Malaysia Ikuti Indonesia Blokir Grok AI, Konten Deepfake Jadi Sorotan Serius
Malaysia resmi membatasi akses ke platform kecerdasan buatan Grok milik Elon Musk pada Minggu (11/1). Kebijakan ini diambil hanya sehari...
Read more
Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini tidak lagi hanya dipakai untuk mencari informasi, belanja online, atau membantu pekerjaan harian. Di Indonesia, AI mulai memegang peran yang jauh lebih personal. Berdasarkan data dari Kaspersky, tiga dari sepuluh pengguna AI di Indonesia mengaku memilih berbicara dengan AI ketika merasa sedih atau sedang tidak bahagia.
Fenomena ini menunjukkan perubahan besar dalam cara masyarakat berinteraksi dengan teknologi. AI tidak lagi hanya dianggap sebagai alat bantu digital, tetapi juga teman curhat virtual, terutama di kalangan generasi muda. Banyak yang merasa AI selalu tersedia, cepat merespons, serta tidak menghakimi seperti halnya interaksi sosial di dunia nyata.
Menurut Kaspersky, minat terbesar datang dari kalangan Generasi Z dan milenial. Mereka sudah terbiasa hidup berdampingan dengan teknologi sehingga interaksi digital terasa lebih natural. Sementara itu, kelompok usia yang lebih tua menunjukkan minat jauh lebih rendah. Hanya sebagian kecil pengguna berusia di atas 55 tahun yang memilih AI sebagai tempat berbagi perasaan.
Kemampuan AI modern dalam memahami konteks percakapan membuatnya terasa semakin “manusiawi”. Model AI generatif kini mampu menyusun kalimat empatik, memberikan saran, hingga menenangkan pengguna. Hal ini membuat sebagian orang lebih nyaman berbicara dengan AI saat sedang tertekan atau kesepian.
Namun, para pakar mengingatkan bahwa curhat ke AI tidaklah sama dengan berbagi cerita kepada psikolog atau orang terdekat. Menurut Kaspersky, setiap percakapan dengan AI pada dasarnya bukan interaksi personal yang sepenuhnya aman. Banyak chatbot AI dimiliki oleh perusahaan komersial yang memiliki kebijakan penggunaan dan pengolahan data sendiri.
Vladislav Tushkanov, Manajer Grup di Kaspersky AI Technology Research Center, menjelaskan bahwa AI belajar dari data dalam jumlah besar yang sebagian besar berasal dari internet. “AI belajar dari data, sebagian besar berasal dari internet. Artinya, ia bisa mengulang bias, kesalahan, dan asumsi yang keliru. Pengguna perlu bersikap kritis dan tidak menganggap AI sebagai pengganti manusia,” kata Vladislav Tushkanov.
Di balik interaksi yang terlihat aman, percakapan emosional dengan AI berpotensi digunakan untuk berbagai kepentingan, seperti:
Menganalisis kondisi psikologis pengguna
Menyusun profil perilaku digital
Menargetkan iklan secara agresif
Manipulasi berbasis data emosi
Dalam kondisi terburuk, data ini bisa disalahgunakan untuk phishing, penipuan berbasis emosi, pemerasan digital, hingga penyalahgunaan identitas. Risiko meningkat apabila pengguna membagikan detail sensitif seperti identitas, informasi keluarga, alamat, atau masalah pribadi yang sangat detail.
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Ada masa-masa ketika nasi putih biasa terasa membosankan. Bukan karena tidak enak, tapi karena kita ingin sesuatu yang lebih “niat”...
Banyak dari kita pasti pernah berada di momen klasik ini. Isi dompet mulai menipis, stok bahan di kulkas terbatas, tapi...