Bekal Makan Siang Misterius

BABAK I: BEKAL DI BANGKU BELAKANG

Pagi itu terasa sangat sunyi karena sahabatku tidak masuk sekolah akibat sakit. Di tengah hiruk-pikuk kantin yang bising saat jam makan siang, aku memilih berjalan-jalan di sekitar koridor belakang untuk mengusir rasa bosan. Di sanalah aku melihatnya, seorang gadis yang duduk sendirian di bangku beton bawah tangga, mengunyah isi kotak makan dengan pelan.

“Hai, siapa namamu?” tanyaku seraya mengambil tempat di sebelahnya.

Dia menghentikan aktivitasnya, lalu menatapku dengan sepasang mata yang tampak terlalu besar untuk wajahnya yang tirus. “Namaku Daisy,” jawabnya pelan, nyaris berbisik.

“Kenapa kau duduk di sini sendiri?”

“Aku anak baru di sini,” katanya seraya menunduk, meremas pinggiran rok seragamnya. “Aku baru pindah beberapa hari yang lalu dan tidak punya teman.”

Pandanganku beralih ke wadah plastik di pangkuannya yang berisi potongan daging tebal berwarna kecokelatan dengan aroma yang sangat menggugah selera. “Bekal yang imut. Apa kau membuatnya sendiri? Terlihat enak.”

“Tidak. Ibu yang membuatkanku bekal makan siang setiap hari,” sahutnya datar, tanpa ekspresi. “Mau mencobanya?”

Dia menyodorkan kotak itu ke arahku. Karena sungkan dan terdorong rasa lapar, aku mengambil sepotong kecil menggunakan garpu plastik miliknya. Saat daging itu menyentuh lidahku, rasa gurih yang kaya langsung meledak di mulut, teksturnya begitu lembut hingga rasanya meleleh tanpa perlu banyak dikunyah.

“Wow, rasanya enak sekali!” kataku jujur dengan mata melebar.

Daisy tersenyum lebar, sebuah senyuman yang entah mengapa membuat bulu kudukku sedikit merinding. “Benarkah? Terima kasih! Aku akan meminta ibuku untuk membuatkanmu bekal besok!”

BABAK II: UNDANGAN DI RUMAH JALUR TERPENCIL

Keesokan harinya, kepalaku dipenuhi oleh bayangan rasa daging panggang itu, membuatku berlari tidak sabar menuju bawah tangga saat jam makan siang tiba. Daisy sudah duduk di sana, memeluk sebuah kotak makan tambahan berwarna merah pudar yang langsung dia serahkan kepadaku begitu aku duduk.

Baca Juga:  Teror Jam Tiga Pagi

“Ini bekal yang ibuku buatkan khusus untukmu,” katanya dengan nada ceria yang terdengar dipaksakan.

“Terima kasih banyak!” Aku membuka tutupnya, dan seketika aroma gurih daging panggang yang pekat memenuhi rongga dadaku, membuat air liurku menetes. Tanpa ragu, aku menusuk potongan daging yang lebih besar dan mengunyahnya dengan rakus, menikmati setiap sesapan kaldu yang keluar dari serat-serat daging tersebut. Aku bahkan tidak terpikir untuk bertanya daging hewan apa yang sedang kukonsumsi saat itu.

“Apa kau mau main ke rumahku sepulang sekolah?” tanya Daisy tiba-tiba, matanya menatap lekat ke arah gerak bibirku yang sedang mengunyah.

“Tentu saja!” jawabku riang, tanpa menaruh curiga sedikit pun.

Sore itu, setelah menelepon ibuku untuk mengabarkan bahwa aku akan pulang terlambat, aku mengikuti Daisy berjalan kaki menembus area pinggiran kota. Rumahnya terletak sangat jauh dari pemukiman warga, berdiri kaku di ujung sebuah blok mati yang dikelilingi ilalang tinggi sepinggang. Bangunan itu tampak tua, dengan cat dinding yang mengelupas dan jendela-jendela yang tertutup rapat dari dalam.

Saat melangkah melewati pintu depan, sejenis bau asing langsung menyengat indra penciumanku; bau karat bercampur kelembapan yang busuk, mirip seperti aroma pasar daging yang ditinggalkan berhari-hari. Daisy terus berjalan tanpa terganggu, menuntunku melewati lorong gelap yang remang-remang langsung menuju ke area dapur.

Di dapur, bau busuk itu menjadi berkali-kali lipat lebih pekat, membuat perutku mendadak mual dan tenggorokanku tercekat hebat. Di atas meja kayu yang penuh bercak kecokelatan, Daisy berbalik dan menatapku dengan pandangan kosong yang mengerikan.

“Apa kau pernah memakan lidah?” tanya Daisy pelan, memecah kesunyian malam yang mulai turun di luar jendela.

“Lidah?” tanyaku dengan suara bergetar, jantungku mulai berdegup kencang karena rasa panik yang tiba-tiba menyerang.

Baca Juga:  Rekaman Terlarang dari Atas Panggung Balet

“Ya, lidah panggang,” Daisy tersenyum rata, memperlihatkan deretan giginya yang putih bersih. “Itu adalah bagian dengan rasa yang terbaik dari semuanya.”

“Tidak, terima kasih,” ujarku sambil melangkah mundur, keringat dingin mulai membasahi punggungku saat menyadari atmosfer rumah ini sama sekali tidak beres. “Mungkin… mungkin lebih baik kita makan daging biasa saja seperti yang kita makan tadi siang di sekolah.”

“Oke, tidak masalah,” jawab Daisy santai.

Dia berbalik membelakangiku, lalu menarik pintu sebuah kulkas dua pintu yang berkarat di sudut dapur. Seketika itu juga, gelombang bau busuk yang luar biasa menyengat keluar dari dalam sana, membuatku terbatuk-batuk hingga air mata meleleh. Namun, rasa mual itu mendadak lumpuh total oleh rasa horor yang mencengkeram seluruh sukmaku saat lampu kuning kulkas menerangi isinya.

Di dalam sana, tergantung di antara rak-rak yang berlumuran darah kental, terdapat setengah potongan tubuh manusia, seorang wanita paruh baya yang kulitnya sudah memucat kebiruan dengan luka sayatan rapi di bagian paha dan lengan. Sepasang matanya yang mati terbuka lebar, menatap lurus ke arahku dengan tatapan kosong yang membeku.

Daisy menoleh sedikit, wajahnya terdistorsi oleh kegelapan dapur saat dia berbisik dengan nada yang teramat riang.

“Oh, aku minta maaf. Aku lupa memperkenalkanmu dengan ibuku!”

Pintu dapur di belakangku mendadak berderit, menutup dengan sendirinya sebelum aku sempat membalikkan badan, meninggalkan aku terkunci di dalam kegelapan bersama Daisy dan sisa-sisa santapan siangku yang kini bergejolak hebat di dalam perut.

📚 ️Baca Juga Seputar Misteri

Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Misteri Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia misteri — semua ada di sana!

Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.

📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral

Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!

BERITATERKAIT

BERITATERBARU

INSTAGRAMFEED