Perusahaan teknologi Meta dikabarkan tengah mempertimbangkan pemutusan hubungan kerja atau PHK besar besaran yang berpotensi memengaruhi lebih dari 20 persen total karyawan.
Rencana tersebut muncul di tengah strategi perusahaan untuk memperkuat investasi di bidang kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.
Menurut informasi dari beberapa sumber internal perusahaan, keputusan final mengenai jumlah karyawan yang akan terdampak masih belum ditetapkan.
Berdasarkan laporan yang beredar di kalangan industri teknologi, langkah tersebut dipertimbangkan untuk menyeimbangkan biaya besar yang dikeluarkan Meta dalam pembangunan infrastruktur AI.
Para petinggi perusahaan juga disebut telah menyampaikan rencana tersebut kepada para pemimpin senior di dalam organisasi.
Mereka diminta mulai merancang strategi untuk mengurangi pengeluaran perusahaan dalam beberapa waktu ke depan.
Menanggapi kabar tersebut, juru bicara Meta Andy Stone memberikan pernyataan singkat mengenai isu yang berkembang.
“Ini adalah laporan spekulatif mengenai pendekatan pendekatan teoretis,” kata Andy Stone, juru bicara Meta.
Jika rencana pengurangan karyawan mencapai lebih dari 20 persen, maka langkah tersebut akan menjadi gelombang PHK terbesar dalam sejarah Meta sejak program restrukturisasi yang dikenal sebagai Tahun Efisiensi.
Menurut data perusahaan, Meta mempekerjakan hampir 79.000 karyawan hingga 31 Desember tahun lalu.
Sebelumnya, perusahaan juga telah melakukan pengurangan tenaga kerja dalam jumlah besar.
Pada November 2022, Meta memberhentikan sekitar 11.000 karyawan, yang saat itu setara dengan sekitar 13 persen dari total tenaga kerja perusahaan.
Sekitar empat bulan kemudian, perusahaan kembali mengumumkan pemangkasan sekitar 10.000 posisi pekerjaan.
Fokus Mark Zuckerberg pada pengembangan kecerdasan buatan
Selama setahun terakhir, CEO Meta Mark Zuckerberg terus mendorong perusahaan untuk lebih agresif bersaing di bidang kecerdasan buatan generatif.
Perusahaan bahkan menawarkan paket kompensasi yang sangat besar untuk menarik para peneliti AI terbaik dunia.
Beberapa paket gaji tersebut dilaporkan mencapai ratusan juta dolar selama empat tahun, setara sekitar Rp1,69 triliun jika menggunakan estimasi kurs Rp16.900 per dolar AS.
Selain itu, Meta juga merencanakan investasi besar untuk membangun infrastruktur pusat data yang mendukung pengembangan AI.
Perusahaan mengumumkan rencana investasi hingga 600 miliar dolar AS atau sekitar Rp10,14 kuadriliun untuk pembangunan pusat data hingga tahun 2028.
Langkah ekspansi tersebut juga diperkuat melalui akuisisi sejumlah perusahaan teknologi.
Meta dilaporkan telah mengakuisisi Moltebook, sebuah platform jejaring sosial yang dirancang khusus untuk agen AI.
Selain itu, perusahaan juga disebut mengeluarkan setidaknya 2 miliar dolar AS atau sekitar Rp33,8 triliun untuk membeli startup AI asal China bernama Manus.
Mark Zuckerberg sebelumnya sempat menyinggung dampak efisiensi dari penggunaan teknologi AI dalam operasional perusahaan.
Menurutnya, perkembangan teknologi kecerdasan buatan memungkinkan pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan tim besar kini bisa diselesaikan oleh lebih sedikit orang.
“Saya mulai melihat proyek proyek yang dulu membutuhkan tim besar kini dapat diselesaikan oleh satu orang yang sangat berbakat,” kata Mark Zuckerberg.
Strategi yang dijalankan Meta ini mencerminkan tren yang lebih luas di industri teknologi Amerika Serikat.
Sejumlah perusahaan teknologi besar juga mulai melakukan restrukturisasi tenaga kerja seiring berkembangnya teknologi AI.
Sebagai contoh, perusahaan e commerce Amazon sebelumnya mengonfirmasi rencana pengurangan sekitar 16.000 pekerjaan, atau hampir 10 persen dari total tenaga kerjanya.
Sementara itu perusahaan fintech Block juga melakukan pemangkasan besar pada jumlah karyawan.
CEO Block Jack Dorsey secara terbuka menyebut bahwa perkembangan alat AI memungkinkan perusahaan mencapai hasil lebih besar dengan jumlah pekerja yang lebih sedikit.
Di sisi lain, investasi besar Meta dalam AI juga muncul setelah perusahaan menghadapi sejumlah tantangan dalam pengembangan model bahasa besar miliknya.
Model Llama 4 sebelumnya sempat mendapat kritik karena hasil pengujian awal dianggap menyesatkan.
Versi terbesar dari model tersebut yang diberi nama Behemoth bahkan akhirnya dibatalkan peluncurannya.
Pada tahun ini, tim superintelijen Meta tengah mencoba memulihkan reputasi perusahaan dengan mengembangkan model AI baru bernama Avocado.
Namun hingga saat ini kinerja model tersebut disebut masih belum memenuhi ekspektasi internal perusahaan.
Referensi:
CNNIndonesia