Karhutla Kalimantan Makin Mengkhawatirkan, Komisi IV Desak Status Prioritas Nasional

Komisi IV DPR mendesak pemerintah menjadikan karhutla Kalimantan sebagai prioritas nasional setelah asap berdampak pada kesehatan, pendidikan dan ekonomi.

Komisi IV DPR mendesak pemerintah menjadikan karhutla Kalimantan sebagai prioritas nasional setelah asap berdampak pada kesehatan, pendidikan dan ekonomi

Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Kalimantan mendapat perhatian serius dari Komisi IV DPR RI. Meluasnya dampak kebakaran dinilai tidak lagi hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi sudah mengganggu kesehatan, pendidikan, transportasi hingga aktivitas ekonomi masyarakat.

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Alex Indra Lukman, mendesak pemerintah mengambil langkah luar biasa atau extraordinary untuk menangani kondisi tersebut. Menurut Alex, pemerintah perlu menjadikan penanganan karhutla Kalimantan sebagai prioritas nasional.

“Perluasan dampak ini tak lepas dari fenomena cuaca kering akibat fenomena El Nino yang puncaknya pada Agustus-September 2026 ini,” kata Alex Indra Lukman di Jakarta, Kamis (20/8/2026).

Alex menilai kondisi cuaca kering membuat ancaman kebakaran semakin besar. Karena itu, penanganan tidak cukup hanya dilakukan ketika kebakaran sudah meluas, tetapi harus diperkuat sejak tahap pencegahan dan deteksi dini.

Ribuan Titik Panas Terdeteksi di Kalimantan

Berdasarkan data yang dihimpun Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 19 Agustus 2026, terdapat 1.487 titik panas yang tersebar di wilayah Kalimantan.

Alex menyebut Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan konsentrasi titik panas tertinggi. Sebanyak 767 titik panas tercatat di Kalimantan Tengah, 441 titik di Kalimantan Barat, 315 titik di Kalimantan Tengah, 34 titik di Kalimantan Selatan dan 17 titik di Kalimantan Utara.

Dalam laporan tersebut juga disebutkan bahwa penyebaran titik panas terjadi hampir di setiap provinsi di Kalimantan. Kondisi ini membuat Kalimantan Tengah menjadi salah satu wilayah yang paling membutuhkan perhatian dalam penanganan karhutla.

Baca Juga:  Bekasi Masih Berguncang: 13 Gempa Susulan Muncul Setelah Gempa M4,7

Dampak kebakaran juga mulai terlihat pada kualitas udara. Menurut Alex, indeks kualitas udara atau AQI di Palangka Raya mencapai 487 pada 19 Agustus 2026. Angka tersebut masuk kategori berbahaya.

Kabut asap juga mengganggu aktivitas pendidikan. Dinas Pendidikan setempat disebut telah menunda jam masuk sekolah SD dan SMP hingga pukul 08.00 WIB. Sementara itu, kegiatan pembelajaran bagi anak usia PAUD dialihkan menjadi pembelajaran jarak jauh.

“Sedangkan jarak pandang di sejumlah wilayah turun drastis hingga 1,4 kilometer,” kata Alex.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa dampak karhutla sudah merambah berbagai aktivitas masyarakat. Gangguan jarak pandang dapat memengaruhi mobilitas dan transportasi, sedangkan kualitas udara yang buruk meningkatkan risiko terhadap kesehatan masyarakat.

DPR Soroti Luas Kebakaran dan Pencegahan Jangka Panjang

Salah satu daerah yang mendapat perhatian adalah Kabupaten Kotawaringin Barat atau Kobar, Kalimantan Tengah. Menurut Alex, pemerintah daerah bahkan memperpanjang status tanggap darurat karhutla hingga 4 September 2026.

Di wilayah tersebut, karhutla disebut telah menghanguskan 859,49 hektare lahan dalam 189 kejadian dengan 461 titik panas.

Kecamatan Arut Selatan dan Kumai menjadi wilayah yang mengalami dampak paling parah. Di Arut Selatan tercatat 98 kejadian karhutla yang melanda sekitar 180,475 hektare lahan dengan 226 titik panas. Sementara di Kumai terdapat 63 kejadian yang membakar sekitar 584,41 hektare lahan.

Alex juga mengingatkan pemerintah terhadap pengalaman Indonesia menghadapi El Nino pada 1997-1998. Saat itu, kebakaran melanda lebih dari sembilan juta hektare lahan di Kalimantan dan menjadi salah satu bencana lingkungan terbesar di Asia Tenggara pada abad ke-20.

Baca Juga:  Sidang Bergulir: Gibran Gugatan Rp 125 Triliun Disorot, Jejak Pendidikan di Luar Negeri Jadi Sorotan

“Penanganan Karhutla Kalimantan ini mesti segera jadi prioritas nasional,” kata Alex.

Menurut Alex, pemerintah perlu mengevaluasi total metode penanganan karhutla yang selama ini diterapkan. Ia merujuk data MapBiomas Fire yang menunjukkan bahwa pada periode kebakaran besar 2014, 2015 dan 2019, sekitar 61 persen kejadian karhutla berlangsung pada September hingga November dengan puncak pada Oktober.

Karena itu, penguatan deteksi dini dan patroli di wilayah rawan dinilai menjadi bagian penting dalam strategi pencegahan. Sistem peringatan dini berbasis satelit juga perlu terus ditingkatkan agar mampu mendeteksi potensi kebakaran secara lebih akurat.

Selain teknologi, Alex menilai masyarakat memiliki peran penting dalam mencegah kebakaran. Program Desa Peduli Api dan pelatihan alternatif pembukaan lahan tanpa membakar dinilai perlu diperluas, khususnya di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.

“Saya menegaskan mitigasi Karhutla Kalimantan membutuhkan pendekatan jangka panjang yang berfokus pada pencegahan, peningkatan kesejahteraan sosial-ekonomi dan tata kelola lahan berkelanjutan,” kata Alex.

Referensi:
CNN Indonesia

📚 ️Baca Juga Seputar Nasional

Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Nasional Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia nasional — semua ada di sana!

Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.

📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral

Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!

BERITATERKAIT

BERITATERBARU

INSTAGRAMFEED