Waka MPR Eddy Soeparno Imbau Publik Tenang Soal BBM di Tengah Konflik Timur Tengah
Situasi geopolitik di Timur Tengah yang kembali memanas memicu kekhawatiran sebagian masyarakat mengenai pasokan bahan bakar minyak atau BBM di...
Read more
Melemahnya daya beli masyarakat Indonesia berdampak langsung pada industri otomotif nasional. Sepanjang 2025, penjualan mobil secara wholesales atau distribusi dari pabrik ke dealer tercatat turun 7,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Bahkan, untuk kategori mobil penumpang, penurunannya lebih dalam yakni mencapai 8,9 persen.
Data tersebut menunjukkan bahwa tekanan ekonomi terutama dirasakan oleh kelas menengah. Berdasarkan keterangan ekonom Josua Pardede yang ditemui di JIExpo Kemayoran, Jakarta, tren penurunan ini sudah berlangsung dalam tiga tahun terakhir.
“Jadi indikasinya adalah justru malah kalau kita lihat data dari leasing companies, pembiayaan untuk mobil baru itu mengalami penurunan, tapi kalau kita lihat pembiayaan untuk mobil bekas itu justru malah jauh lebih berkembang,” kata Josua Pardede.
Menurut Josua, fenomena ini mengarah pada gejala downtrading, yakni pergeseran pilihan konsumen dari produk baru ke produk yang lebih terjangkau. Pada 2024, indikasi tersebut mulai terlihat melalui perlambatan tajam pembiayaan kendaraan roda empat baru. Sementara itu, pembiayaan untuk mobil bekas masih mencatat pertumbuhan dan tren tersebut berlanjut hingga 2025.
“Jadi ini mengonfirmasi bahwa yang kelas menengah itu membelanjakan used car, nah menengah ke atas larinya ke EV,” ujar Josua.
Artinya, konsumen kelas menengah kini cenderung memilih mobil bekas sebagai solusi rasional di tengah keterbatasan daya beli. Di sisi lain, kelompok menengah atas justru beralih ke kendaraan listrik atau EV.
Salah satu segmen yang paling terdampak adalah Low Cost Green Car (LCGC). Penjualannya dilaporkan turun hingga sekitar 30 persen. Segmen ini sebelumnya menjadi tulang punggung pasar otomotif nasional karena menyasar kelas menengah dan menengah bawah.
“Dugaan kami sementara adalah, kalau kita bicara yang penjualan yang untuk segmen menengah ke bawah atau kelas menengah, karena dia terpengaruh atau menurunnya daya beli, masuk kepada used car, sehingga LCGC drop,” sebut Josua.
Peralihan ini ternyata juga berdampak pada nilai tambah industri otomotif dalam negeri. Meski segmen kendaraan listrik menunjukkan pertumbuhan, sebagian besar unit yang beredar masih berstatus impor utuh dari luar negeri. Kondisi tersebut membuat value added manufaktur dalam negeri tidak meningkat signifikan.
“Sehingga makanya value added untuk industri manufakturnya, khususnya otomotif, itu tidak besar. Makanya nanti harapannya, sebenarnya insentif diperlukan. Dan ini khususnya lagi kepada industri mobil listrik yang sudah ada pabrik,” kata Josua.
Dengan kata lain, industri otomotif nasional menghadapi tantangan ganda. Di satu sisi, daya beli melemah sehingga mobil baru kurang diminati. Di sisi lain, pertumbuhan kendaraan listrik belum sepenuhnya memberikan dampak maksimal bagi manufaktur domestik karena masih dominan impor.
Situasi ini menjadi sinyal penting bagi pelaku industri dan pemerintah untuk menyusun strategi yang tepat, terutama dalam menjaga daya beli masyarakat serta mendorong produksi kendaraan listrik berbasis manufaktur lokal.
Referensi:
\DetikOto
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Nasional Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia nasional — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Dunia hiburan Indonesia berduka. Penyanyi Vidi Aldiano meninggal dunia setelah menjalani perjuangan panjang melawan kanker selama enam tahun. Kabar wafatnya...
Kebersihan perangkat rumah tangga sering kali kurang diperhatikan, termasuk mesin cuci. Banyak orang menganggap alat ini tidak perlu dibersihkan karena...