Jawa Tengah Jadi Provinsi Teratas dalam Sektor Wisata Indonesia
Meskipun Bali dikenal sebagai ikon pariwisata Indonesia dan magnet wisatawan mancanegara, provinsi lain di Indonesia justru mencatat pendapatan sektor wisata...
Read more
Dua wisatawan domestik di China ditahan oleh pihak kepolisian setelah melakukan aksi vandalisme di Tembok Besar China, salah satu situs warisan dunia yang dilindungi UNESCO. Tindakan tersebut dilakukan dengan mengukir nama di atas batu bata yang merupakan bagian dari struktur bersejarah tersebut.
Menurut laporan CNN Indonesia, insiden ini pertama kali diketahui oleh seorang staf dari Kota Air Gubei, sebuah area wisata terkenal yang terletak tidak jauh dari Beijing. Peristiwa itu terjadi pada hari Jumat, 3 Oktober 2025.
Aksi merusak situs bersejarah itu terjadi di bagian Simatai dari Tembok Besar China. Wilayah ini dikenal sebagai salah satu segmen yang masih mempertahankan struktur asli, menjadikannya populer di kalangan wisatawan lokal maupun mancanegara.
Menurut pemberitaan VN Express, staf dari lokasi wisata melaporkan bahwa dua wisatawan terlihat mengukir karakter di batu bata saat tengah berkunjung. Melihat hal tersebut, pihak pengelola tidak tinggal diam dan segera menghubungi aparat setempat.
Merespons laporan tersebut, kepolisian China langsung melakukan penyelidikan. Berdasarkan informasi dari media lokal China, Zaobao, aparat keamanan berhasil mengidentifikasi dan menangkap kedua tersangka pada keesokan harinya, yakni Sabtu pagi, 4 Oktober 2025.
Penyelidikan awal menunjukkan bahwa kedua pelaku tiba di kawasan wisata sekitar pukul 14.00 waktu setempat pada hari Jumat. Namun, tak lama setelah memasuki area Simatai, mereka tertangkap basah melakukan aksi tak terpuji tersebut.
Tembok Besar China adalah salah satu ikon arsitektur dunia yang telah berdiri sejak ribuan tahun lalu. Dengan panjang lebih dari 21.000 kilometer, struktur ini dibangun untuk melindungi wilayah kekaisaran China dari serangan musuh dan kini menjadi simbol sejarah dan budaya bangsa Tiongkok.
Sebagai situs warisan dunia UNESCO, Tembok Besar seharusnya mendapatkan perlakuan penuh hormat dari siapa pun yang mengunjunginya. Aksi vandalisme sekecil apa pun dapat merusak struktur asli dan mengganggu nilai historis yang terkandung di dalamnya.
Pemerintah China diketahui telah memberlakukan aturan yang sangat ketat terkait perlindungan situs sejarah. Pelanggaran terhadap situs budaya, seperti mencoret atau merusak bagian bangunan, dapat dikenakan sanksi hukum yang tegas, termasuk denda dan kurungan.
Tindakan dua wisatawan ini menjadi bukti bahwa kesadaran menjaga warisan budaya masih perlu ditingkatkan, bahkan di antara warga negara sendiri. Terlebih, Tembok Besar China bukan hanya simbol nasional, tetapi juga kekayaan dunia.
Insiden seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sebelumnya, Tembok Besar China juga menjadi korban vandalisme oleh wisatawan asing maupun domestik. Dalam beberapa kasus terdahulu, pelaku tertangkap karena mencoret nama atau simbol pada dinding tembok menggunakan alat tajam, batu, atau cat semprot.
Pihak pengelola dan aparat setempat secara rutin meningkatkan patroli dan pengawasan, terutama di titik-titik rawan pengunjung yang tinggi. Namun tetap saja, perilaku individu yang tidak bertanggung jawab kerap menjadi tantangan besar dalam menjaga kelestarian situs ini.
Aksi dua wisatawan ini menuai kecaman luas di media sosial Tiongkok. Banyak warganet menilai tindakan mereka sebagai memalukan dan tidak bertanggung jawab, terlebih karena dilakukan di objek wisata kelas dunia yang membawa nama baik negara.
Komentar seperti “malu sebagai sesama warga”, hingga “larangan seumur hidup masuk situs sejarah” banyak bermunculan sebagai bentuk kemarahan publik. Fenomena ini menunjukkan pentingnya edukasi publik tentang etika berwisata dan pelestarian situs bersejarah.
Kejadian ini menegaskan bahwa wisatawan tidak hanya butuh fasilitas yang baik, tetapi juga pemahaman tentang nilai budaya dan sejarah dari tempat yang mereka kunjungi. Peran pemerintah dan pelaku industri wisata sangat penting dalam meningkatkan kampanye etika berwisata.
Poster peringatan, edukasi digital, hingga pelatihan bagi pemandu wisata bisa menjadi langkah pencegahan agar kasus serupa tidak terulang. Pengunjung, baik lokal maupun mancanegara, diharapkan mampu menjaga sikap dan perilaku selama berada di lokasi-lokasi bersejarah.
Tindakan mengukir nama atau melakukan vandalisme di situs bersejarah tidak hanya merusak fisik bangunan, tetapi juga mencederai warisan budaya dunia. Setiap goresan bisa berarti kerugian jangka panjang terhadap pelestarian sejarah.
Kejadian ini menjadi pengingat penting bagi wisatawan untuk bertanggung jawab, tidak hanya menikmati keindahan situs sejarah, tetapi juga turut menjaganya untuk generasi mendatang.
Referensi: CNN Indonesia
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Travel Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia travel — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Instagram resmi memperbarui algoritmanya dengan fokus utama pada konten original. Perubahan ini berdampak langsung pada akun yang selama ini mengandalkan...
Instagram dikabarkan akan menghentikan fitur enkripsi end-to-end pada pesan langsung atau direct messages mulai 8 Mei 2026. Kebijakan ini memicu...