Harga ayam hidup di tingkat peternak kembali menjadi sorotan setelah dilaporkan turun hingga kisaran Rp13.000 per kilogram di sejumlah wilayah. Nilai tersebut dinilai jauh di bawah biaya produksi sehingga membuat banyak peternak mengalami kerugian dan kesulitan menjaga keberlangsungan usahanya.
Menurut Asep Saepudin, peternak yang tergabung dalam Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (Permindo), penurunan harga telah berlangsung sejak April 2026 dan terus berlanjut hingga akhir Juni. Di beberapa daerah seperti Jawa Barat, harga ayam hidup bahkan berada di kisaran Rp13.000 hingga Rp14.000 per kilogram.
“Ini sudah jadi musibah bagi peternak. Di Jawa Barat sudah Rp13.000 sampai Rp14.000 per kilogram. Terburuk ini,” kata Asep.
Kondisi tersebut semakin berat karena harga pokok produksi (HPP) saat ini diperkirakan mencapai sekitar Rp22.000 hingga Rp23.000 per kilogram. Dengan selisih yang cukup besar, peternak harus menjual ayam jauh di bawah modal produksi.
Oversupply dan daya beli melemah jadi penyebab
Menurut Asep, salah satu faktor utama yang menekan harga adalah kelebihan pasokan ayam hidup di berbagai sentra produksi. Berdasarkan penjelasan Permindo, wilayah seperti Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Banten mengalami produksi yang melebihi kebutuhan pasar sehingga distribusi ayam antarwilayah semakin padat.
Ayam dari daerah yang mengalami kelebihan produksi dikirim ke provinsi lain untuk mencari pasar, namun kondisi tersebut justru membuat pasokan semakin melimpah dan harga terus tertekan.
Selain itu, daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih turut memengaruhi penyerapan produk di pasar. Akibatnya, banyak ayam masih tertahan di kandang karena permintaan tidak sebanding dengan jumlah produksi.
Peternak juga menghadapi dilema ketika harga terus turun. Jika ayam segera dijual, kerugian semakin besar karena harga berada di bawah biaya produksi. Namun jika dipelihara lebih lama, kebutuhan pakan meningkat sehingga biaya operasional ikut membengkak.
Menurut Asep, keterbatasan modal membuat sebagian besar peternak tidak memiliki banyak pilihan selain tetap menjual ayam meskipun harganya rendah.
Permindo juga mengusulkan agar pemerintah kembali memasukkan daging ayam dan telur ke dalam program bantuan sosial. Menurut organisasi tersebut, kebijakan itu pernah dilakukan sebelumnya dan dinilai mampu membantu menyerap produksi peternak.
Berdasarkan penjelasan Asep, apabila sekitar 1,5 juta penerima bantuan kembali memperoleh ayam sebagai bagian dari bansos, maka jutaan ekor ayam dapat terserap dalam satu kali penyaluran sehingga membantu menyeimbangkan pasokan di pasar.
Selain bantuan sosial, peternak meminta pemerintah memperkuat pengawasan terhadap produksi nasional, termasuk mengendalikan pembangunan kandang baru yang dinilai berpotensi memperbesar kelebihan pasokan.
Menurut Permindo, investasi di sektor perunggasan sebaiknya lebih diarahkan pada pembangunan industri pendukung seperti pabrik pakan dibandingkan penambahan kandang produksi. Langkah tersebut dinilai lebih mampu menjaga keseimbangan antara kapasitas produksi dengan kebutuhan pasar.
Di sisi lain, Badan Pangan Nasional (Bapanas) telah menetapkan harga acuan pembelian ayam hidup di tingkat peternak berada pada kisaran Rp21.000 hingga Rp25.000 per kilogram. Namun, harga di lapangan saat ini masih berada jauh di bawah rentang tersebut sehingga peternak berharap adanya langkah konkret untuk menstabilkan pasar dan melindungi usaha peternak mandiri.
Referensi:
detikFinance