Komet MAPS Hancur di Dekat Matahari, Ini Fakta Menarik di Baliknya
Fenomena komet C/2026 A1 atau MAPS menjadi salah satu peristiwa astronomi yang paling dinantikan pada April 2026. Namun, harapan untuk...
Read more
Fenomena La Nina dipastikan masih mempengaruhi cuaca di Indonesia hingga memasuki awal tahun mendatang. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa kondisi ini terukur melalui indeks ENSO yang menunjukkan anomali pendinginan di wilayah Pasifik tropis.
Berdasarkan data dari BMKG, indeks ENSO pada Dasarian III November tercatat di angka -0.80 yang menandakan fase La Nina Lemah. Kondisi ini membuat sebagian wilayah di Indonesia berpotensi mengalami peningkatan hujan tinggi hingga sangat tinggi, terutama di kawasan tengah dan timur.
Menurut BMKG, hujan dengan intensitas tinggi-sangat tinggi dapat melewati 150 mm per dasarian. Pola curah hujan seperti ini berpotensi mempengaruhi aktivitas masyarakat, terutama yang tinggal di wilayah rawan banjir dan longsor.
BMKG menyampaikan bahwa La Nina yang berlangsung pada akhir tahun ini diprediksi melemah secara bertahap. Pada periode Maret-April-Mei (MAM), indeks ENSO diproyeksikan turun hingga sekitar -0.07. Meskipun melemah, efeknya terhadap curah hujan tetap perlu diwaspadai karena terjadi bersamaan dengan fase IOD Negatif.
IOD atau Indian Ocean Dipole adalah fenomena yang menggambarkan perbedaan suhu permukaan laut antara Samudra Hindia barat dan timur. Pada Dasarian III November, indeks IOD tercatat -0.36 yang berarti berada pada fase negatif.
Menurut BMKG, kondisi IOD Negatif memicu masuknya aliran massa udara dari Samudra Hindia ke wilayah Indonesia bagian barat. Dampaknya adalah potensi hujan yang lebih tinggi pada sejumlah wilayah yang berada di jalur pergerakan massa udara tersebut.
Beberapa wilayah yang disebut berpotensi terdampak peningkatan curah hujan akibat La Nina meliputi Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, sebagian Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Maluku, Papua Tengah, serta sebagian kecil Papua Selatan.
Sementara itu, wilayah yang berpotensi terdampak meningkatnya curah hujan akibat IOD Negatif mencakup bagian kecil Aceh, sebagian Kalimantan Barat, Kepulauan Bangka Belitung, Banten bagian selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, sebagian kecil Jawa Timur, dan sebagian besar wilayah Bali.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyampaikan bahwa La Nina muncul bersamaan dengan puncak musim hujan. “La Nina lemah akan bertahan hingga awal tahun 2026, namun pada puncak musim hujan dampaknya terhadap penambahan curah hujan tidak terlalu signifikan. Meski begitu, curah hujan tinggi pada periode tersebut tetap perlu diwaspadai,” kata Faisal, dalam apel kesiapsiagaan bencana.
Saat ini, mayoritas wilayah Indonesia telah memasuki musim hujan. BMKG mencatat bahwa dari total 699 Zona Musim (ZOM), sebanyak 526 ZOM atau sekitar 75.3 persen sudah masuk periode hujan, sementara sisanya masih berada dalam musim kemarau atau merupakan wilayah dengan satu musim.
Referensi: CNN Indonesia
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Sains Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia sains — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Tim SAR gabungan akhirnya berhasil menemukan puing helikopter PK-CFX milik PT Matthew Air setelah melakukan pencarian intensif di wilayah Kabupaten...
Sebuah rekaman video memperlihatkan dua sejoli diduga bermesraan di dalam kedai Es Teh Indonesia cabang Kibin, dan menjadi perbincangan di...