Telur Dadar Campur Tepung Apakah Mengurangi Gizi? Ini Penjelasan Lengkapnya

Telur dadar yang dicampur tepung belum tentu kehilangan gizi. Simak penjelasan mengenai kandungan protein dan perbedaannya dengan telur ceplok.

Telur dadar yang dicampur tepung belum tentu kehilangan gizi

Perdebatan mengenai nilai gizi telur dadar yang dicampur tepung kembali menjadi perhatian publik setelah Presiden Prabowo Subianto menyoroti cara pengolahan telur dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, penggunaan tepung berlebihan dalam telur dadar berpotensi mengurangi kualitas asupan protein yang diterima anak-anak.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara Building Indonesia’s Future Generations Through Nutrition yang berlangsung di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Jawa Barat.

“Yang kedua, telur jangan bikin dadar. Saya sudah lama jadi orang Indonesia, kalau telur dadar nanti dicampur macam-macam itu. Iya kan? Tepungnya lebih banyak dari telurnya,” kata Prabowo Subianto.

Pernyataan itu kemudian memunculkan pertanyaan di masyarakat. Apakah benar telur dadar yang dicampur tepung memiliki nilai gizi lebih rendah dibandingkan telur ceplok atau telur utuh?

Berdasarkan data dari Tabel Komposisi Pangan Indonesia (TKPI) 2017, telur merupakan salah satu sumber protein hewani dengan kepadatan gizi tinggi. Satu butir telur ayam rata-rata mengandung sekitar 70 kilokalori energi, 6 hingga 7 gram protein, serta sekitar 5 gram lemak.

Selain protein berkualitas tinggi, telur juga mengandung berbagai vitamin dan mineral penting yang berperan dalam mendukung pertumbuhan, perkembangan otak, dan sistem kekebalan tubuh anak.

Secara umum, proses mengubah telur menjadi telur dadar atau telur ceplok tidak secara otomatis menghilangkan kandungan protein yang ada di dalamnya. Selama jumlah telur yang digunakan tetap sama, kandungan protein utama masih berasal dari telur tersebut.

Baca Juga:  Resep Bolu Kukus 5 Bahan: Lembut, Empuk, dan Anti Gagal

Masalah Utama Ada pada Proporsi Telur dalam Setiap Porsi

Menurut penjelasan yang berkembang dalam konteks Program MBG, persoalan sebenarnya bukan terletak pada penggunaan tepung sebagai bahan tambahan. Yang menjadi perhatian adalah ketika jumlah telur yang digunakan relatif sedikit, sementara tepung ditambahkan dalam jumlah besar untuk memperbanyak porsi makanan.

Dalam praktik tertentu, beberapa butir telur dapat dicampur dengan tepung lalu diolah menjadi telur dadar berukuran besar yang kemudian dibagi ke lebih banyak anak. Kondisi ini menyebabkan setiap porsi mengandung protein telur yang lebih sedikit dibandingkan jika setiap anak menerima satu butir telur utuh.

Sebagai ilustrasi, tiga butir telur yang dicampur tepung dan dibagi menjadi enam porsi akan menghasilkan asupan protein yang jauh lebih rendah per anak dibandingkan tiga butir telur yang dibagikan hanya kepada tiga orang.

Tepung memang dapat menambah volume makanan dan memberikan rasa kenyang lebih lama karena mengandung karbohidrat. Namun, tepung tidak dapat menggantikan fungsi protein hewani yang menjadi salah satu tujuan utama dalam pemenuhan gizi anak.

Selain itu, proses penggorengan juga dapat meningkatkan jumlah kalori karena adanya minyak yang terserap ke dalam makanan. Berdasarkan perhitungan gizi, penggunaan minyak saat menggoreng dapat menambah sekitar 40 hingga 50 kilokalori energi dan sekitar 4 hingga 5 gram lemak pada satu porsi telur.

Akibatnya, telur ceplok umumnya memiliki kandungan energi lebih tinggi dibanding telur rebus karena adanya tambahan minyak. Namun dari sisi protein, jumlahnya tetap relatif sama selama menggunakan jumlah telur yang setara.

Baca Juga:  Cara Membuat Tahu Isi Jeletot yang Gurih dan Krispi untuk Teman Ngopi

Dalam konteks pemenuhan gizi anak, terutama melalui Program Makan Bergizi Gratis, fokus utama adalah memastikan setiap anak memperoleh protein hewani yang cukup sesuai kebutuhan pertumbuhan mereka. Karena itu, penggunaan telur utuh atau olahan yang tetap mempertahankan proporsi telur yang memadai dinilai lebih efektif untuk mencapai tujuan program.

Dengan kata lain, telur dadar yang dicampur tepung tidak otomatis kehilangan kandungan gizinya. Protein telur tetap ada dan tetap bermanfaat bagi tubuh. Namun apabila penambahan tepung dilakukan secara berlebihan hingga mengurangi jumlah telur yang diterima dalam setiap porsi, maka asupan protein yang diperoleh anak tentu menjadi lebih rendah.

Hal inilah yang menjadi perhatian dalam upaya memastikan kualitas makanan bergizi bagi anak-anak, khususnya pada program yang bertujuan meningkatkan asupan protein dan mendukung tumbuh kembang generasi muda Indonesia.

Referensi:
CNN Indonesia

📚 ️Baca Juga Seputar Kuliner

Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Kuliner Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia kuliner — semua ada di sana!

Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.

📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral

Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!

BERITATERKAIT

BERITATERBARU

INSTAGRAMFEED