Trump Soroti Proposal Iran soal Selat Hormuz, Negosiasi Masih Buntu
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan tidak puas dengan proposal terbaru yang diajukan Iran terkait pembukaan Selat Hormuz. Usulan tersebut...
Read more
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali mencuat di forum internasional. Kali ini, perselisihan terjadi dalam rapat Perserikatan Bangsa Bangsa yang membahas program nuklir Iran dalam kerangka Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir atau NPT.
Konferensi ke-11 untuk meninjau implementasi NPT digelar di Markas PBB di New York dan diikuti oleh berbagai negara. Dalam forum tersebut, sebanyak 34 wakil presiden konferensi dinominasikan oleh berbagai kelompok negara.
Menurut Do Hung Viet, Duta Besar Vietnam untuk PBB yang juga ditunjuk sebagai ketua konferensi, Iran terpilih sebagai salah satu wakil presiden melalui dukungan kelompok negara non-blok dan sejumlah negara lainnya.
Namun keputusan tersebut memicu reaksi keras dari pihak Amerika Serikat. Menurut Christopher Yaaw, Asisten Sekretaris untuk Biro Pengendalian Senjata dan Non-Proliferasi AS, terpilihnya Iran dinilai bertentangan dengan semangat NPT.
“Tidak dapat disangkal bahwa Iran telah lama menunjukkan penghinaannya terhadap komitmen non-proliferasi NPT,” kata Yaaw.
Ia juga menilai Iran tidak menunjukkan kerja sama yang memadai dengan pengawas nuklir PBB dalam menjawab berbagai pertanyaan terkait program nuklirnya. Bahkan, Yaaw menyebut keputusan tersebut sebagai langkah yang memalukan dan berpotensi merusak kredibilitas forum internasional.
Di sisi lain, Iran tidak tinggal diam. Duta Besar Iran untuk Badan Energi Atom Internasional, Reza Najagi, menolak keras tuduhan tersebut dan menyebutnya sebagai pernyataan yang tidak berdasar serta sarat kepentingan politik.
“Tidak dapat dibenarkan bahwa AS, sebagai satu-satunya negara yang pernah menggunakan senjata nuklir, dan negara yang terus memperluas dan memodernisasi senjata nuklir, berupaya memposisikan diri sebagai penengah,” kata Najagi dalam pertemuan tersebut.
Isu nuklir memang telah lama menjadi sumber ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat. Iran secara konsisten menyatakan bahwa program pengayaan nuklirnya ditujukan untuk kepentingan sipil, bukan untuk pengembangan senjata.
Namun, berdasarkan data dari intelijen Amerika Serikat, Iran diduga memiliki program pengembangan senjata nuklir yang disembunyikan sejak tahun 2003.
Situasi ini semakin kompleks karena isu nuklir juga menjadi salah satu faktor utama dalam konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel dalam beberapa waktu terakhir.
Di tengah ketegangan tersebut, Iran disebut telah mengajukan proposal gencatan senjata kepada Amerika Serikat melalui Pakistan sebagai mediator. Dalam proposal tersebut, Iran mengusulkan pembukaan Selat Hormuz, namun menunda pembahasan terkait program nuklir.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa persoalan nuklir Iran masih menjadi isu sensitif yang berpotensi memicu ketegangan lebih luas di tingkat global, terutama ketika dibahas dalam forum internasional seperti PBB.
Referensi:
CNN Indonesia
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Internasional Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia internasional — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan tidak puas dengan proposal terbaru yang diajukan Iran terkait pembukaan Selat Hormuz. Usulan tersebut...
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali mencuat di forum internasional. Kali ini, perselisihan terjadi dalam rapat Perserikatan Bangsa Bangsa...