Kesepian dan Depresi Lansia Jadi Tantangan Besar Saat Indonesia Memasuki Era Populasi Menua

Indonesia memasuki era populasi menua. Kesepian dan depresi pada lansia menjadi tantangan yang perlu ditangani untuk menjaga kualitas hidup.

Indonesia memasuki era populasi menua

Indonesia tengah memasuki fase aging population atau populasi menua. Seiring bertambahnya jumlah penduduk lanjut usia, muncul tantangan baru yang tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental, terutama kesepian dan depresi pada lansia.

Berdasarkan data Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 dari Badan Pusat Statistik (BPS), proporsi penduduk lansia di Indonesia telah mencapai 11,97 persen dari total populasi. Angka tersebut menunjukkan bahwa Indonesia sedang bergerak menuju struktur penduduk yang didominasi kelompok usia lanjut.

Menurut Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN), peningkatan jumlah lansia perlu diimbangi dengan berbagai program yang mampu menjaga kualitas hidup mereka agar tetap sehat, aktif, produktif, dan memiliki kehidupan sosial yang baik.

Salah satu persoalan yang kini menjadi perhatian adalah kesepian pada lansia, yang dalam banyak kasus berkaitan erat dengan munculnya depresi.

Kesepian dan Depresi Membentuk Lingkaran yang Sulit Diputus

Berdasarkan policy brief Kemendukbangga/BKKBN dan United Nations Population Fund (UNFPA) tahun 2024, prevalensi kesepian pada lansia di Indonesia mencapai 10,3 persen pada 2022.

Sementara itu, hasil Skrining Lansia Sederhana (Skilas) Kementerian Kesehatan tahun 2024 menunjukkan angka depresi pada lansia mencapai 64,4 persen.

Data tersebut memperlihatkan bahwa kesehatan mental menjadi isu yang semakin penting dalam menghadapi populasi menua. Menurut laporan tersebut, depresi lebih banyak ditemukan pada lansia perempuan, kelompok usia di atas 80 tahun, individu dengan tingkat pendidikan rendah, tinggal sendiri, atau belum menikah.

Temuan serupa juga terlihat dalam penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Ners tahun 2025 oleh Yuni Asri dan tim. Penelitian yang menggunakan data Indonesian Family Life Survey (IFLS-5) menemukan bahwa sekitar 11,2 persen lansia mengalami tingkat kesepian tinggi.

Beberapa faktor yang berkontribusi terhadap munculnya kesepian antara lain pendidikan rendah, ketidakpuasan terhadap kehidupan, hingga kualitas tidur yang buruk. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa lansia yang tinggal di Pulau Sumatra cenderung memiliki tingkat kesepian lebih rendah dibandingkan wilayah lain, menunjukkan bahwa lingkungan sosial dan budaya turut memengaruhi kondisi psikologis lansia.

Baca Juga:  Kenali Ciri Orang yang Minim Empati dan Enggan Mendengarkan Pendapat Orang Lain

Psikolog Arnold Lukito menjelaskan bahwa kesepian dan depresi memiliki hubungan yang sangat erat. Menurutnya, kedua kondisi tersebut sering kali membentuk lingkaran yang saling memperkuat.

“Akibatnya, lansia makin menarik diri, makin terisolasi, dan depresinya makin berat. Jadi, rasa kesepian sebetulnya tanda psikologis yang wajar, bukan kelemahan atau kekurangan,” kata Arnold Lukito.

Arnold mengutip teori dari John T. Cacioppo yang menyebut kesepian sebagai alarm biologis yang memberi sinyal bahwa seseorang membutuhkan hubungan sosial. Ketika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi dalam waktu lama, seseorang dapat mulai memandang lingkungan sosial sebagai ancaman dan memilih mengisolasi diri.

Dampak kesepian kronis juga tidak hanya berkaitan dengan kesehatan mental. Berdasarkan meta analisis Julianne Holt-Lunstad dan rekan-rekannya pada 2015, kesepian dan isolasi sosial dapat meningkatkan risiko kematian dini bahkan melebihi risiko obesitas.

Menurut Arnold, kesepian berkaitan dengan berbagai masalah kesehatan seperti tekanan darah tinggi, penyakit jantung, peradangan kronis, penurunan fungsi kognitif, hingga meningkatnya risiko demensia.

Kesendirian Tidak Selalu Berarti Kesepian

Banyak orang menganggap bahwa lansia yang tinggal bersama keluarga otomatis terhindar dari kesepian. Namun menurut Arnold, anggapan tersebut tidak selalu benar.

“Miskonsepsi yang sering terjadi adalah menyamakan kesepian dengan sendirian. Kesepian sifatnya subjektif, yaitu gap antara kedekatan yang seseorang butuhkan dan kedekatan yang benar-benar ia rasakan,” tutur Arnold.

Karena itu, seorang lansia yang tinggal bersama anak dan cucu tetap dapat merasa kesepian jika hubungan emosional yang terjalin tidak cukup kuat. Sebaliknya, ada pula lansia yang hidup sendiri namun tetap merasa bahagia karena memiliki jaringan sosial yang baik.

Baca Juga:  Tanda Otak Kiri Lebih Dominan dan Keunggulannya dalam Kehidupan Sehari-hari

Menurut Arnold, banyak lansia merasa kehilangan makna hidup setelah pensiun, kehilangan pasangan, atau ketika anak-anak mulai mandiri dan tinggal jauh dari rumah. Kondisi tersebut dapat diperparah oleh penurunan kesehatan fisik, keterbatasan mobilitas, serta gangguan penglihatan dan pendengaran.

Kelompok yang paling rentan mengalami kesepian dan depresi antara lain lansia yang baru kehilangan pasangan hidup, tinggal sendiri, memiliki penyakit kronis, atau merasa dirinya tidak lagi berguna bagi keluarga maupun lingkungan sekitar.

Untuk mengatasi masalah tersebut, Arnold menekankan pentingnya memberikan sense of purpose atau tujuan hidup kepada lansia. Menurutnya, berbagai aktivitas seperti berkebun, bertani, mengikuti komunitas, atau kegiatan sosial hanya akan efektif jika membuat lansia merasa tetap dibutuhkan dan memiliki peran.

Arnold mengingatkan keluarga agar tidak secara berlebihan mengambil alih semua tanggung jawab lansia dengan alasan kasih sayang. Menurutnya, tindakan tersebut justru dapat memicu rasa tidak berdaya.

“Padahal secara psikologis, itu bisa memicu apa yang Martin Seligman sebut sebagai learned helplessness atau ketidakberdayaan yang dipelajari. Saat pilihan dan peran dicabut dari seseorang, semangat hidupnya pun ikut padam,” ujar Arnold.

Karena itu, program dan komunitas lansia idealnya tidak hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi juga memberi kesempatan bagi para lansia untuk tetap berkontribusi, mengambil keputusan, dan merasa memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari.

Referensi:
CNN Indonesia

📚 ️Baca Juga Seputar Gaya Hidup

Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Gaya Hidup Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia gaya hidup — semua ada di sana!

Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.

📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral

Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!

BERITATERKAIT

BERITATERBARU

INSTAGRAMFEED