Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan atau Basarnas, Marsekal Madya TNI M Syafi’i, akhirnya meluruskan informasi mengenai data langkah kaki di smartwatch milik kopilot Farhan Gunawan, yang sempat mengundang perhatian publik. Data tersebut sebelumnya dikira merekam pergerakan setelah pesawat ATR 42-500 mengalami kecelakaan di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.
Berdasarkan keterangan Basarnas, data langkah yang tercatat di smartwatch Farhan bukan berasal dari waktu setelah kecelakaan pesawat. Menurut M Syafi’i, hasil pemeriksaan bersama Polda Sulawesi Selatan menunjukkan bahwa rekaman langkah tersebut merupakan data lama yang terekam beberapa bulan sebelum insiden terjadi.
“Setelah dibuka, ternyata rekaman itu berasal dari beberapa bulan lalu saat korban masih berada di Jogja dan sudah diklarifikasi,” kata M Syafi’i, Kepala Basarnas, usai rapat bersama Komisi V DPR di Kompleks Parlemen, Jakarta.
Awal Mula Informasi Smartwatch Aktif
Sebelumnya, keluarga kopilot Farhan Gunawan sempat menyampaikan bahwa smartwatch milik Farhan masih terhubung dengan ponselnya dan merekam 13.647 langkah kaki. Informasi tersebut disampaikan oleh Pitri Keandedes Hasibuan, kakak dari Dian Mulyana Hasibuan yang merupakan kekasih Farhan.
Menurut Pitri, ponsel milik Farhan telah ditemukan di kawasan Gunung Bulusaraung dan diserahkan oleh tim SAR kepada keluarga. Dari ponsel itulah diketahui smartwatch Farhan masih menunjukkan aktivitas pergerakan.
“Karena dari HP dia yang terhubung ke smartwatch-nya itu kan masih bergerak. Kemungkinan masih bisa dilacak,” ujar Pitri.
Harapan keluarga pun sempat muncul, mengingat data langkah tersebut diasumsikan sebagai tanda kemungkinan adanya pergerakan korban pascakecelakaan.
Penjelasan Basarnas dan Tim SAR
Namun demikian, Basarnas menegaskan bahwa tidak ditemukan tanda-tanda kehidupan di lokasi penemuan ponsel tersebut. Menurut Arman, Staf Search Mission Coordinator Basarnas, tim SAR tidak mendengar suara permintaan tolong maupun indikasi aktivitas manusia di sekitar lokasi.
“Tim kami yang menemukan barang tersebut tidak mendengar suara minta tolong atau pergerakan apa pun,” kata Arman.
Tim SAR saat itu dibagi menjadi dua kelompok, yakni tim yang berada di atas tebing dan tim yang menuruni tebing di lokasi jatuhnya pesawat. Meski dilakukan penyisiran intensif, tidak ada sinyal kehidupan yang terdeteksi.
Basarnas juga mengakui adanya aktivitas data pada smartwatch Farhan, namun menegaskan bahwa data tersebut tidak bisa langsung diartikan sebagai tanda korban masih hidup.
“Kami tidak bisa menyatakan itu tanda kehidupan. Untuk memastikan hidup atau tidak, kami belum bisa,” ujar Arman.
Klarifikasi Resmi dan Sikap Keluarga
Setelah dilakukan pembukaan data bersama pihak kepolisian, Basarnas memastikan bahwa data langkah tersebut berasal dari aktivitas lama Farhan saat masih berada di Yogyakarta. Informasi tersebut kemudian disampaikan secara langsung kepada pihak keluarga.
M Syafi’i menyampaikan bahwa keluarga telah menerima penjelasan tersebut dan memahami situasi yang terjadi.
“Dari pihak keluarga sudah memahami, dan kami juga memahami perasaan keluarga,” tuturnya.
Basarnas saat ini terus melanjutkan upaya pencarian dengan mengerahkan berbagai unsur, termasuk pesawat dan helikopter, sambil menunggu kondisi cuaca yang lebih mendukung di kawasan Gunung Bulusaraung.
Referensi: Detikcom