Memberi Pinjaman untuk Membantu, Bukan Mencari Keuntungan Dunia
Islam Mengajarkan Tolong-Menolong dalam Kesulitan Dalam kehidupan sehari-hari, tidak sedikit orang yang mengalami kesulitan keuangan. Ada yang membutuhkan biaya pengobatan,...
Read more
Banyak orang setiap hari berangkat bekerja sejak pagi hingga petang. Mereka menghabiskan tenaga, waktu, dan pikiran demi memenuhi kebutuhan keluarga.
Sebagian mungkin merasa lelah melihat gaji yang cepat habis untuk kebutuhan rumah tangga, biaya sekolah anak, kebutuhan dapur, tagihan listrik, hingga berbagai kebutuhan lainnya.
Namun seorang muslim perlu memahami bahwa nafkah yang dikeluarkan untuk keluarga bukanlah harta yang hilang.
Justru di sisi Allah, nafkah tersebut dapat berubah menjadi pahala yang besar dan keberkahan yang terus mengalir.
Islam memandang aktivitas mencari nafkah sebagai bagian dari ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar dan melalui jalan yang halal.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Satu dinar yang engkau keluarkan di jalan Allah, satu dinar yang engkau keluarkan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang engkau sedekahkan kepada orang miskin, dan satu dinar yang engkau nafkahkan kepada keluargamu. Yang paling besar pahalanya adalah yang engkau nafkahkan kepada keluargamu.”
(HR. Muslim No. 995)
Hadis ini menunjukkan betapa besarnya kedudukan nafkah kepada keluarga dalam Islam.
Bahkan dalam hadis tersebut, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa nafkah yang diberikan kepada keluarga memiliki pahala yang sangat besar apabila dilakukan dengan ikhlas karena Allah.
Karena keluarga adalah amanah yang Allah titipkan kepada seorang kepala rumah tangga.
Seorang suami memiliki tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan istri dan anak-anaknya.
Demikian pula seorang ayah berkewajiban memberikan makanan, pakaian, tempat tinggal, pendidikan, dan kebutuhan hidup yang layak bagi keluarganya.
Ketika seseorang menjalankan kewajiban tersebut dengan penuh tanggung jawab, maka setiap rupiah yang dikeluarkannya bernilai ibadah.
Membeli beras.
Membayar biaya sekolah.
Membelikan pakaian anak.
Membayar kebutuhan rumah tangga.
Semuanya dapat bernilai pahala apabila diniatkan karena Allah.
Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan:
“Nafkah kepada keluarga lebih utama daripada sedekah yang hukumnya sunnah.”
(Syarh Shahih Muslim)
Hal ini karena memberi nafkah kepada keluarga merupakan kewajiban, sedangkan banyak bentuk sedekah lainnya bersifat sunnah.
Islam mengajarkan agar seseorang mendahulukan kewajiban sebelum memperbanyak amalan sunnah.
Jangan sampai seseorang terlihat dermawan kepada orang lain, tetapi justru menelantarkan keluarganya sendiri.
Terkadang seorang ayah harus bekerja di bawah terik matahari.
Ada yang menjadi pedagang keliling.
Ada yang bekerja sebagai buruh.
Ada yang menjadi sopir.
Ada yang bekerja di kantor hingga larut malam.
Ada pula yang merantau jauh dari keluarga demi mencari penghasilan yang halal.
Jika semua itu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan keluarga dengan niat yang benar, maka setiap lelah yang dirasakan tidak akan sia-sia.
Allah Maha Mengetahui setiap tetes keringat yang keluar.
Allah melihat setiap perjuangan seorang hamba yang berusaha menjaga keluarganya dari meminta-minta kepada orang lain.
Islam tidak menilai kemuliaan seseorang dari jenis pekerjaannya.
Yang dinilai adalah kehalalan usaha dan ketakwaannya kepada Allah.
Seorang pedagang kecil yang jujur bisa lebih mulia di sisi Allah daripada orang yang memiliki jabatan tinggi tetapi memperoleh hartanya dengan cara yang haram.
Karena itu, jangan pernah malu mencari nafkah yang halal.
Tidak ada pekerjaan halal yang hina.
Yang hina adalah ketika seseorang memilih jalan haram padahal Allah telah membuka pintu rezeki yang halal.
Tujuan seorang muslim bukan hanya mendapatkan banyak uang, tetapi mendapatkan rezeki yang berkah.
Rezeki yang berkah akan menghadirkan ketenangan dalam rumah tangga.
Anak-anak tumbuh dengan baik.
Keluarga hidup dalam keberkahan.
Hati merasa cukup meskipun harta tidak berlimpah.
Keberkahan itu lahir dari ketakwaan, kejujuran, dan kesungguhan dalam mencari nafkah yang halal.
Wahai para pencari nafkah, jangan merasa sedih ketika sebagian besar gaji habis untuk keluarga.
Apa yang engkau keluarkan untuk istri dan anak-anakmu bukanlah kerugian.
Bukan pula harta yang hilang.
Di sisi Allah, itu adalah investasi akhirat yang akan berubah menjadi pahala dan keberkahan.
Teruslah bekerja dengan cara yang halal.
Luruskan niat karena Allah.
Jadikan setiap langkah mencari nafkah sebagai ibadah.
Semoga Allah memberkahi rezeki kita, melapangkan penghidupan keluarga kita, dan menjadikan setiap rupiah yang kita keluarkan untuk keluarga sebagai pemberat timbangan amal kebaikan di hari kiamat.
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Ibadah Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia ibadah — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Industri smartphone global diperkirakan menghadapi tantangan besar sepanjang 2026. Krisis pasokan chip memori yang terjadi secara global diproyeksikan menekan penjualan...
Pasar memori komputer kembali menjadi sorotan setelah sejumlah analis memperkirakan harga RAM akan terus mengalami tekanan hingga beberapa tahun ke...