Batas Aman Makan Telur dalam Seminggu agar Kolesterol Tetap Terkontrol
Telur menjadi salah satu bahan makanan favorit banyak orang karena praktis diolah dan kaya nutrisi. Selain mengandung protein berkualitas tinggi,...
Read more
Format video pendek kini menjadi konsumsi harian banyak orang. Satu kali scroll terasa tidak cukup, lalu berlanjut tanpa terasa hingga hampir satu jam. Banyak orang kemudian merasa pusing, gelisah, atau sekadar tidak nyaman setelah menonton Reels, Shorts, atau TikTok. Berdasarkan temuan terbaru, sensasi tersebut bukan sekadar perasaan, melainkan reaksi alami dari otak yang menerima stimulasi cepat dan intens secara terus-menerus.
Menurut temuan ilmiah yang dianalisis dalam studi berjudul Feeds, Feelings, and Focus, ada pola yang menunjukkan bahwa konsumsi video pendek berlebihan mampu memengaruhi kemampuan otak, terutama fungsi perhatian. Studi ini mengolah data dari puluhan penelitian dengan hampir seratus ribu partisipan, menghasilkan gambaran konsisten mengenai dampak yang muncul akibat kebiasaan menggulir konten tanpa henti.
Penelitian tersebut menyebut bahwa semakin sering seseorang menonton video berdurasi singkat, semakin besar kemungkinan terjadi penurunan fokus, gangguan memori, dan melemahnya kontrol impuls. Aspek perhatian menjadi fungsi kognitif yang paling terdampak karena otak terus menerus menerima rangsangan cepat yang memicu lonjakan dopamin.
Format video pendek yang cepat, emosional, dan penuh kejutan membuat otak menantikan sensasi baru setiap beberapa detik. Jika dilakukan berulang, aktivitas yang membutuhkan konsentrasi lebih panjang seperti membaca, menulis, atau bekerja mendalam terasa lebih berat dan kurang menarik. Otak menjadi terbiasa pada pola hadiah instan sehingga kesulitan menyesuaikan diri dengan ritme yang lebih lambat.
Berdasarkan pola tersebut, efeknya tidak hanya dialami oleh remaja. Orang dewasa juga menunjukkan kerentanan tinggi karena mayoritas konsumsi video pendek berlangsung di sela aktivitas, saat istirahat, atau sebagai pelarian dari tekanan kerja.
Selain kemampuan fokus, konsumsi video pendek secara intens juga berkaitan dengan meningkatnya stres, kecemasan, depresi, hingga rasa kesepian. Banyak pengguna sebenarnya menonton untuk meringankan beban emosional, tetapi berakhir terjebak dalam lingkaran tidak sehat. Ketika stres meningkat, keinginan menggulir semakin kuat, sementara konsumsi berlebihan justru memperburuk kondisi emosional.
Gangguan tidur pun menjadi dampak umum lainnya. Menonton video pendek menjelang tidur, ditambah paparan cahaya biru dari layar, mengganggu ritme alami tubuh. Konten yang cepat dan stimulatif membuat otak tetap aktif sehingga proses relaksasi menjelang tidur tidak berjalan optimal. Kurang tidur pada akhirnya memengaruhi kejernihan berpikir dan dapat memperburuk suasana hati keesokan harinya.
Peneliti menyarankan agar pengguna mengenali tanda-tanda ketika otak mulai kewalahan, seperti hilang fokus, rasa gelisah setelah lama menggulir, dorongan terus menerus membuka aplikasi, atau kualitas tidur yang menurun. Ketika gejala itu muncul, memberikan jeda menjadi langkah penting. Mengurangi durasi menonton, menghindari penggunaan sebelum tidur, atau mengganti sebagian waktu layar dengan aktivitas yang lebih tenang dapat membantu memulihkan ritme alami otak.
Referensi:
CNN Indonesia
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Kesehatan Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia kesehatan — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Masyarakat yang ingin menikmati suasana pantai di Jakarta kini memiliki kesempatan menarik. Menjelang perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-499 Kota...
Rumor mengenai keterlibatan Taylor Swift dalam film Toy Story 5 akhirnya mendapat tanggapan langsung dari pihak Pixar. Spekulasi yang sempat...