GPT Generasi Terbaru Hadir, ChatGPT Kini Bisa Menampilkan Jawaban Interaktif
OpenAI Hadirkan Pengalaman Baru, ChatGPT Tak Lagi Sekadar Menjawab dengan Teks OpenAI menghadirkan pembaruan melalui GPT-6 yang membawa pengalaman baru...
Read more
Startup neuroteknologi asal Rusia, Neiry, mengklaim berhasil mengubah burung merpati hidup menjadi bio drone yang bisa dikendalikan manusia. Inovasi ini terdengar seperti adegan film fiksi ilmiah, namun perusahaan menyatakan telah melakukan uji coba penerbangan secara nyata.
Dalam pengumuman terbarunya, Neiry menyebut burung merpati bionik tersebut mampu mengikuti jalur terbang yang ditentukan komputer. Sistem kendali dilakukan melalui implan elektroda kecil yang ditanamkan di otak burung.
Peneliti memasukkan elektroda melalui tengkorak burung dan menghubungkannya dengan stimulator listrik yang dipasang di bagian kepala. Antarmuka ini memberikan stimulasi ringan ke area tertentu di otak sehingga burung terdorong untuk belok ke kiri atau kanan sesuai instruksi operator.
Saat tidak menerima sinyal, burung tetap menjalani aktivitas normalnya. Namun ketika sistem aktif, jalur terbang dapat diarahkan layaknya drone yang mengikuti panduan GPS.
Menurut pernyataan perusahaan, prosedur pemasangan implan dinilai aman dan tidak menimbulkan risiko tinggi terhadap kelangsungan hidup burung. Neiry juga mengklaim burung yang telah dioperasi dapat langsung digunakan setelah proses pemasangan selesai.
CEO Neiry, Alexander Panov, mengatakan kepada Bloomberg bahwa merpati bio drone ini berpotensi digunakan untuk pengawasan, inspeksi infrastruktur, serta mendukung misi pencarian dan penyelamatan atau SAR. Ia menegaskan teknologi tersebut dirancang untuk kebutuhan sipil, bukan militer.
Dari sisi teknis, keunggulan bio drone ini disebut lebih efisien dibandingkan drone quadcopter konvensional. Jika drone biasa rata rata hanya mampu terbang sekitar 30 menit, merpati dapat menjelajah hingga 483 kilometer dalam sehari. Operator juga tidak perlu mengkhawatirkan daya baterai karena burung bisa mencari makan sendiri.
Namun, inovasi ini memicu perdebatan etika. Neiry tidak hanya melatih burung, tetapi juga membatasi otonominya melalui implan saraf. Perusahaan menyebut telah berkonsultasi dengan pakar bioetika internal dan tidak menemukan pelanggaran serius.
Mereka berargumen bahwa pembatasan otonomi tersebut tidak jauh berbeda dengan manusia yang menunggangi kuda untuk bepergian.
Meski begitu, kritik tetap muncul dari kalangan akademisi. Nita Farahany, ahli bioetika dari Duke University, menilai pendekatan tersebut menimbulkan kekhawatiran moral.
“Setiap kali kita menggunakan implan saraf untuk mencoba mengendalikan dan mengatur spesies apa pun, rasanya menjijikkan,” kata Farahany kepada Bloomberg.
Perdebatan ini menunjukkan bahwa kemajuan neuroteknologi tidak hanya soal kemampuan teknis, tetapi juga menyangkut batas etika dalam memanfaatkan makhluk hidup sebagai bagian dari sistem teknologi.
Referensi:
Detik
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita IT Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia it — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Sekali Coba Bisa Ketagihan! Resep Ikan Nila Goreng Cabe Hijau yang Pedasnya Bikin Nagih Ada satu jenis lauk yang hampir...
Pernah merasa bingung menentukan lauk untuk bekal kerja atau makan siang di rumah? Rasanya ingin memasak sesuatu yang enak, tetapi...