Mengapa Sakit Hati Bisa Berujung Kekerasan, Belajar dari Kasus di UIN Suska Pekanbaru

Kasus pembacokan di UIN Suska Riau dipicu sakit hati karena cinta bertepuk sebelah tangan. Psikiater jelaskan bahaya emosi tak terkelola.

Kasus pembacokan di UIN Suska Riau dipicu sakit hati karena cinta bertepuk sebelah tangan

Kasus pembacokan mahasiswa di lingkungan kampus kembali menjadi sorotan. Peristiwa ini terjadi di Universitas Islam Negeri Sultan Syarief Kasim atau UIN Suska Riau, Pekanbaru, pada Kamis pagi yang mendadak berubah mencekam.

Seorang mahasiswa bernama Raihan Mufazzar (21) diduga membacok rekannya berinisial FAP (23) yang saat itu tengah menunggu sidang skripsi. Berdasarkan keterangan kepolisian, motif tindakan tersebut dipicu rasa sakit hati karena cinta bertepuk sebelah tangan.

Menurut Kasat Reskrim Polresta Pekanbaru AKP Anggi Rian, pelaku dan korban saling mengenal. “Antara korban dan pelaku ini mereka saling mengenal. Jadi pelaku ini dengan sengaja sudah punya niat mau menganiaya korban,” kata Anggi Rian.

Kasus ini bukan sekadar persoalan kriminal semata. Di baliknya, terdapat persoalan psikologis yang lebih dalam tentang bagaimana emosi yang tidak terkelola dapat berubah menjadi tindakan ekstrem.

Sakit Hati, Ruminasi, dan Risiko Kekerasan

Secara psikologis, rasa sakit hati bukan hanya emosi sesaat. Menurut dokter spesialis kesehatan jiwa dr Lahargo Kembaren, SpKJ, perasaan tersebut merupakan akumulasi pengalaman subjektif yang dirasakan seseorang sebagai sesuatu yang menyakitkan, tidak adil, atau mengancam harga diri.

“Ketika seseorang merasa sangat terluka atau diperlakukan tidak adil, reaksi emosi seperti marah, frustrasi, dan perasaan ingin mengembalikan keseimbangan bisa muncul,” kata dr Lahargo.

Ia menjelaskan bahwa kondisi ini dapat diperparah oleh proses yang disebut ruminasi, yaitu kecenderungan untuk terus mengulang kejadian negatif dalam pikiran. “Rasa ini bisa menjadi sangat kuat, sehingga pikirannya terus-menerus mengulang kejadian tersebut. Ini kemudian menyebabkan hubungan emosionalnya dengan peristiwa negatif itu justru diperkuat, bukan dilepaskan,” sambungnya.

Dalam situasi tertentu, kombinasi antara kemarahan yang intens dan kurangnya kemampuan regulasi emosi dapat mendorong seseorang melakukan tindakan yang tidak rasional. Menurut dr Lahargo, sebagian orang bisa beralih ke perilaku ekstrem sebagai cara maladaptif untuk meredakan emosi negatif.

“Misalnya melakukan kekerasan terhadap orang yang dianggap telah menghancurkan harga dirinya. Ini adalah pola yang sering dijelaskan dalam psikologi sebagai upaya maladaptif untuk meredakan emosi negatif,” jelasnya.

Di sinilah pentingnya manajemen emosi. Kemampuan mengelola perasaan marah, kecewa, dan frustrasi berperan besar dalam menentukan respons seseorang terhadap konflik pribadi.

Dr Lahargo menekankan bahwa pengalaman pahit seperti putus cinta sebenarnya dapat diolah menjadi energi positif. Dengan regulasi emosi yang baik, rasa sakit hati bisa diubah menjadi motivasi untuk memperbaiki diri, seperti menjaga kesehatan, fokus pada pendidikan atau karier, serta meningkatkan kemampuan sosial.

Kasus di UIN Suska Riau menjadi pengingat bahwa emosi yang tidak dipahami dan tidak dikelola dengan baik dapat berkembang menjadi tindakan yang merugikan banyak pihak. Pendekatan psikologis dan edukasi tentang kesehatan mental di lingkungan pendidikan menjadi penting untuk mencegah kejadian serupa.

Referensi:
detikcom

📚 ️Baca Juga Seputar Kesehatan

Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Kesehatan Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia kesehatan — semua ada di sana!

✍️ Ditulis oleh: Fadjri Adhi Putra & Fahmi Fahrulrozi
📌 Editor: Redaksi Tren Media

Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.

📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral

Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!

BERITATERKAIT

BERITATERBARU

INSTAGRAMFEED