Pasar PC global yang selama lebih dari satu dekade terbukti tangguh menghadapi perubahan teknologi kini menghadapi tantangan serius. Lonjakan kebutuhan pusat data berbasis kecerdasan buatan atau AI memicu krisis memori global yang mulai berdampak langsung pada harga PC dan laptop konsumen.
Berdasarkan laporan industri yang dikutip dari berbagai analis teknologi, harga RAM dan NAND atau SSD melonjak tajam dalam beberapa bulan terakhir akibat pasokan yang semakin ketat. Dampaknya lebih dulu terasa di pasar PC rakitan, di mana harga komponen meningkat signifikan, bahkan muncul kasus ekstrem perakit menjual PC tanpa RAM.
Kini, krisis tersebut mulai merambat ke produk jadi dari produsen besar. Sejumlah merek ternama seperti Lenovo, Dell, HP, Asus, dan Acer mulai melakukan penyesuaian strategi harga seiring tekanan pasokan memori yang berlanjut.
Menurut proyeksi TrendForce, harga memori diperkirakan kembali mengalami kenaikan tajam pada kuartal pertama 2026. Kondisi ini berpotensi mendorong harga jual laptop dan PC semakin tinggi. Tanda awal sudah terlihat pada ajang CES 2026, ketika beberapa produsen mulai memberi sinyal kenaikan harga produk.
Asus, misalnya, telah memberi tahu mitra distribusinya terkait rencana penyesuaian harga akibat kondisi pasar memori. Dell juga dilaporkan mengubah harga peluncuran XPS 14 dan XPS 16 hanya beberapa jam sebelum pengumuman resmi.
Lenovo memilih langkah berbeda dengan menimbun stok memori untuk menjaga pasokan sepanjang 2026. Sementara itu, HP memperingatkan potensi kenaikan harga dan kemungkinan konfigurasi RAM lebih rendah pada akhir tahun, meski perusahaan tersebut masih memiliki cadangan stok.
Dampak Krisis Memori pada Ekosistem PC
Menurunkan kapasitas RAM bukan solusi mudah bagi produsen. Windows 11 memang memiliki batas minimum 4 GB, namun performanya dinilai kurang optimal untuk penggunaan modern. Berdasarkan catatan TrendForce, laptop kelas entry-level sulit menurunkan kapasitas RAM karena keterbatasan sistem operasi dan tuntutan prosesor generasi terbaru.
Situasi ini datang di momen yang kurang ideal. Dukungan Windows 10 telah berakhir, dan banyak perusahaan sedang melakukan migrasi ke Windows 11 yang biasanya dibarengi dengan pembaruan perangkat. Momentum pemulihan pengiriman PC sepanjang 2025 terancam terhambat ketika stok memori mulai menipis.
Lebih jauh, krisis ini dinilai bukan sekadar masalah sementara. Menurut analisis IDC, kondisi tersebut mencerminkan pergeseran struktural di industri semikonduktor. Kapasitas produksi wafer kini lebih banyak dialokasikan untuk kebutuhan AI, terutama untuk memori HBM dan DDR5 berkapasitas tinggi yang digunakan di pusat data.
Produsen memori besar seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron semakin memprioritaskan segmen AI, sehingga pasokan untuk PC dan laptop konsumen menjadi terbatas. Dampaknya mulai terasa pula di pasar gaming PC. Perakit kecil yang tidak mampu menimbun RAM dan SSD diperkirakan paling terdampak, membuka peluang bagi OEM besar memperluas pangsa pasar.
Tekanan harga bahkan mulai menjalar ke GPU. Kartu grafis kelas atas dilaporkan dijual jauh di atas harga ritel resmi. Jika biaya merakit PC gaming terus meningkat sepanjang 2026, dampaknya bisa meluas hingga rencana konsol generasi berikutnya, termasuk Xbox dan PlayStation, yang juga bergantung pada komponen serupa.
Referensi: Detik