Habiburokhman sedang jadi bahan perbincangan warganet setelah sebuah video singkat dirinya memasak mi instan, tapi yang memancing perhatian bukan cara masaknya saja—melainkan penggunaan gas subsidi 3 kg alias gas melon. Banyak yang bertanya-tanya: kok bisa, anggota DPR pakai gas yang diprioritaskan untuk masyarakat kurang mampu?
Unggahan itu dibagikan lewat akun Instagram resmi @habiburokhmanjkttimur pada Minggu, 17 Agustus lalu. Dalam video, ia asyik bercanda soal mi instan “goreng” yang ternyata direbus. “Mi goreng tapi direbus? Jangan-jangan zaman sekarang hoaks,” ujarnya ringan sambil menunjukkan adegan masak di dapur posko relawan. Suasana poskonya sendiri sederhana, ada persediaan sembako, dan suasana yang jauh dari aura formal gedung dewan.
Reaksi netizen langsung memenuhi kolom komentar: “Om Dewan kok pakai gas 3 kg, itu kan khusus orang miskin.” Banyak yang menyoroti inkonsistensi itu, apalagi di saat tunjangan dan fasilitas anggota DPR sedang menjadi isu hangat.
Menanggapi sorotan tersebut, Habiburokhman akhirnya buka suara saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Kamis, 21 Agustus. Dia menegaskan bahwa video itu tidak diambil di rumah pribadinya. Lokasinya di posko relawan daerah pemilihannya (dapil) di Jakarta Timur, yang ditempati oleh office boy bernama Pak Abu Bakar.
“Kami tidak tinggal di situ, bahkan tidak makan di situ sama sekali,” jelas Habiburokhman. Ia menuturkan bahwa gas melon yang digunakan memang milik office boy tersebut, yang menurutnya boleh membeli gas subsidi karena dari segi penghasilan belum tentu cukup untuk gas non-subsidi.
Habiburokhman menambahkan bahwa video itu hanyalah “konten”, yang diunggah bukan sebagai representasi gaya hidup pribadi, melainkan untuk hiburan ringan. Ia menyatakan menerima kritik masyarakat dengan terbuka, bahkan memberi contoh bahwa kritik serupa juga pernah menimpa Ketua DPR Puan Maharani hanya karena satu foto atau momen kecil.