Harga Ayam Hidup Anjlok ke Rp15.000 per Kg, Peternak Kecil Terancam Gulung Tikar
Harga ayam hidup atau live bird di tingkat peternak mengalami penurunan tajam dalam beberapa pekan terakhir. Di sejumlah wilayah, harga...
Read more
Kecelakaan maut kembali terjadi di Tol Cipularang dan menewaskan satu orang pada Selasa, 2 Desember 2025 sekitar pukul 13.40 WIB. Berdasarkan keterangan dari laporan lapangan, insiden tersebut melibatkan kecelakaan beruntun yang dipicu oleh truk boks dengan rem blong. Selain korban meninggal dunia, lima orang lain mengalami luka-luka.
Menurut informasi yang dikutip dari keterangan pengemudi, truk boks tersebut dikemudikan oleh Rian Hidayat. Rian mengakui bahwa sejak sebelum kecelakaan, ia sudah merasakan adanya masalah pada rem kendaraannya. “Mobilnya enggak bisa ngerem, jadi memang penyebabnya ya mobil yang saya bawa,” kata Rian Hidayat.
Rian menyebut bahwa truk dalam kondisi kosong tanpa membawa muatan. Ia berangkat dari Bandung menuju Jakarta dan pertama kali merasakan gangguan rem di KM 116 Tol Cipularang. “Truk kosong, enggak bawa muatan. Jadi saya dari KM 116 itu memang sudah enggak bisa ngerem. Saya langsung buang ke kiri, tadi di jalur memang enggak ada tempat pembuangan yang di tol itu makanya langsung nabrak mobil di depannya,” ujarnya.
Menurut Sony Susmana, praktisi keselamatan berkendara sekaligus Director Training Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), kronologi kecelakaan tersebut menunjukkan adanya kelalaian besar dari pengemudi truk. Sony menilai bahwa seorang sopir seharusnya tidak memaksakan kendaraan tetap berjalan jika telah mengetahui adanya masalah fatal pada rem.
“Sebuah kelalaian besar dilakukan oleh pengemudi jika memaksakan kendaraannya tetap berjalan yang bermasalah dengan remnya. Pasti hanya tinggal tunggu waktu dan tempat untuk tabrakan,” kata Sony.
Sony menjelaskan bahwa pada kondisi jalan menurun seperti di Tol Cipularang, pengemudi truk wajib mengontrol kecepatan sejak awal. Cara yang dianjurkan adalah menurunkan gigi untuk menahan laju atau mengurangi kecepatan secara bertahap. Menurutnya, teknik ini sangat penting untuk memberikan ruang reaksi jika terjadi malfungsi kendaraan.
“Sehingga jika terjadi malfunction pada kendaraan-kendaraannya, si pengemudi memiliki waktu untuk bertindak dalam mengantisipasi kecelakaan,” jelasnya.
Selain itu, Sony juga menyarankan agar pengemudi truk memanfaatkan lajur kiri pada kondisi darurat. Lajur tersebut memberikan ruang gerak lebih aman jika pengemudi perlu melakukan manuver menghindar. “Pengemudi truk bisa membuang ke kiri, ruang kosong yang kemungkinan terjadinya korban jiwa sedikit. Jika ada gate rail pun dengan mudah diterabas oleh truk,” sebut Sony.
Analisis keselamatan ini menegaskan bahwa kecelakaan di Cipularang bukan hanya disebabkan faktor teknis, tetapi juga keputusan pengemudi yang tetap melanjutkan perjalanan meski mengetahui rem bermasalah.
Referensi:
DetikOto
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Nasional Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia nasional — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Masyarakat yang ingin menikmati suasana pantai di Jakarta kini memiliki kesempatan menarik. Menjelang perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-499 Kota...
Rumor mengenai keterlibatan Taylor Swift dalam film Toy Story 5 akhirnya mendapat tanggapan langsung dari pihak Pixar. Spekulasi yang sempat...