Tinggalkan Gaji Tetap, Kreator Ini Sukses Bangun Bisnis Video AI
Jonathan Laramy, pria berusia 32 tahun, mengambil keputusan besar dengan meninggalkan pekerjaannya sebagai customer service untuk menjadi kreator video berbasis...
Read more
Meta kembali menghadapi sorotan serius terkait keamanan anak dan remaja di platform media sosial. Dalam persidangan perdana gugatan yang berlangsung di Oakland, California, perusahaan dituding lebih mengutamakan keuntungan bisnis dibanding perlindungan pengguna usia muda.
Gugatan tersebut diajukan oleh 29 negara bagian di Amerika Serikat dan dipelopori California, Colorado, Kentucky, serta New Jersey. Para penggugat menilai Meta sengaja merancang sejumlah fitur di Facebook dan Instagram yang dapat membuat pengguna, khususnya anak dan remaja, terus menggunakan platform dalam waktu lama.
Menurut Jaksa Agung California Rob Bonta, fitur seperti video auto-play dan infinite feed membuat pengguna terus menggulir konten tanpa henti. Ia juga menilai orang tua menjadi kesulitan menjalankan perannya ketika informasi mengenai keamanan platform dianggap tidak disampaikan secara terbuka.
“Para orang tua tidak bisa menjalankan perannya dalam melindungi anak jika mereka terus menerus dibohongi,” kata Rob Bonta, Jaksa Agung California.
Seorang mantan karyawan Meta yang memberikan kesaksian dalam persidangan juga disebut mengetahui bahwa perusahaan telah memahami adanya dampak buruk dari sejumlah fitur terhadap anak dan remaja. Menurut keterangan dalam persidangan, pengembangan fitur tetap dilakukan meski risiko terhadap pengguna muda telah menjadi perhatian internal.
Meta membantah anggapan bahwa perusahaan sengaja membuat produknya berbahaya. Pengacara Meta Paul Schmidt mengakui sebagian pengguna remaja dapat mengalami masalah kesehatan mental, tetapi menyatakan riset belum menunjukkan hubungan yang jelas antara penggunaan media sosial dan persoalan tersebut.
Schmidt juga menegaskan bahwa Mark Zuckerberg memiliki kepentingan untuk meningkatkan kualitas layanan. “Mereka tahu bisnis mereka tidak akan berhasil jika orang-orang tidak menyukai layanannya,” kata Paul Schmidt, pengacara Meta.
Para penggugat meminta perubahan besar terhadap cara Facebook dan Instagram beroperasi. Salah satu tuntutan yang diajukan adalah penghapusan fitur like dan infinite scroll yang dinilai mendorong pengguna untuk terus mengonsumsi konten.
Mereka juga meminta adanya batas waktu penggunaan untuk remaja serta penegakan aturan yang lebih ketat agar anak berusia di bawah 13 tahun tidak dapat mengakses platform.
Selain persoalan kesehatan dan keselamatan anak, perkara ini juga mencakup dugaan pelanggaran terhadap Children’s Online Privacy Protection Act atau COPPA. Para penggugat menilai Meta mengetahui adanya pengguna di bawah usia 13 tahun, tetapi tetap mengumpulkan data pribadi mereka tanpa izin orang tua.
Potensi sanksi dalam perkara ini sangat besar. Meta menyebut nilai denda yang mungkin muncul dapat mencapai US$1,4 triliun atau sekitar Rp25 kuadriliun. Namun, besaran tersebut masih bergantung pada proses hukum dan keputusan pengadilan.
Hakim Distrik AS Yvonne Gonzalez Rogers akan menentukan bentuk pertanggungjawaban Meta. Jika perusahaan dinyatakan bertanggung jawab, pengadilan dapat menjatuhkan sanksi perdata serta memerintahkan perubahan pada sistem Facebook dan Instagram.
Persidangan ini menjadi salah satu ujian hukum terbesar bagi Meta terkait dampak media sosial terhadap anak dan remaja. Reuters juga melaporkan bahwa perkara yang berlangsung di California tersebut melibatkan koalisi 29 negara bagian dan dapat memengaruhi cara perusahaan mengelola Facebook serta Instagram ke depan.
Referensi:
CNNIndonesia
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Internet Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia internet — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Jonathan Laramy, pria berusia 32 tahun, mengambil keputusan besar dengan meninggalkan pekerjaannya sebagai customer service untuk menjadi kreator video berbasis...
Penggunaan kecerdasan buatan atau AI di lingkungan perguruan tinggi terus meningkat. Kehadiran ChatGPT dan berbagai asisten AI memang memberikan kemudahan...