Anak Kecil yang Mengenali Rahasia Langit, Pertemuan Aneh di Tengah Kota

Anak Kecil yang Mengenali Rahasia Langit

Retakan itu masih ada.

Tipis.

Samar.

Hampir tidak terlihat di antara kumpulan awan yang bergerak perlahan di atas kota.

Tidak ada seorang pun yang memperhatikannya.

Para pengendara tetap melintas. Pedagang kaki lima tetap menawarkan dagangan mereka. Anak-anak pulang sekolah sambil bercanda di pinggir jalan.

Namun perempuan itu tahu.

Retakan tersebut tidak seharusnya ada.

Selama ribuan tahun menjaga keseimbangan langit, ia tidak pernah melihat fenomena seperti itu.

Langit bukan kaca yang bisa pecah.

Bukan pula dinding yang dapat retak.

Jika sebuah celah muncul di sana, berarti sesuatu yang jauh lebih besar sedang terjadi.

Sesuatu yang berbahaya.

Ia masih berdiri di dekat halte tua ketika hembusan angin dingin kembali menyentuh wajahnya. Pandangannya terus menyapu keramaian, berharap menemukan anak perempuan yang beberapa menit lalu berbicara kepadanya.

“Kakak dari langit, ya?”

Kalimat itu terus terngiang di kepalanya.

Bagaimana seorang anak kecil bisa mengetahui rahasia yang bahkan tidak diketahui manusia mana pun?

Ia mencoba mengingat wajah anak tersebut.

Rambut pendek sebahu.

Gaun kuning sederhana.

Senyum yang terasa terlalu tenang untuk anak seusianya.

Tetapi semakin keras ia mencoba mengingat, semakin aneh perasaannya.

Seolah sosok itu tidak benar-benar berasal dari keramaian yang tadi ia lihat.


Sore mulai turun ketika langkahnya membawanya ke sebuah taman kota.

Tempat itu tidak terlalu ramai.

Hanya beberapa orang yang sedang berolahraga dan beberapa keluarga yang duduk menikmati udara sore.

Ia memilih duduk di bawah pohon besar yang berdiri di tengah taman.

Selama beberapa jam terakhir, ia telah melihat banyak hal yang tidak pernah dipahami sebelumnya.

Seorang ayah yang rela kehujanan demi melindungi anaknya.

Seorang penjual minuman yang tetap tersenyum meskipun dagangannya sepi.

Seorang petugas kebersihan yang bekerja tanpa diperhatikan siapa pun.

Di langit, para dewa selalu berbicara tentang kekuatan.

Tentang kekuasaan.

Tentang keseimbangan dunia.

Namun di bumi, manusia tampaknya bertahan hidup dengan sesuatu yang berbeda.

Kepedulian.

Kasih sayang.

Harapan.

Hal-hal yang selama ini dianggap tidak penting oleh para penghuni langit.

Sebuah suara tiba-tiba memecah lamunannya.

“Lagi melihat manusia?”

Baca Juga:  Senja di Tepian Aethelgard: Requiem untuk Memori yang Hilang

Perempuan itu langsung menoleh.

Seorang pria tua berdiri beberapa langkah darinya.

Rambutnya sudah memutih. Pakaiannya sederhana. Di tangannya terdapat sapu lidi yang tampak sudah cukup lama digunakan.

Dari seragam lusuh yang dikenakan, tampaknya ia adalah petugas kebersihan taman.

Namun ada sesuatu yang membuat perempuan itu langsung waspada.

Matanya.

Mata pria tersebut terasa berbeda.

Terlalu tajam.

Terlalu tenang.

Seolah sedang melihat sesuatu yang tidak dapat dilihat orang lain.

Pria itu tersenyum tipis.

“Lama sekali sejak terakhir kali aku melihat seseorang memandangi manusia seperti itu.”

Perempuan tersebut tidak menjawab.

Naluri yang tersisa dalam dirinya mulai memberi peringatan.

Pria tua itu duduk di bangku taman tanpa meminta izin.

Kemudian menatap langit.

“Aneh ya,” katanya pelan.

“Langit hari ini terlihat tidak sehat.”

Jantung perempuan itu berdegup lebih cepat.

“Anda tahu tentang retakan itu?”

Pria tua tersebut menoleh perlahan.

Senyumnya tidak berubah.

“Aku tidak bilang ada retakan.”

Suasana mendadak terasa lebih dingin.

Beberapa detik berlalu tanpa suara.

Kemudian pria itu tertawa kecil.

“Tenang saja. Aku hanya petugas kebersihan.”

Kalimat itu terdengar biasa.

Namun entah mengapa, perempuan tersebut merasa pria itu sedang menyembunyikan sesuatu.

Sebelum sempat bertanya lebih jauh, sebuah teriakan terdengar dari arah taman bermain.

Seorang anak laki-laki terjatuh dari permainan panjat.

Beberapa orang langsung berlari menghampiri.

Pria tua itu ikut berdiri.

“Manusia memang rapuh,” katanya sambil berjalan perlahan.

“Tetapi mereka selalu membuatku kagum.”

Perempuan tersebut memperhatikan pria itu hingga menghilang di balik pepohonan.

Ketika akhirnya ia mencoba mengikuti, sosok tersebut sudah tidak ada.

Seolah lenyap begitu saja.


Malam tiba lebih cepat dari biasanya.

Lampu-lampu kota mulai menyala.

Perempuan itu berjalan tanpa tujuan di antara trotoar yang mulai ramai oleh orang-orang yang pulang bekerja.

Di sebuah etalase toko, ia berhenti.

Untuk pertama kalinya sejak tiba di bumi, ia melihat pantulan dirinya dengan jelas.

Wajah yang sama.

Mata yang sama.

Namun ada sesuatu yang berbeda.

Ia terlihat lebih manusia.

Lebih rapuh.

Lebih hidup.

Tiba-tiba sebuah suara kecil terdengar dari belakang.

“Kakak akhirnya menemukannya?”

Tubuhnya langsung menegang.

Baca Juga:  Balada Kecepatan Statis: Detik Nol di Sektor 44

Ia mengenali suara itu.

Anak perempuan yang ditemuinya sebelumnya.

Perlahan ia berbalik.

Dan benar.

Anak itu berdiri di sana sambil membawa balon putih.

Kali ini senyumnya tidak berubah sedikit pun.

Seolah ia memang sudah menunggu.

“Siapa kamu?” tanya perempuan itu.

Anak tersebut memiringkan kepala.

“Kalau aku jawab sekarang, ceritanya jadi tidak seru.”

Perempuan itu semakin bingung.

“Kamu tahu siapa aku?”

Anak itu mengangguk.

“Kakak menjaga langit.”

“Bagaimana kamu tahu?”

Anak perempuan tersebut justru menatap ke arah atas.

Ke arah retakan tipis yang masih membelah langit malam.

Lalu senyumnya perlahan memudar.

Untuk pertama kalinya, wajahnya terlihat serius.

“Sebaiknya kakak cepat menemukan alasannya.”

“Alasan apa?”

“Kenapa langit mulai pecah.”

Angin malam mendadak berhenti.

Suara kendaraan terdengar jauh lebih pelan.

Bahkan udara di sekitar mereka terasa membeku.

Perempuan itu melangkah maju.

Namun tepat saat akan meraih bahu anak tersebut, lampu jalan di sekitar mereka berkedip serentak.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Saat cahaya kembali stabil, anak itu telah menghilang.

Tidak berlari.

Tidak berjalan pergi.

Benar-benar menghilang.

Yang tersisa hanya sebuah balon putih yang perlahan terbang ke langit.

Perempuan itu menatap balon tersebut hingga menjadi titik kecil di kejauhan.

Kemudian sesuatu terjadi.

Retakan di langit bertambah panjang.

Sangat sedikit.

Namun cukup untuk membuat wajahnya pucat.

Karena dari celah itu, untuk sesaat, muncul cahaya merah yang tidak pernah seharusnya terlihat dari dunia manusia.

Dan jauh di balik retakan tersebut, ada sesuatu yang sedang bergerak.

Sesuatu yang sedang mencoba keluar.

(Bersambung…)

PREVIEW EPISODE BERIKUTNYA

Retakan langit semakin membesar. Sementara itu, perempuan misterius tersebut mulai menyadari bahwa beberapa manusia ternyata mampu melihat hal-hal yang tidak bisa dilihat orang lain. Salah satunya mungkin adalah pria tua penjaga taman yang tampaknya mengetahui lebih banyak daripada yang ia akui.

📚 ️Baca Juga Seputar Ruang Imajinasi

Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Ruang Imajinasi Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia ruang imajinasi — semua ada di sana!

Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.

📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral

Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!

BERITATERKAIT

BERITATERBARU

INSTAGRAMFEED