Viral Tapir Nyasar di Lampung Berakhir Tragis, Polisi Amankan Empat Terduga Pelaku
Seekor tapir, satwa liar yang dilindungi, diduga dibunuh oleh sekelompok warga setelah sebelumnya viral karena terlihat berkeliaran di Jalan Lintas...
Read more
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi menaikkan status Gunung Anak Krakatau dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga). Keputusan tersebut diambil setelah hasil pemantauan menunjukkan adanya peningkatan aktivitas vulkanik yang cukup signifikan dalam beberapa waktu terakhir.
Menurut Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria, peningkatan status dilakukan berdasarkan hasil pengamatan visual maupun instrumental yang memperlihatkan perkembangan aktivitas gunung api di Selat Sunda, tepatnya di wilayah antara Provinsi Lampung dan Banten.
“Peningkatan aktivitas ini menunjukkan adanya suplai magma ke permukaan, sehingga masyarakat dan wisatawan diminta tidak mendekati kawah aktif dalam radius yang telah direkomendasikan,” kata Lana Saria.
Berdasarkan data dari Badan Geologi, peningkatan aktivitas ditandai dengan bertambahnya jumlah gempa vulkanik, perubahan deformasi tubuh gunung, serta aktivitas di permukaan yang mengindikasikan adanya pergerakan magma menuju bagian dangkal.
Selain itu, hasil pemantauan menggunakan alat tiltmeter di sejumlah stasiun pengamatan juga memperlihatkan kecenderungan inflasi. Kondisi tersebut menunjukkan adanya akumulasi tekanan di dalam tubuh Gunung Anak Krakatau yang berpotensi memicu peningkatan aktivitas erupsi.
Seiring kenaikan status menjadi Level III Siaga, Badan Geologi mengeluarkan rekomendasi terbaru bagi masyarakat, nelayan, maupun wisatawan agar tidak melakukan aktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau.
Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya mengurangi risiko apabila terjadi erupsi secara tiba-tiba, termasuk ancaman lontaran material pijar, abu vulkanik, hingga gas berbahaya yang dapat membahayakan keselamatan.
Menurut Badan Geologi, masyarakat yang berada di kawasan pesisir Selat Sunda juga diminta tetap tenang, namun meningkatkan kewaspadaan terhadap perkembangan aktivitas gunung api. Warga diimbau mengikuti informasi resmi dari pemerintah daerah maupun petugas pemantau gunung api.
Pemerintah daerah bersama instansi terkait juga telah diminta menyiapkan berbagai langkah mitigasi apabila aktivitas vulkanik kembali mengalami peningkatan. Koordinasi antarinstansi dinilai penting agar penanganan dapat dilakukan secara cepat jika terjadi perubahan kondisi di lapangan.
Gunung Anak Krakatau merupakan salah satu gunung api paling aktif di Indonesia yang terbentuk setelah letusan dahsyat Krakatau pada tahun 1883. Aktivitas vulkaniknya dipantau secara berkelanjutan karena berada di kawasan strategis yang berdekatan dengan jalur pelayaran dan wilayah permukiman di sekitar Selat Sunda.
Berdasarkan data dari Badan Geologi, pemantauan terhadap Gunung Anak Krakatau dilakukan selama 24 jam menggunakan jaringan seismik, alat deformasi, serta pengamatan visual. Sistem pemantauan tersebut bertujuan mendeteksi perubahan aktivitas sedini mungkin sehingga informasi dapat segera disampaikan kepada masyarakat sebagai langkah mitigasi bencana.
Referensi:
DetikNews
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Nasional Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia nasional — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
WhatsApp kini menghadirkan solusi yang memudahkan pengguna untuk menggunakan dua akun WhatsApp dalam satu ponsel tanpa harus memasang aplikasi tambahan....
Lenovo resmi memperkenalkan AI Student Phone, ponsel khusus anak yang dirancang untuk mendukung aktivitas belajar sekaligus memberikan pengawasan lebih ketat...