Hukum Niat Puasa Ramadhan untuk Diet, Apakah Pahalanya Tetap Didapat
Niat merupakan fondasi utama dalam setiap ibadah, termasuk puasa Ramadhan. Sah atau tidaknya puasa sangat ditentukan oleh niat yang terpatri...
Read more
Bulan Ramadan identik dengan tradisi berburu takjil atau yang kerap disebut war takjil. Aneka gorengan seperti bakwan, risol, dan tahu isi yang baru matang sering kali terasa lebih menggoda dibanding hari biasa. Aroma khas minyak panas dan tekstur renyahnya seolah sulit ditolak setelah seharian menahan lapar dan haus.
Menurut spesialis gizi dr Nathania Sheryl Sutisna, SpGK, kondisi ini berkaitan dengan perubahan hormon saat berpuasa. Menurut dr Nathania, hormon lapar atau ghrelin meningkat ketika seseorang menahan makan dalam waktu lama.
“Hormon lapar atau ghrelin ini memang meningkat, jadi otak lebih peka terhadap makanan tinggi kalori,” kata dr Nathania Sheryl Sutisna, SpGK, saat dihubungi pada Jumat 20 Februari 2026.
Ia menjelaskan bahwa saat lapar, indra penciuman juga menjadi lebih sensitif. Akibatnya, makanan berlemak seperti gorengan tampak dan terbayang jauh lebih menarik dibanding biasanya.
Meski menggoda, konsumsi gorengan berlebihan saat berbuka bisa berdampak pada kesehatan, terutama jantung. Spesialis jantung dan pembuluh darah dr Yislam Aljaidi, SpJP FIHA, mengingatkan bahwa puasa sejatinya menjadi momen untuk memperbaiki metabolisme tubuh.
“Cuma masalahnya, ketika kita puasa terus kita pas berbuka itu makannya langsung lemak, gorengan, karbo tinggi. Habis itu minum jus buah gula banyak karbo lagi, gorengan risol karbo lagi, jam sembilannya makan nasi karbo lagi. Itu yang membuat nggak bagus,” kata dr Yislam Aljaidi, SpJP FIHA.
Menurut dia, pola berbuka yang didominasi lemak dan karbohidrat sederhana secara berlebihan dapat memicu lonjakan gula darah dan membebani kerja jantung. Terlebih jika dikombinasikan dengan minuman manis tinggi gula.
Karbohidrat sederhana atau simpleks cenderung cepat meningkatkan kadar gula darah. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan risiko gangguan metabolik dan penyakit jantung, terutama pada individu dengan faktor risiko seperti obesitas atau riwayat diabetes.
Sebagai solusi, dr Yislam menyarankan agar masyarakat mulai beralih ke karbohidrat kompleks. Jenis karbohidrat ini memiliki indeks glikemik lebih rendah sehingga tidak menyebabkan lonjakan gula darah secara drastis.
“Kalau yang kompleks misalnya nasinya diganti nasi merah atau beras basmati, itu indeks glikemiknya rendah. Jadi ketika makan, itu nggak langsung menaikkan gula darah pesat, tapi dia stabil,” jelasnya.
Selain memilih jenis karbohidrat yang tepat, penting juga untuk mengatur porsi. Gorengan masih bisa dikonsumsi, namun sebaiknya tidak menjadi menu utama dan tidak berlebihan. Mengawali berbuka dengan air putih dan makanan ringan yang tidak terlalu tinggi lemak dapat membantu tubuh beradaptasi setelah berpuasa.
Dalam konteks kesehatan jantung, menjaga keseimbangan asupan lemak, gula, dan karbohidrat menjadi kunci. Ramadan dapat menjadi momentum memperbaiki pola makan, bukan justru sebaliknya.
Kesadaran akan pilihan makanan saat berbuka diharapkan membantu masyarakat tetap menikmati suasana Ramadan tanpa mengorbankan kesehatan jantung dan metabolisme tubuh.
Referensi:
Detik.com
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Tips Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia tips — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Platform pembayaran digital global, PayPal, mengonfirmasi adanya insiden keamanan yang menyebabkan kebocoran data pribadi ratusan pengguna. Sejumlah akun dilaporkan terdampak...
Perusahaan teknologi global Cisco memperkenalkan chip switching terbaru bernama Silicon One G300 serta inovasi operasional berbasis AI yang disebut AgenticOps....