Badan Hukum Partai Demokrat resmi melaporkan empat akun media sosial ke Polda Metro Jaya. Laporan ini berkaitan dengan unggahan yang menuding Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berada di balik isu ijazah palsu Presiden Joko Widodo.
Menurut anggota Badan Hukum Partai Demokrat, Muhajir, laporan tersebut merupakan tindak lanjut dari somasi yang dikirimkan pada 31 Desember 2025 namun tidak direspons para pemilik akun.
“Benar bahwa semalam kami membuat laporan di Polda Metro Jaya, sebagai tindak lanjut somasi kami tertanggal 31 Desember 2025 yang tidak diindahkan,” kata Muhajir.
Empat akun yang dilaporkan terdiri dari tiga akun YouTube, yaitu @AGRI FANANI, @Bang bOy YTN, @KajianOnline, serta satu akun TikTok @sudirowibudhiusmp. Dari lima akun yang sebelumnya disomasi, hanya akun Zulfan Lindan yang tidak dilaporkan lebih lanjut.
Muhajir menjelaskan, meski akun Kajian Online telah menyampaikan permintaan maaf, laporan tetap dilayangkan karena permintaan maaf tersebut disampaikan setelah melewati batas waktu 3 x 24 jam yang diberikan.
Laporan ini teregister melalui nomor LP/B/97/I/2026/SPKT/Polda Metro Jaya tertanggal 5 Januari 2026 sekitar pukul 23.16 WIB.
Polisi Mulai Dalami Laporan
Berdasarkan keterangan dari Polda Metro Jaya, laporan tersebut kini tengah ditangani oleh Direktorat Reserse Siber.
Menurut Kombes Budi Hermanto, pihak pelapor juga telah menyerahkan barang bukti berupa tangkapan layar video dari YouTube dan TikTok serta satu flashdisk berisi data digital.
“Benar, ada pelaporan dari seorang pengacara berinisial M yang melaporkan empat akun media sosial yang diduga menyebarkan berita bohong. Saat ini laporan tersebut ditangani oleh Direktorat Reserse Siber Polda Metro Jaya,” kata Budi Hermanto, Kabid Humas Polda Metro Jaya.
Polisi memastikan laporan akan diproses sesuai prosedur. Sementara itu, Partai Demokrat menilai tuduhan yang menyeret nama SBY sebagai pihak di balik isu ijazah Jokowi adalah tidak benar dan merugikan.
Polda Metro Jaya juga mengimbau publik untuk berhati-hati dalam menyebarkan informasi di dunia maya dan memastikan kebenaran data sebelum membagikannya.
Referensi: CNN Indonesia