Bolehkah Parfum Disemprot ke Leher? Ini Penjelasan Dokter Bedah Onkologi
Mitos yang menyebut parfum yang disemprotkan ke leher dapat menyebabkan kanker tiroid masih sering beredar di masyarakat. Namun, dokter menegaskan...
Read more
Tren olahraga Hyrox semakin diminati di berbagai negara, termasuk Indonesia. Namun, di balik popularitasnya, tim medis mengingatkan bahwa olahraga berintensitas tinggi ini memiliki risiko kesehatan yang tidak boleh dianggap remeh, termasuk potensi mengalami heat stroke meski kompetisi berlangsung di dalam ruangan.
Hyrox merupakan ajang kebugaran yang menggabungkan lari sejauh 8 kilometer dengan delapan tantangan fungsional yang harus diselesaikan secara berurutan. Tantangan tersebut meliputi sled push, sled pull, burpee broad jumps, rowing, farmer’s carry, sandbag lunges, hingga wall balls.
Kombinasi latihan kekuatan dan daya tahan tersebut membuat Hyrox membutuhkan kondisi fisik yang benar-benar prima. Peserta yang tidak menjalani persiapan memadai berisiko mengalami kelelahan berat sebelum mencapai garis akhir.
Menurut dokter spesialis olahraga dr. Antonius Andi Kurniawan, SpKO, SubspALK(K) yang juga menjadi bagian dari tim medis pada Hyrox Race Jakarta, banyak peserta datang dengan persiapan yang kurang optimal sehingga lebih rentan mengalami gangguan kesehatan selama perlombaan.
“FOMO atau fear of missing out boleh-boleh saja, tapi peserta benar-benar harus melakukan persiapan dan pelatihan yang tepat sebelum mengikuti Hyrox,” kata dr. Antonius Andi Kurniawan.
Hyrox Jakarta yang digelar di Tangerang, Banten, berhasil menarik ribuan peserta. Meski sebagian besar mampu menyelesaikan lomba, sejumlah peserta harus mendapatkan penanganan di area medis akibat kondisi fisik yang menurun selama kompetisi.
Menurut dr. Andi, salah satu risiko yang muncul adalah heat stroke atau gangguan akibat peningkatan suhu tubuh yang berlebihan.
“Dari persepsi saya, meskipun itu kejadian di dalam ruangan, tetap saja risiko heat stroke itu ada. Kemarin ada beberapa kasus heat stroke atau heat-related illness, di mana suhunya sangat tinggi,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa banyak orang beranggapan heat stroke hanya terjadi saat berolahraga di bawah terik matahari. Padahal, kondisi tersebut juga dapat muncul ketika tubuh menghasilkan panas dalam jumlah besar akibat aktivitas fisik yang sangat berat.
Pada Hyrox, peserta harus bergantian melakukan lari jarak jauh dan latihan beban dengan intensitas tinggi. Kombinasi tersebut membuat produksi panas tubuh meningkat secara signifikan. Jika tidak diimbangi dengan hidrasi yang cukup, kondisi fisik yang baik, dan strategi latihan yang tepat, tubuh akan kesulitan mengatur suhu internal sehingga risiko heat stroke meningkat.
Karena itu, dr. Andi mengingatkan masyarakat agar tidak sekadar mengikuti tren olahraga yang sedang populer tanpa mempertimbangkan kesiapan fisik.
Sebelum mengikuti Hyrox, peserta disarankan menjalani program latihan secara bertahap, menjaga asupan cairan sebelum dan selama aktivitas, serta mengenali tanda-tanda awal heat-related illness seperti pusing, mual, kram otot, denyut nadi meningkat, hingga penurunan kesadaran. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengurangi risiko cedera maupun gangguan kesehatan saat mengikuti kompetisi.
Referensi:
Detik Health
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Kesehatan Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia kesehatan — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Provinsi Jawa Barat tercatat sebagai daerah dengan jumlah laporan scam atau penipuan tertinggi di Indonesia berdasarkan data Indonesia Anti-Scam Centre...
Film animasi Minions and Monsters resmi tayang di bioskop Indonesia mulai 30 Juni 2026. Film berdurasi sekitar 1 jam 30...