Sering Menghilang Tanpa Kabar? Ini Karakter Umum Pelaku Ghosting Menurut Psikolog

Ghosting bukan sekadar menghilang tanpa kabar. Kenali karakter dan kepribadian yang sering ditemukan pada pelaku ghosting.

Ghosting bukan sekadar menghilang tanpa kabar

Fenomena ghosting semakin sering dibicarakan dalam hubungan modern. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan tindakan seseorang yang tiba-tiba menghilang dari kehidupan orang lain tanpa memberikan penjelasan, baik dalam hubungan pertemanan maupun percintaan.

Bagi banyak orang, ghosting menjadi pengalaman yang menyakitkan karena meninggalkan tanda tanya besar. Korban sering kali tidak mengetahui alasan hubungan berakhir dan harus menghadapi kebingungan, kekecewaan, hingga kehilangan rasa percaya diri.

Berdasarkan data dari Cleveland Clinic, sekitar 25 persen orang dewasa mengaku pernah menjadi korban ghosting dari pasangan romantis mereka. Fakta ini menunjukkan bahwa perilaku tersebut bukan lagi kasus yang jarang terjadi dalam dinamika hubungan masa kini.

Menurut Susan Albers, psikolog dari Cleveland Clinic, penggunaan istilah ghosting mencerminkan bagaimana sebagian orang mulai menganggap perilaku tersebut sebagai cara yang normal untuk mengakhiri hubungan.

“Penamaan istilah ‘ghosting’ menyiratkan bahwa perilaku ini menjadi cara normal untuk mengakhiri hubungan yang sudah tak lagi Anda minati,” kata Susan Albers.

Karakter dan Kepribadian yang Sering Dimiliki Pelaku Ghosting

Meski setiap kasus memiliki latar belakang yang berbeda, para ahli melihat adanya beberapa pola kepribadian yang cukup sering ditemukan pada pelaku ghosting.

Tidak Mampu Menghadapi Konflik

Menurut Susan Albers, salah satu alasan utama seseorang melakukan ghosting adalah keinginan untuk menghindari konflik. Mereka merasa tidak nyaman menghadapi percakapan yang sulit atau berpotensi menimbulkan ketegangan emosional.

Baca Juga:  Tanda Orang Suka Playing Victim yang Sering Merusak Hubungan

Dalam banyak kasus, orang dengan karakter ini tumbuh di lingkungan yang menganggap konflik sebagai sesuatu yang harus dihindari. Akibatnya, mereka tidak terbiasa menyelesaikan masalah melalui komunikasi terbuka.

Cenderung Pasif Agresif

Pelaku ghosting juga sering menunjukkan pola perilaku pasif agresif. Mereka tidak secara langsung menyampaikan ketidaktertarikan atau keinginannya untuk mengakhiri hubungan.

“Mereka cenderung lari dari tanggung jawab yang membuat mereka tidak nyaman,” ujar Susan Albers.

Alih-alih berbicara secara jujur, mereka memilih menghilang dan membiarkan pihak lain menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi.

Lebih Mengutamakan Diri Sendiri

Karakter lain yang sering dikaitkan dengan ghosting adalah sikap egois. Pelaku biasanya lebih fokus pada kenyamanan emosional dirinya sendiri dibandingkan dampak yang dirasakan orang lain.

Mereka menganggap menghilang tanpa penjelasan sebagai jalan paling mudah untuk menghindari situasi yang tidak menyenangkan. Sayangnya, keputusan tersebut sering meninggalkan luka emosional bagi orang yang ditinggalkan.

Memiliki Tingkat Empati yang Rendah

Empati berperan penting dalam menjaga hubungan yang sehat. Namun pada sebagian pelaku ghosting, kemampuan memahami perasaan orang lain cenderung rendah.

Mereka sering tidak menyadari atau bahkan tidak memedulikan kecemasan, kesedihan, dan kebingungan yang muncul akibat tindakan mereka. Karena itu, menghilang dianggap sebagai pilihan yang lebih praktis dibandingkan memberikan penjelasan secara langsung.

Ragu-ragu dan Bertindak Impulsif

Tidak semua pelaku ghosting memiliki niat buruk. Dalam beberapa kasus, seseorang melakukan ghosting karena mengalami kebingungan terhadap perasaannya sendiri.

Baca Juga:  Bisakah Selingkuh Sembuh Ini Jawaban dan Risiko yang Harus Dipahami

Mereka bisa saja merasa tertarik pada seseorang hari ini, tetapi kemudian merasa kewalahan atau kehilangan minat dalam waktu singkat. Ketidakmampuan mengambil keputusan yang jelas membuat mereka memilih menghilang tanpa penjelasan.

Karakter ini biasanya ditandai dengan sikap ragu-ragu, terlalu banyak berpikir, atau bertindak berdasarkan dorongan sesaat.

Takut Bertanggung Jawab

Karakter terakhir yang sering ditemukan adalah ketakutan untuk bertanggung jawab atas konsekuensi emosional dari sebuah hubungan.

Pelaku ghosting umumnya tidak ingin dianggap sebagai pihak yang menyakiti orang lain. Mereka juga takut menghadapi reaksi negatif, pertanyaan, atau permintaan penjelasan dari pasangan maupun orang yang dekat dengan mereka.

Akibatnya, mereka memilih menutup komunikasi dan menghilang daripada menghadapi situasi yang dianggap sulit.

Dalam dunia psikologi hubungan, ghosting sering dipandang sebagai bentuk penghindaran komunikasi yang kurang sehat. Karena itu, komunikasi terbuka dan kemampuan menghadapi konflik secara dewasa menjadi keterampilan penting untuk membangun hubungan yang lebih sehat dan saling menghargai.

Referensi:
CNN Indonesia

📚 ️Baca Juga Seputar Gaya Hidup

Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Gaya Hidup Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia gaya hidup — semua ada di sana!

Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.

📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral

Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!

BERITATERKAIT

BERITATERBARU

INSTAGRAMFEED