapi tetap memikat.

Referensi:
CNNIndonesia
IDN Times
Republika

📚 ️Baca Juga Seputar Film

Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Film Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia film — semua ada di sana!

✍️ Ditulis oleh: Fadjri Adhi Putra & Fahmi Fahrulrozi
📌 Editor: Redaksi Tren Media

Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.

📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral

Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!

BERITATERKAIT

BERITATERBARU

INSTAGRAMFEED