Pemandangan yang Lebih Bermakna daripada Seribu Nasihat
Ketika Seorang Tunanetra Tetap Berjuang ke Masjid Demi Menjawab Panggilan Allah Di sebuah jalan sederhana, tampak seorang ibu mengantar putranya...
Read more
Sebagian orang memahami tawakal dengan cara yang keliru. Ada yang menganggap bahwa tawakal berarti pasrah tanpa usaha. Di sisi lain, ada pula yang begitu sibuk bekerja hingga melupakan bahwa seluruh rezeki sejatinya berasal dari Allah.
Islam datang dengan ajaran yang seimbang. Seorang muslim diperintahkan untuk bekerja, berusaha, mencari nafkah, dan menjemput rezeki dengan cara yang halal. Namun pada saat yang sama, hatinya harus tetap bergantung kepada Allah semata.
Karena itulah para ulama menjelaskan bahwa bekerja dan tawakal bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan saling melengkapi.
Diriwayatkan dari sebagian ulama bahwa:
“Barang siapa mencela usaha mencari penghidupan, maka sungguh ia telah mencela sesuatu yang termasuk sunnah. Dan barang siapa mencela tawakal, maka sungguh ia telah mencela sesuatu yang termasuk iman.”
Perkataan ini dinukil oleh Syaikh Shalih Al-Fauzan dalam kitab Al-Irsyad ila Shahihil I’tiqad.
Hal ini menunjukkan bahwa Islam tidak mengajarkan kemalasan. Para nabi, sahabat, dan orang-orang saleh semuanya bekerja dan memiliki profesi.
Nabi Nuh membuat kapal.
Nabi Dawud bekerja dengan tangannya sendiri.
Nabi Muhammad ﷺ menggembala kambing dan berdagang.
Mereka adalah manusia paling bertawakal, namun tetap berusaha.
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah mengaku bertawakal tetapi enggan bekerja.
Padahal tawakal yang benar harus disertai usaha.
Allah menciptakan dunia dengan hukum sebab dan akibat.
Jika ingin kenyang, seseorang harus makan.
Jika ingin memperoleh ilmu, seseorang harus belajar.
Jika ingin mendapatkan rezeki, seseorang harus bekerja.
Karena itu, tawakal bukan berarti meninggalkan sebab, tetapi melakukan sebab sambil menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Dalam riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma disebutkan bahwa dahulu sebagian penduduk Yaman berangkat berhaji tanpa membawa bekal.
Mereka mengatakan:
“Kami bertawakal kepada Allah.”
Namun ketika sampai di Makkah, mereka justru meminta-minta kepada manusia.
Lalu Allah menurunkan firman-Nya:
“Dan berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)
Kisah ini menjadi pelajaran bahwa tawakal tidak berarti meninggalkan persiapan dan usaha.
Seseorang tetap diperintahkan mengambil sebab yang diperbolehkan syariat, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki. Burung itu pergi pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.”
Perhatikan bahwa burung tidak berdiam diri di sarangnya.
Ia keluar mencari makan.
Ia berusaha.
Ia bergerak.
Namun hatinya tetap bergantung kepada Allah.
Inilah hakikat tawakal yang diajarkan Islam.
Sebagian orang bekerja keras siang dan malam.
Mereka yakin bahwa keberhasilan hanya hasil kecerdasan dan kerja keras pribadi.
Mereka lupa bahwa Allah adalah pemberi rezeki.
Padahal tanpa izin Allah, semua usaha bisa gagal.
Sebaliknya, ada orang yang usahanya sederhana tetapi Allah limpahkan keberkahan sehingga hidupnya tenang dan berkecukupan.
Karena itu, seorang muslim tidak boleh menggantungkan hati kepada pekerjaan, jabatan, bisnis, atau manusia.
Hati harus tetap bergantung kepada Allah.
Allah telah menjamin rezeki seluruh makhluk-Nya.
Namun jaminan tersebut tidak berarti manusia boleh bermalas-malasan.
Seorang petani tetap harus menanam.
Seorang pedagang tetap harus berdagang.
Seorang pekerja tetap harus bekerja.
Setelah itu, ia menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Jika berhasil, ia bersyukur.
Jika belum berhasil, ia bersabar dan terus berusaha.
Orang yang bertawakal akan lebih tenang menghadapi kehidupan.
Ia tidak mudah panik ketika kehilangan pekerjaan.
Ia tidak mudah putus asa ketika usaha mengalami kegagalan.
Ia tidak terlalu takut terhadap masa depan.
Karena ia yakin bahwa Allah yang mengatur seluruh urusannya.
Tawakal melahirkan ketenangan, keberanian, dan optimisme.
Sebaliknya, orang yang hanya bergantung kepada dirinya sendiri akan mudah dilanda kecemasan dan ketakutan.
Islam mengajarkan keseimbangan yang sempurna antara usaha dan tawakal.
Mencari nafkah adalah bagian dari sunnah.
Sedangkan tawakal adalah bagian dari iman.
Karena itu, seorang muslim tidak boleh meninggalkan salah satunya.
Bekerjalah dengan sungguh-sungguh.
Tempuh jalan yang halal.
Lakukan ikhtiar terbaik.
Kemudian serahkan seluruh hasilnya kepada Allah.
Sebab keberhasilan sejati bukan hanya banyaknya harta yang diperoleh, tetapi keberkahan yang Allah letakkan di dalamnya.
Dan keberkahan itu hanya akan diberikan kepada mereka yang menggabungkan usaha yang benar dengan tawakal yang benar kepada Allah.
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Ibadah Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia ibadah — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Kehadiran Grand Theft Auto VI atau GTA VI menjadi salah satu momen paling dinantikan dalam sejarah industri game. Meski Rockstar...
Bagi para gamer PC, tahun 2026 akan kembali dipenuhi berbagai festival dan diskon menarik di Steam. Valve telah mengumumkan kalender...