Sebuah video yang menampilkan tiga kreator konten asal Malaysia tengah menuai kecaman luas. Dalam rekaman tersebut, mereka memberikan nasi berisi tulang ayam bekas kepada seorang tunawisma, sambil mengklaim bahwa itu adalah aksi amal. Namun publik justru menilai tindakan itu sebagai penghinaan yang tidak manusiawi.
Alih-alih menuai simpati, video tersebut dianggap merendahkan martabat orang lain karena menjadikan seseorang yang sedang kesulitan sebagai bahan hiburan. Netizen menilai konten itu hanya bertujuan mencari popularitas dengan cara mengeksploitasi penderitaan orang yang seharusnya mendapatkan bantuan layak.
Kecaman tidak hanya datang dari masyarakat Malaysia, tetapi juga dari negara lain termasuk Indonesia, Singapura, dan Filipina. Warganet menyebut tindakan itu tidak mencerminkan empati, melainkan manipulasi rasa iba demi konten viral.
Aktivis sosial menegaskan bahwa membantu sesama seharusnya dilakukan dengan penuh rasa hormat. Memberikan makanan yang tidak pantas dan merekamnya untuk ditonton publik justru menghilangkan nilai kemanusiaan dari aksi sosial. Hal ini sekaligus menjadi kritik terhadap tren konten digital yang sering kali mengabaikan etika demi perhatian.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa media sosial bukan hanya ruang hiburan, tetapi juga ruang publik yang menuntut tanggung jawab moral. Konten yang merendahkan martabat orang lain wajar ditolak, sedangkan empati sejati seharusnya tidak membutuhkan sorotan kamera.