Jangan Asal Pilih, Ini Alasan Orang Tua Wajib Memahami Komposisi Susu Formula
Kesadaran orang tua terhadap pentingnya asupan gizi bagi anak terus meningkat. Kini, semakin banyak keluarga yang tidak hanya melihat merek...
Read more
Nilai tukar rupiah kembali mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Senin (8/6) pagi. Mata uang Garuda tercatat berada di level Rp18.110 per dolar AS, turun 104 poin atau sekitar 0,58 persen dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya.
Pelemahan ini terjadi di tengah penguatan dolar AS yang masih mendominasi pasar keuangan global. Selain itu, meningkatnya ketidakpastian geopolitik internasional turut mendorong investor mencari aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS.
Berdasarkan data perdagangan valuta asing, pergerakan rupiah sejalan dengan sejumlah mata uang Asia yang juga mengalami tekanan. Peso Filipina melemah 0,32 persen, ringgit Malaysia turun 0,93 persen, yen Jepang terkoreksi 0,03 persen, dan dolar Hong Kong melemah tipis 0,01 persen terhadap dolar AS.
Meski demikian, tidak semua mata uang Asia berada di zona merah. Yuan China masih mampu menguat 0,07 persen, dolar Singapura naik 0,01 persen, sementara won Korea Selatan mencatat penguatan cukup signifikan sebesar 0,56 persen.
Di kelompok mata uang negara maju, pergerakan juga berlangsung bervariasi. Euro melemah 0,01 persen, dolar Kanada turun 0,08 persen, franc Swiss terdepresiasi 0,11 persen, dan poundsterling Inggris melemah 0,05 persen. Sebaliknya, dolar Australia berhasil menguat tipis 0,01 persen terhadap dolar AS.
Menurut Lukman Leong, analis mata uang dari Doo Financial Futures, pelemahan rupiah saat ini tidak terlepas dari penguatan dolar AS yang dipicu oleh data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih baik dari perkiraan pasar.
Data tersebut memperkuat keyakinan investor bahwa kondisi ekonomi Amerika masih relatif kuat. Situasi itu mendorong permintaan terhadap dolar AS dan memberikan tekanan tambahan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
“Rupiah berpotensi melemah terhadap dolar AS yang menguat tajam setelah data pekerjaan AS yang lebih baik dari perkiraan. Eskalasi baru di Timur Tengah juga ikut mendukung penguatan dolar AS dan menekan rupiah,” kata Lukman Leong, analis mata uang Doo Financial Futures.
Selain faktor ekonomi, pasar juga masih mencermati perkembangan geopolitik global. Ketegangan yang kembali meningkat di kawasan Timur Tengah membuat pelaku pasar cenderung mengurangi aset berisiko dan beralih ke instrumen yang dianggap lebih aman.
Kondisi tersebut memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang emerging market atau negara berkembang, termasuk Indonesia. Ketika dolar AS menguat secara luas, nilai tukar rupiah biasanya ikut tertekan karena arus modal cenderung bergerak menuju aset berbasis dolar.
Menurut Lukman, pergerakan rupiah sepanjang hari ini diperkirakan masih berada dalam rentang Rp18.000 hingga Rp18.150 per dolar AS. Rentang tersebut menunjukkan bahwa volatilitas pasar masih cukup tinggi dan sangat dipengaruhi oleh perkembangan data ekonomi global maupun situasi geopolitik internasional.
Pelaku pasar kini menunggu sejumlah indikator ekonomi lanjutan dari Amerika Serikat serta perkembangan terbaru konflik geopolitik yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan mata uang dunia dalam beberapa hari ke depan.
Referensi:
CNN Indonesia
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Nasional Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia nasional — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Kesadaran orang tua terhadap pentingnya asupan gizi bagi anak terus meningkat. Kini, semakin banyak keluarga yang tidak hanya melihat merek...
Kasus dugaan korupsi yang menyeret sejumlah mantan petinggi Badan Gizi Nasional (BGN) terus menjadi perhatian publik. Di tengah perkembangan penyidikan...