Komet MAPS Hancur di Dekat Matahari, Ini Fakta Menarik di Baliknya

Komet MAPS hancur saat mendekati Matahari. Simak fakta menarik, asal usul, dan penjelasan ilmiah fenomena ini. (Foto: AI)

Komet MAPS hancur saat mendekati Matahari

Fenomena komet C/2026 A1 atau MAPS menjadi salah satu peristiwa astronomi yang paling dinantikan pada April 2026. Namun, harapan untuk menyaksikan komet ini justru berakhir dramatis setelah objek tersebut hancur saat mendekati Matahari.

Berdasarkan laporan yang dihimpun, komet ini mencapai titik terdekat dengan Matahari atau perihelion pada 4 April 2026 sekitar pukul 14.18 UTC atau 21.18 WIB. Pada momen itu, komet berada sangat dekat, yakni sekitar 160.000 kilometer dari permukaan Matahari.

Jarak tersebut tergolong ekstrem, bahkan kurang dari seperlima diameter Matahari yang mencapai sekitar 1,39 juta kilometer. Kondisi ini membuat komet tidak mampu bertahan dari panas dan gaya gravitasi yang sangat kuat.

Asal Usul dan Keunikan Komet MAPS

Komet MAPS pertama kali ditemukan pada 13 Januari 2026 oleh kelompok astronom amatir asal Prancis yang melakukan pengamatan dari San Pedro de Atacama, Chile. Nama MAPS sendiri merupakan singkatan dari nama para penemunya, yaitu Maury, Attard, Parrott, dan Signoret.

Sejak awal penemuan, komet ini sudah menarik perhatian ilmuwan. Menurut data pengamatan, kecerahan komet tergolong tidak biasa karena sudah mencapai magnitudo 18 meski masih berada pada jarak dua kali lipat jarak Bumi ke Matahari.

Komet ini termasuk dalam kelompok Komet Kreutz Sungrazer, yaitu komet yang memiliki orbit sangat dekat dengan Matahari. Berdasarkan data dari pengamatan astronomi, kelompok ini diyakini merupakan pecahan dari komet raksasa yang terbelah ratusan tahun lalu.

Menurut informasi dari EarthSky, komet MAPS diperkirakan terakhir kali memasuki wilayah dalam tata surya sekitar 1.700 hingga 1.886 tahun lalu. Hal ini membuat kemunculannya menjadi momen langka yang sangat dinantikan.

Astronom dari NASA Jet Propulsion Laboratory, Zdenek Sekanina, menduga komet ini memiliki hubungan dengan komet terang yang pernah terlihat pada siang hari pada tahun 363 Masehi di wilayah yang kini dikenal sebagai Antakya, Turki.

Selain itu, pengamatan menggunakan Teleskop Luar Angkasa James Webb pada Februari 2026 menunjukkan bahwa diameter inti komet sekitar 400 meter. Ukuran ini lebih kecil dari perkiraan awal yang mencapai 2,4 kilometer.

Tidak Mampu Bertahan dari Panas Ekstrem Matahari

Meski memiliki karakteristik menarik, komet MAPS tidak mampu bertahan saat mencapai perihelion. Paparan panas ekstrem serta tarikan gravitasi Matahari membuat struktur komet hancur.

Sebagai perbandingan, beberapa komet lain dalam kelompok yang sama justru mampu bertahan. Komet Ikeya Seki pada 1965 melintas dengan jarak sekitar 450.000 kilometer dari Matahari dan tetap bertahan. Sementara itu, Komet Lovejoy pada 2011 bahkan melintas lebih dekat, sekitar 140.000 kilometer, dan masih selamat.

Sebelum hancur, komet MAPS sempat menampilkan ciri khas berupa ekor kecil dan koma berwarna hijau. Warna tersebut berasal dari emisi karbon diatomik atau C2, gas yang umum ditemukan pada komet.

Setelah peristiwa kehancuran, sisa orbit komet ini tercatat berada pada jarak lebih dari 143 juta kilometer dari Bumi pada 5 hingga 6 April 2026.

Fenomena ini menjadi pengingat bahwa tidak semua komet mampu bertahan saat melintasi jalur ekstrem di dekat Matahari, meskipun sebelumnya menunjukkan potensi menjadi objek langit yang spektakuler.

Referensi:
CNN Indonesia

📚 ️Baca Juga Seputar Sains

Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Sains Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia sains — semua ada di sana!

✍️ Ditulis oleh: Fadjri Adhi Putra & Fahmi Fahrulrozi
📌 Editor: Redaksi Tren Media

Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.

📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral

Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!

BERITATERKAIT

BERITATERBARU

INSTAGRAMFEED