Libur Waisak 2026, CFD Jakarta Ditiadakan pada Minggu 31 Mei
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta resmi meniadakan kegiatan Hari Bebas Kendaraan Bermotor atau Car Free Day (CFD) pada Minggu 31 Mei...
Read more
Trotoar itu seharusnya jadi milik para pejalan kaki, tempat kita bisa melangkah santai tanpa perlu khawatir melebar ke badan jalan. Tapi di Jalan Margonda, Depok, kenyataannya agak berbeda. Trotoar di sana sering ‘diserobot’ oleh sepeda motor yang parkir seenaknya dan PKL yang menata dagangannya segampang itu.
Margonda itu semacam urat nadi kota—banyak orang berlalu-lalang, terutama mahasiswa dan pekerja. Sayangnya, trotoar yang seharusnya jadi ‘jalur aman’ itu malah jadi area parkir liar dan dagangan kaki lima. Coba bayangkan: kita ingin jalan kaki, tapi malah harus minggir karena penuh motor, gerobak, dan pedagang. Itu bikin aktivitas sekilas sederhana seperti berjalan kaki jadi ribet dan kadang berbahaya.
Beberapa warga bahkan cerita pernah ikut trauma: mau ke kampus atau kantor, trotoar ramai banget, akhirnya turun ke badan jalan. Sedangkan PKL dan motor itu jadi biang kemacetan, bukan sekadar obyek jualan.
Sebenarnya, pemerintah Depok sudah usaha menertibkan. Misalnya pada Juli 2024, ada penertiban besar-besaran: 42 motor bannya digembosi, tiga mobil digembok, dan ratusan kendaraan nongkrong di trotoar terima surat cinta berupa imbauan atau tilang
Tapi kendala terbesar masih soal konsistensi penindakan. Masih ada trotoar yang diserobot—apalagi yang dekat Balai Kota atau Mapolres. Padahal, itu fasilitas publik primer! Warga menyayangkan kondisi ini—apalagi kalau sudah dekat kantor pemerintahan, malah dibiarkan begitu saja. Bukannya jadi contoh, malah justru bikin malu daerah.
Kalau ditanya apa kerugian utama? Jelas akses pejalan kaki jadi terampas. Trotoar bukan cuma jalur fizikal, tapi juga simbol penghormatan terhadap mereka yang memilih berjalan kaki—entah karena kesehatan, hemat, atau tidak ngendarain kendaraan. Saat ruang itu dicaplok motor dan PKL, artinya hak dasar mereka jadi terabaikan.
Lebih parahnya lagi: parkir liar sering dikelola oleh juru parkir ilegal. Ini menambah potensi konflik—pejalan kaki bisa jadi sasaran premanisme berkedok parkir, atau malah dipalak sepintas. Itu bukan peristiwa aksi kriminal terbuka, tapi wujud dari pembiaran yang bikin ruang publik makin semrawut dan tak nyaman.
Sebenarnya pemerintah sudah bangun trotoar yang ideal—ramah disabilitas, lebar, dan rapi. Tapi sayangnya, trotoar yang mulus itu kemudian dimanipulasi fungsinya. Dari trotoar layak, jadi tempat dagang dan parkir. Ironis, ya? .
Revitalisasi ini seharusnya bikin lingkungan ramah pejalan kaki dan inklusif, tapi kalau fungsi dasarnya saja lupa dihormati, ya sulit untuk memberi pengalaman nyaman. Kondisi ini mencerminkan bahwa trotoar jadi korban budaya ‘mobilis’ yang lupa pentingnya fasilitas pejalan kaki.
Singkat cerita: warga berharap penertiban bukan cuma acara sekali lalu. Mereka butuh penegakan aturan yang rutin, bukannya cuma saat ada keluhan. Dishub, Satpol PP, semua seharusnya turun mulai pagi hingga malam. Kalau cuma paspetugas bengong melihat pelanggaran, ya jadi bikin kesel. Trotoar itu hak pejalan kaki, bukan pajangan saja.
Selain itu, ada juga yang berharap pemerintah membangun budaya baru: edukasi untuk pengendara motor, toko, dan PKL agar mulai menghargai trotoar sebagai zona aman pejalan kaki. Bukan sekadar razia lalu lupa.
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Nasional Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia nasional — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Momen Idul Adha memang selalu identik dengan stok daging kambing yang melimpah di rumah. Tapi jujur saja, kadang banyak orang...
Siapa yang langsung lapar hanya dengan membayangkan aroma tumisan babat yang pedas, manis, dan wangi kecap? Buat pecinta jeroan, babat...