Honda NX500 Resmi Hadir dengan E-Clutch, Moge Adventure yang Ramah untuk Pemula
PT Astra Honda Motor (AHM) resmi menghadirkan Honda NX500 sebagai motor gede (moge) adventure touring terbaru di Indonesia. Salah satu...
Read more
Harga Pertamax akhirnya mengalami penyesuaian setelah bertahan selama beberapa bulan tanpa kenaikan. Pada pertengahan Juni 2026, harga bahan bakar nonsubsidi tersebut melonjak hampir Rp 4.000 per liter, memicu pertanyaan dari masyarakat mengenai kemungkinan penurunan harga dalam waktu dekat.
Menurut Juru Bicara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Dwi Anggia, peluang penurunan harga Pertamax tetap terbuka. Namun, hal itu sangat bergantung pada perkembangan harga minyak mentah di pasar global.
“Ketika harga minyak dunia turun, sudah bisa dipastikan harga BBM nonsubsidi juga akan turun,” kata Dwi Anggia, Juru Bicara Kementerian ESDM.
Pernyataan tersebut memberikan sinyal bahwa mekanisme penentuan harga BBM nonsubsidi masih mengikuti pergerakan harga energi internasional. Artinya, jika tekanan harga minyak global mulai mereda, maka penyesuaian harga ke arah yang lebih rendah juga memungkinkan terjadi.
Menurut Dwi Anggia, kenaikan harga BBM nonsubsidi bukan hanya terjadi di Indonesia. Banyak negara lain juga menghadapi kondisi serupa akibat fluktuasi harga minyak dunia yang semakin dinamis.
Ia menjelaskan bahwa badan usaha penyedia BBM harus menyesuaikan harga jual sesuai dengan nilai keekonomian. Ketika harga minyak mentah naik, biaya pengadaan bahan bakar ikut meningkat sehingga berdampak pada harga jual kepada konsumen.
Sebaliknya, apabila harga minyak dunia mengalami penurunan secara signifikan dan berkelanjutan, maka harga BBM nonsubsidi berpotensi kembali disesuaikan ke level yang lebih rendah.
Berdasarkan keterangan Kementerian ESDM, mekanisme ini menjadi bagian dari sistem harga pasar yang diterapkan untuk produk BBM nonsubsidi seperti Pertamax dan Pertamax Green 95.
Pada penyesuaian terbaru, Pertamax (RON 92) naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter. Sementara itu, Pertamax Green 95 (RON 95) meningkat dari Rp 12.900 menjadi Rp 17.000 per liter.
Kenaikan tersebut menjadi salah satu penyesuaian terbesar dalam beberapa tahun terakhir, terutama karena selisih harga yang mendekati Rp 4.000 per liter.
Di sisi lain, pemerintah memastikan BBM bersubsidi tidak mengalami kenaikan harga. Kebijakan ini dilakukan untuk menjaga daya beli masyarakat, khususnya kelompok berpenghasilan rendah yang sangat bergantung pada bahan bakar bersubsidi.
Menurut Dwi Anggia, pemerintah tetap berkomitmen mempertahankan harga BBM subsidi meskipun situasi geopolitik global masih penuh ketidakpastian.
“Inilah kebijakan Presiden untuk menjaga BBM subsidi tidak naik harganya, sesulit apapun kondisi geopolitik di luar sana, ini yang tetap dijaga,” ujar Dwi Anggia.
Dengan demikian, arah harga Pertamax dan produk BBM nonsubsidi lainnya dalam beberapa bulan mendatang akan sangat ditentukan oleh perkembangan harga minyak mentah dunia. Jika tren harga energi global mulai menurun, masyarakat berpeluang melihat penyesuaian harga BBM yang lebih rendah. Namun apabila harga minyak kembali naik, maka kenaikan lanjutan juga tetap menjadi kemungkinan yang harus diantisipasi.
Referensi:
DetikOto
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Otomotif Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia otomotif — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Di balik keindahan Laguna Venesia yang terkenal romantis dengan kanal-kanal air dan gondolanya, tersembunyi sebuah pulau kecil yang menyimpan salah...
Terletak di kota St. Francisville, Louisiana, berdiri sebuah rumah megah bergaya arsitektur Antebellum yang dikelilingi oleh pepohonan ek kuno berlapis...