Adu Kekuatan Militer Afghanistan dan Pakistan, Ini Fakta yang Terungkap

Afghanistan dan Pakistan saling serang setelah klaim pembalasan militer. Ledakan terjadi di Kabul dan dunia internasional serukan dialog. (Foto: Shutterstock)

Afghanistan dan Pakistan saling serang setelah klaim pembalasan militer

Ketegangan antara Afghanistan dan Pakistan meningkat tajam setelah kedua negara saling melancarkan serangan militer. Situasi ini memicu kekhawatiran akan perang terbuka di kawasan Asia Selatan yang selama ini memang diwarnai konflik perbatasan.

Militer Pakistan pada Jumat 27 Februari melancarkan serangan ke sejumlah kota di Afghanistan, termasuk Kabul dan Kandahar. Menurut pejabat tinggi Pakistan, operasi tersebut merupakan pembalasan atas serangan Taliban sebelumnya di wilayah perbatasan.

Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, sebelumnya menegaskan negaranya memiliki “kemampuan penuh untuk menghancurkan ambisi agresif apa pun”. Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja M Asif, bahkan menyatakan bahwa situasi kini telah berubah menjadi perang terbuka.

“Kesabaran kami telah habis. Sekarang ini adalah perang terbuka antara kami dan Anda,” kata Khawaja M Asif.

Di sisi lain, juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, menyatakan bahwa pihaknya telah merespons serangan tersebut. Seorang juru bicara militer Taliban mengatakan kepada BBC, “Kami akan membalas jika kami diserang, tapi kami tidak akan memulai bentrokan saat ini.”

Kronologi Serangan dan Klaim Kedua Pihak

Serangan Pakistan dikonfirmasi beberapa jam setelah Islamabad mengumumkan dua tentaranya tewas akibat operasi Taliban di sepanjang perbatasan. Pada dini hari, ledakan keras mengguncang Kabul sekitar pukul 01.50 waktu setempat, disertai suara jet tempur dan rentetan tembakan hingga menjelang pukul 02.30.

Menurut klaim pejabat Pakistan, serangan tersebut menghancurkan 27 pos militer Afghanistan. Juru bicara Perdana Menteri Pakistan, Mosharraf Zaidi, juga mengklaim pasukannya merebut sembilan pos Afghanistan serta menghancurkan lebih dari 80 tank, artileri, dan kendaraan lapis baja.

“Respons cepat dan efektif Pakistan terhadap agresi terus berlanjut,” tulis Zaidi melalui akun media sosialnya.

Sebaliknya, Kementerian Pertahanan Afghanistan menyatakan telah merebut 19 pos militer Pakistan dan dua pangkalan pada Kamis 26 Februari. Mereka juga mengklaim menewaskan 55 prajurit Pakistan. Namun, berbagai klaim tersebut sulit diverifikasi secara independen.

Sebelumnya, kedua negara sempat menyepakati gencatan senjata pada Oktober 2025. Meski demikian, kesepakatan tersebut dinilai rapuh dan bentrokan sporadis tetap terjadi.

Respons Internasional dan Arah Konflik

Situasi ini memicu perhatian dunia internasional. Mantan perwakilan khusus Amerika Serikat untuk rekonsiliasi Afghanistan, Zalmay Khalilzad, menyebut eskalasi tersebut sebagai dinamika mengerikan yang harus dihentikan.

“Pilihan yang lebih baik adalah kesepakatan diplomatik antara kedua negara yang tidak akan mengizinkan wilayahnya digunakan oleh individu dan kelompok untuk mengancam keamanan negara lain,” kata Khalilzad. Ia juga mengusulkan agar implementasi kesepakatan dipantau pihak ketiga seperti Turki.

Iran melalui Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyatakan kesediaan untuk memfasilitasi dialog antara kedua negara. Araghchi mendesak Afghanistan dan Pakistan menyelesaikan perbedaan melalui hubungan bertetangga yang baik dan dialog.

Arab Saudi juga terlibat dalam komunikasi diplomatik. Menteri Luar Negeri Saudi, Faisal bin Farhan Al Saud, dilaporkan berbicara melalui telepon dengan Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, membahas perkembangan kawasan dan upaya meredakan ketegangan.

Para analis menilai Taliban kemungkinan tidak akan terlibat dalam perang konvensional mengingat perbedaan signifikan dalam kapasitas militer. Pakistan, yang memiliki persenjataan nuklir, secara konsisten berada di jajaran atas kekuatan militer global. Sementara Taliban lebih dikenal dengan taktik perang gerilya seperti serangan mendadak dan bom pinggir jalan.

Sejumlah bentrokan sebelumnya menunjukkan pasukan Taliban cenderung menggunakan senjata ringan dalam menghadapi militer Pakistan. Namun pengalaman panjang mereka dalam perang asimetris menjadi faktor yang diperhitungkan dalam dinamika konflik ini.

Referensi:
BBC News

📚 ️Baca Juga Seputar Internasional

Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Internasional Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia internasional — semua ada di sana!

✍️ Ditulis oleh: Fadjri Adhi Putra & Fahmi Fahrulrozi
📌 Editor: Redaksi Tren Media

Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.

📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral

Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!

BERITATERKAIT

BERITATERBARU

INSTAGRAMFEED