Cuti Bersama Idul Adha 2026 Dimulai Kapan? Ini Jadwal Libur Panjang yang Perlu Dicatat
Pemerintah resmi menetapkan jadwal libur nasional dan cuti bersama untuk perayaan Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah pada 2026. Informasi...
Read more
PT Pertamina (Persero) memperluas penggunaan teknologi Multistage Fracturing (MSF) sebagai strategi utama meningkatkan produksi minyak dan gas sekaligus menekan biaya operasional di sektor hulu. Berdasarkan data dari Pertamina, teknologi ini telah diimplementasikan dalam Project MSF yang dijalankan oleh PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) dan menjadi yang pertama diterapkan secara penuh oleh perusahaan migas nasional.
Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, menegaskan bahwa inovasi tersebut merupakan langkah strategis yang selaras dengan mandat pemerintah untuk mengakselerasi produksi energi nasional. Menurut Simon, Presiden Prabowo memberikan arahan kepada Kementerian ESDM, SKK Migas, dan Pertamina untuk memperkuat ketahanan energi melalui peningkatan produksi di hulu. “Pemerintah saat ini terus mendorong Pertamina untuk meningkatkan ketahanan dan kedaulatan energi, salah satunya adalah semakin agresif meningkatkan produksi di hulu,” kata Simon saat kunjungan kerja ke proyek MSF di Riau.
Simon menjelaskan bahwa bisnis hulu Pertamina harus semakin efisien dan produktif melalui pemanfaatan teknologi yang aman dan terukur. Ia menilai MSF membuka ruang peningkatan produksi secara berkelanjutan dan mampu memperluas peluang optimalisasi cadangan migas nasional. “Target tersebut akan terus diusahakan oleh Pertamina, di mana perusahaan akan melakukan banyak inisiatif agar produksi terus tumbuh,” ujar Simon.
Dukungan terhadap proyek MSF juga datang dari SKK Migas. Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, menyampaikan bahwa keberhasilan Pertamina menjadi pionir dalam MSF menunjukkan kapasitas nasional dalam menguasai teknologi hulu yang sebelumnya banyak didominasi perusahaan internasional. “Inovasi yang dilakukan Pertamina melalui teknologi Multistage Fracturing ini menjadi lompatan besar bagi industri hulu migas Indonesia. SKK Migas mendukung penuh langkah strategis peningkatan produksi untuk sekaligus memperkuat kemandirian teknologi dalam negeri,” kata Djoko.
Teknologi Multistage Fracturing sendiri merupakan metode rekahan berlapis di sumur horizontal. Dalam praktiknya, teknologi ini menciptakan beberapa rekahan di sepanjang jalur sumur untuk memaksimalkan penyaluran minyak dan gas dari reservoir, sehingga satu sumur horizontal dapat menghasilkan produksi yang lebih besar. Teknologi ini telah menjadi standar global di industri migas, dan penerapannya di Indonesia membuka peluang efisiensi baru bagi sektor hulu nasional.
Wakil Direktur Pertamina, Oki Muraza, menjelaskan bahwa penerapan MSF oleh PHR terbukti mampu menekan biaya sekaligus mempercepat proses pemboran serta komplesi sumur. Menurut Oki, efisiensi tersebut tercapai berkat penggunaan smart coiled tubing dan sistem one-run plug and perf di setiap tahapannya. “Konfigurasi ini menjadi yang pertama di Indonesia, menandai terobosan signifikan dalam efisiensi waktu, logistik, dan biaya operasi MSF,” ujar Oki.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan implementasi awal di tahun 2024 menjadi dasar pengembangan lanjutan sepanjang 2025 hingga 2026. Oki juga mengapresiasi kolaborasi lintas fungsi di internal Pertamina Group dalam menjalankan proyek ini. “Keberhasilan proyek ini menunjukkan kemampuan dan semangat inovasi anak bangsa dalam menguasai teknologi perminyakan berstandar global,” kata Oki.
Implementasi lanjutan dari teknologi MSF dilakukan pada sumur KB570 di Lapangan Kotabatak, Zona Rokan, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Menurut laporan PHR, target pengembangan sumur horizontal MSF pada 2025 mencakup beberapa sumur tambahan di Lapangan Kotabatak dan Balam South East. Pada 2026, cakupan pengembangannya diproyeksikan meluas ke Bangko dan sejumlah lapangan lain di bawah pengelolaan Pertamina Group.
Berdasarkan laporan operasional perusahaan, program Horizontal Multistage Fracturing (HZ MSF) ditargetkan terus bertambah setiap tahun. Luas area pengembangan juga akan meningkat seiring penguatan kapasitas teknis dan efisiensi pemboran. Pertamina menilai bahwa replikasi proyek MSF ke berbagai lapangan migas merupakan kunci untuk mendukung swasembada energi nasional.
Proyek MSF dinilai relevan dengan Asta Cita pemerintah yang menekankan penguatan ketahanan energi nasional. Pertamina menilai bahwa penggunaan teknologi rekahan berlapis ini dapat menjadi salah satu pilar utama peningkatan cadangan migas, terutama di wilayah yang telah lama mengalami penurunan produksi.
Pada tahap berikutnya, Pertamina menargetkan replikasi MSF ke lebih banyak wilayah operasi hulu pada 2026. Program ini diharapkan menjaga kualitas operasi tetap aman dan efisien, dengan tujuan memperkuat kemandirian teknologi serta mengurangi ketergantungan pada perusahaan asing.
Referensi:
CNNIndonesia
Referensi tambahan:
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Nasional Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia nasional — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Banyak orang langsung mundur duluan saat mendengar olahan daging kambing. Alasannya hampir selalu sama, takut bau prengus atau teksturnya alot...
Tidak ada yang lebih menggoda daripada semangkuk sop iga sapi hangat saat jam makan siang tiba. Aroma kuah kaldu yang...