Kronologi Penikaman Nus Kei di Bandara Terungkap Ini Fakta Pentingnya
Kasus penikaman yang menewaskan Agrapinus Rumatora atau Nus Kei mengguncang publik. Insiden tersebut terjadi di Bandar Udara Karel Sadsuitubun pada...
Read more
Penanganan bencana hidrometeorologis banjir dan tanah longsor di Sumatra telah berlangsung lebih dari satu bulan sejak akhir November 2025. Bencana ini melanda tiga provinsi, yaitu Aceh, Sumatra Utara (Sumut), dan Sumatra Barat (Sumbar). Hingga awal pekan terakhir Desember, laporan mengenai korban jiwa dan warga hilang terus bertambah.
Menurut Pemerintah Pusat, lebih dari separuh kabupaten dan kota terdampak kini telah beralih dari fase tanggap darurat ke fase transisi rehabilitasi dan rekonstruksi. Menurut Menko PMK Pratikno, perkembangan ini menunjukkan kemajuan penting dalam penanganan pascabencana di wilayah terdampak.
“Saat ini lebih dari separuh kabupaten/kota yang terdampak, telah beralih dari fase tanggap darurat ke fase transisi rehabilitasi dan rekonstruksi,” kata Pratikno, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, dalam konferensi pers yang disiarkan BNPB.
Selain itu, Presiden Prabowo Subianto juga direncanakan akan mengunjungi langsung wilayah terdampak pada malam Tahun Baru 2026.
Berdasarkan data BNPB, jumlah korban meninggal dunia hingga Senin (29/12) tercatat 1.140 jiwa. Masih terdapat 163 orang hilang, sementara sekitar 399 ribu jiwa harus mengungsi akibat bencana besar ini.
Kerusakan yang terjadi juga meluas. Setidaknya 166.925 unit rumah rusak, disertai kerusakan 215 fasilitas kesehatan, 3.188 fasilitas pendidikan, 803 rumah ibadah, 97 jembatan terputus, dan 99 ruas jalan terputus.
Dampak besar juga terlihat pada struktur pemerintahan desa. Menurut Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, terdapat 22 desa yang hilang tersapu bencana.
“Karena memang data kami menunjukkan bahwa ada desa yang hilang itu totalnya 22. Di Aceh ada 13 hilang, tersapu. Di Sumatra Utara ada 8. Sumatra Barat ada satu,” kata Tito Karnavian, Menteri Dalam Negeri.
Ia juga menyebut sebanyak 1.580 kantor desa terdampak bencana, dengan jumlah terbesar berada di Aceh mencapai 1.455 unit, disusul Sumut 93 unit dan Sumbar 32 unit. Kondisi tersebut membuat pelayanan pemerintahan desa tidak berjalan optimal.
Di sisi lain, pemerintah pusat mulai menyiapkan hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak. Menurut Menteri Investasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani, sedikitnya 500 unit huntara sudah siap digunakan dalam waktu dekat. Jumlah ini merupakan bagian dari total rencana pembangunan 15 ribu unit huntara.
Pernyataan tersebut juga disampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto melalui laporan resmi. Menurut Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, pembangunan hunian lainnya akan terus dilakukan secara bertahap oleh berbagai pemangku kepentingan agar kebutuhan tempat tinggal sementara warga segera terpenuhi.
Referensi: CNN Indonesia
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Nasional Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia nasional — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Kasus dugaan pencurian terjadi di salah satu resort di kawasan Ubud, Bali. Seorang warga negara asing (WNA) asal India diduga...
Seorang pria berusia 39 tahun diamankan aparat kepolisian di wilayah Kalideres, Jakarta Barat, setelah diduga melakukan pelecehan terhadap tiga anak...