Bahlil Jawab Polemik Etanol: BBM Pertamina Aman dan Teruji

Bahlil Lahadalia pastikan BBM Pertamina mengandung etanol maksimal 5 persen dan telah lolos uji Lemigas, aman untuk kendaraan. (Foto: ANTARA FOTO/Galih Pradipta).

Bahlil Lahadalia pastikan BBM Pertamina mengandung etanol maksimal 5 persen dan telah lolos uji Lemigas, aman untuk kendaraan

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa kandungan etanol dalam Bahan Bakar Minyak (BBM) milik Pertamina telah melalui uji standar dan terbukti aman digunakan pada kendaraan. Pernyataan ini disampaikan untuk merespons keraguan masyarakat terhadap kualitas BBM yang disebut mengandung etanol.

Menurut CNN Indonesia, Bahlil menegaskan bahwa seluruh BBM yang didistribusikan, baik oleh Pertamina maupun swasta, telah melalui pengujian mutu oleh Lemigas, lembaga pemerintah yang bertanggung jawab dalam hal pengujian dan sertifikasi bahan bakar.

“Seluruh minyak atau BBM yang didistribusikan ke SPBU, baik punya Pertamina atau swasta, semua diuji lewat standar pemerintah, lewat Lemigas dan kalau tidak lolos standar, pasti tidak akan didistribusikan, dan semuanya sudah sesuai standar,” kata Bahlil saat ditemui di Anjungan Sarinah, Jakarta, Selasa (7/10).

Kandungan Etanol di Pertamax Green 95 Maksimal 5 Persen

Bahlil menjelaskan bahwa berdasarkan ketentuan pemerintah, kandungan etanol dalam BBM diperbolehkan hingga 20 persen, selama menggunakan etanol murni berkualitas tinggi. Dalam hal ini, Pertamina hanya menggunakan etanol hingga 5 persen pada produk Pertamax Green 95.

“Etanol itu selama di bawah 20 persen itu nggak ada masalah. Selama etanolnya itu etanol murni 99,95 persen dan yang dilakukan oleh Pertamina itu kemarin itu adalah sudah memenuhi standar,” tegas Bahlil.

Vivo dan BP AKR Mundur dari Kesepakatan dengan Pertamina

Sebelumnya, dua badan usaha yang mengelola Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) swasta, yakni PT Vivo Energy Indonesia dan BP AKR, memutuskan untuk membatalkan pembelian BBM dari Pertamina. Langkah ini diambil meskipun sebelumnya telah tercapai kesepakatan kerja sama.

Wakil Direktur Utama PPN Achmad Muchtasyar menyatakan bahwa keputusan tersebut diambil karena BBM dari Pertamina mengandung etanol, meskipun secara regulasi masih diperbolehkan.

“Isu yang disampaikan kepada rekan-rekan SPBU ini adalah mengenai konten. Kontennya itu ada kandungan etanol. Nah, di mana secara regulasi itu diperkenankan, etanol itu sampai jumlah tertentu kalau tidak salah sampai 20 persen etanol. Sedangkan ada etanol 3,5 persen,” ujar Achmad saat rapat di Komisi XII DPR RI, Rabu (1/10).

Etanol dalam BBM: Praktik Global untuk Transisi Energi

Pertamina melalui anak usahanya Patra Niaga menegaskan bahwa penggunaan etanol dalam BBM merupakan praktik umum secara global. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari transisi menuju energi bersih dan pengurangan emisi karbon.

“Penggunaan etanol dalam BBM bukan hal baru, melainkan praktik yang sudah mapan secara global,” kata Pj Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, dalam keterangan resmi, Jumat (3/10).

Ia juga merinci bahwa negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Brasil, dan Uni Eropa sudah lama menggunakan etanol dalam bahan bakar mereka:

  • Amerika Serikat: kandungan etanol 10 persen

  • Brasil: kandungan etanol 27 persen

  • Uni Eropa: kandungan etanol 10 persen

Penggunaan etanol terbukti meningkatkan efisiensi pembakaran, menurunkan emisi gas rumah kaca, dan meningkatkan kualitas udara, terutama di wilayah perkotaan.

Lemigas Jadi Lembaga Standar untuk Semua Distribusi BBM

Bahlil menegaskan bahwa Lemigas bertugas sebagai lembaga independen yang menguji kelayakan seluruh distribusi BBM, tanpa memandang siapa badan usahanya. Dengan demikian, baik SPBU milik Pertamina maupun swasta, semuanya harus memenuhi standar mutu bahan bakar nasional sebelum dijual ke masyarakat.

Hal ini dilakukan agar tidak ada diskriminasi serta untuk menjamin bahwa semua BBM yang beredar memiliki kualitas yang sama dan aman digunakan di seluruh jenis kendaraan bermotor.

Dukungan terhadap Energi Ramah Lingkungan

Langkah Pertamina dalam memasukkan etanol ke dalam BBM bukan hanya soal efisiensi, tetapi juga merupakan bagian dari komitmen pemerintah dalam mengurangi emisi karbon dan mendukung energi ramah lingkungan.

Program ini juga sejalan dengan target Net Zero Emission 2060 yang telah ditetapkan Indonesia, serta berbagai komitmen transisi energi yang telah diteken dalam forum internasional seperti G20 dan COP.

Isu Etanol Harus Dikelola dengan Edukasi

Polemik terkait etanol dalam BBM seharusnya bisa diselesaikan dengan edukasi yang baik kepada publik. Kandungan etanol yang digunakan tidak melebihi batas aman, dan bahkan mendukung perbaikan kualitas lingkungan. Oleh karena itu, transparansi dan penyampaian informasi dari pemerintah dan perusahaan menjadi penting untuk membangun kepercayaan konsumen.

Referensi: CNN Indonesia

📚 ️Baca Juga Seputar Nasional

Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Nasional Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia nasional — semua ada di sana!

✍️ Ditulis oleh: Fadjri Adhi Putra & Fahmi Fahrulrozi
📌 Editor: Redaksi Tren Media

Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.

📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral

Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!

BERITATERKAIT

BERITATERBARU

INSTAGRAMFEED