Penjelasan Dokter soal GERD, Komplikasi, dan Risiko Kesehatan Serius
Kabar meninggalnya selebgram Lula Lahfah di apartemennya di kawasan Jakarta Selatan belum lama ini mengundang perhatian luas. Banyak pihak terkejut...
Read more
Perbincangan mengenai surrogate mother atau ibu pengganti kembali ramai di media sosial. Topik ini mencuat setelah sejumlah figur publik dunia secara terbuka membagikan pengalaman memiliki anak melalui bantuan rahim perempuan lain. Fenomena tersebut langsung memicu perdebatan luas, terutama terkait aspek etika, kesehatan, dan potensi eksploitasi perempuan.
Di berbagai platform media sosial, warganet terbagi dalam dua kubu. Sebagian menganggap surrogate mother sebagai solusi medis yang sah selama dilakukan atas dasar persetujuan dan kompensasi yang adil. Namun, tidak sedikit pula yang mempertanyakan moralitas praktik ini, khususnya ketika melibatkan perempuan dari kelompok ekonomi lemah.
Salah satu pengguna media sosial menulis, “Jujur gwe masih gak paham dengan orang yang pro surrogate… Lu pinjem rahim orang lain buat hamil, begitu lahir anaknya lu ambil.” Di sisi lain, pendapat berbeda juga bermunculan. “Menurutku win win solution. it’s not exploitative if it involves consent. plus mereka dibayar,” tulis warganet lainnya.
Kekhawatiran utama yang kerap disorot adalah risiko eksploitasi perempuan, terutama jika dorongan ekonomi menjadi alasan utama seseorang bersedia menjadi ibu pengganti. Selain itu, aspek psikologis juga menjadi perhatian, mengingat ibu pengganti harus melepaskan bayi yang telah dikandung selama sembilan bulan, yang berpotensi memengaruhi ikatan batin atau bonding.
Di dunia medis internasional, surrogate mother bukanlah praktik baru. Berdasarkan penjelasan American Society for Reproductive Medicine (ASRM), surrogacy dibagi menjadi dua jenis utama, yakni traditional surrogacy dan gestational surrogacy.
Dalam praktik modern, gestational surrogacy menjadi metode yang paling umum digunakan. Pada metode ini, ibu pengganti tidak memiliki hubungan genetik dengan bayi. Embrio dibentuk dari sel telur dan sperma orang tua biologis atau donor, lalu ditanamkan ke rahim ibu pengganti melalui prosedur in vitro fertilization atau IVF. Dengan demikian, ibu pengganti hanya berperan sebagai tempat tumbuh kembang janin hingga proses persalinan.
Berdasarkan keterangan ASRM, metode ini banyak dipilih oleh pasangan yang memiliki kendala medis serius, seperti gangguan rahim, risiko kehamilan tinggi, atau trauma medis akibat kehamilan sebelumnya. Sejumlah figur publik dunia diketahui memilih jalur ini setelah menghadapi kondisi kesehatan yang mengancam keselamatan jika hamil kembali.
Praktik surrogate mother juga kerap dipandang sebagai jembatan bagi pasangan yang mengalami infertilitas atau tidak memungkinkan menjalani kehamilan secara alami, namun tetap ingin memiliki anak dengan keterkaitan genetik.
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Kabar meninggalnya selebgram Lula Lahfah di apartemennya di kawasan Jakarta Selatan belum lama ini mengundang perhatian luas. Banyak pihak terkejut...
Diet kerap identik dengan pembatasan porsi dan rasa lapar yang berkepanjangan. Tak sedikit orang menganggap menurunkan berat badan berarti harus...