Mendidik anak bukanlah tugas yang mudah. Dalam situasi tertentu, rasa lelah, stres, atau emosi yang memuncak membuat sebagian orang tua tanpa sadar meluapkan kemarahan dengan membentak anak. Meski terlihat sebagai reaksi sesaat, kebiasaan ini ternyata dapat memberikan dampak yang lebih besar terhadap perkembangan psikologis anak.
Menurut informasi yang dikutip dari BetterHelp, bentakan yang terjadi secara berulang dapat dikategorikan sebagai bentuk kekerasan emosional. Dampaknya tidak hanya dirasakan dalam jangka pendek, tetapi juga berpotensi memengaruhi kondisi mental dan perilaku anak hingga dewasa.
Anak-anak masih berada dalam tahap belajar memahami emosi, membangun karakter, dan mengenali cara berkomunikasi dengan lingkungan sekitar. Karena itu, pola komunikasi yang diterapkan orang tua memiliki peran penting dalam membentuk kesehatan mental mereka.
Dampak Bentakan pada Psikologis Anak yang Perlu Diketahui Orang Tua
Meningkatkan Stres dan Kecemasan
Salah satu dampak paling umum dari bentakan adalah meningkatnya tingkat stres pada anak. Ketika sering menerima perlakuan keras, tubuh anak akan memproduksi hormon stres lebih banyak.
Akibatnya, anak dapat merasa selalu waspada dan takut melakukan kesalahan. Dalam jangka pendek, kondisi ini membuat anak lebih mudah cemas dan kesulitan merasa aman, bahkan ketika berada di rumah sendiri.
Memicu Perilaku Agresif
Anak belajar banyak hal dari contoh yang diberikan orang tua. Ketika komunikasi sehari-hari diwarnai bentakan dan kemarahan, anak bisa menganggap cara tersebut sebagai hal yang normal.
Berdasarkan penjelasan dari BetterHelp, kondisi ini dapat membuat anak lebih mudah marah, membentak orang lain, atau menunjukkan perilaku agresif kepada teman dan anggota keluarga.
Membuat Anak Menarik Diri
Tidak semua anak bereaksi dengan perlawanan saat dibentak. Sebagian justru memilih diam dan menghindari komunikasi.
Anak yang sering menerima bentakan dapat merasa bahwa perasaan dan pendapatnya tidak dihargai. Jika berlangsung terus-menerus, mereka berpotensi kehilangan kedekatan emosional dengan orang tua dan lebih memilih mencari tempat bercerita kepada orang lain.
Menurunkan Rasa Percaya Diri
Bentakan yang berulang dapat memengaruhi cara anak memandang dirinya sendiri. Mereka bisa tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya selalu salah, tidak cukup baik, atau tidak mampu memenuhi harapan keluarga.
Perasaan tersebut dapat berkembang menjadi masalah kepercayaan diri yang terbawa hingga dewasa. Dalam beberapa kasus, anak juga menjadi ragu mengambil keputusan karena takut melakukan kesalahan.
Mengganggu Kemampuan Sosial
Anak yang terbiasa mendapatkan perlakuan keras cenderung mengalami kesulitan saat membangun hubungan sosial yang sehat. Mereka mungkin lebih mudah terlibat konflik, sulit mengontrol emosi, atau kesulitan memahami batasan dalam hubungan dengan orang lain.
Menurut BetterHelp, sebagian anak bahkan dapat meniru pola komunikasi yang diterimanya dan melakukan perundungan kepada orang lain karena menganggap perilaku tersebut sebagai hal yang wajar.
Meningkatkan Risiko Masalah Kesehatan Mental
Dampak yang paling serius adalah meningkatnya risiko gangguan kesehatan mental. Anak yang sering mengalami kekerasan verbal memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami kecemasan, depresi, perilaku menyakiti diri sendiri, hingga pandangan negatif terhadap kehidupan.
Hubungan emosional yang terbentuk sejak masa kanak-kanak juga akan memengaruhi cara mereka membangun hubungan ketika dewasa nanti.
Karena itu, para ahli menekankan pentingnya menerapkan pola asuh positif dan komunikasi yang sehat di dalam keluarga. Anak tetap perlu memahami kesalahan yang dilakukan, tetapi proses pembelajaran tersebut sebaiknya dilakukan melalui arahan yang jelas, empati, dan dialog yang membangun, bukan melalui rasa takut akibat bentakan.
Dengan menciptakan lingkungan yang aman secara emosional, anak memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, sehat secara mental, dan mampu menjalin hubungan sosial yang baik.
Referensi:
CNN Indonesia