Ini Pelanggaran Lalu Lintas yang Jadi Sasaran Utama Operasi Keselamatan Jaya 2026
Kepolisian menggelar Operasi Keselamatan Jaya 2026 selama dua pekan, terhitung sejak 2 hingga 15 Februari. Operasi ini bertujuan meningkatkan disiplin...
Read more
Modifikasi kendaraan kerap menjadi cara pemilik mobil untuk menyesuaikan tampilan dan karakter kendaraan dengan selera pribadi. Namun, kebiasaan ini tidak bisa diterapkan sembarangan pada mobil listrik. Berbeda dengan mobil bermesin konvensional, kendaraan listrik memiliki sistem yang jauh lebih terintegrasi, terutama pada aspek sensor dan kelistrikan.
Berdasarkan penjelasan dari pihak pabrikan, modifikasi mobil listrik yang tidak sesuai standar dapat menimbulkan risiko keselamatan dan berdampak pada kinerja kendaraan, bahkan jika perubahan yang dilakukan terlihat sederhana seperti mengganti velg.
Menurut Head of Marketing Changan Indonesia, Ridjal Mulyadi, mobil listrik saat ini sangat bergantung pada sensor untuk mengatur berbagai fungsi kendaraan. Perubahan komponen yang tidak sesuai spesifikasi pabrikan berpotensi mengganggu sistem tersebut.
“Karena semua sekarang pakai sensor. Jadi begitu sensor ini diubah dengan OEM kita punya barang dan segala macam kan, itu pasti akan mengubah sensor kan. Beda kalau mobil ICE sensornya tidak banyak, itu masih bisa ditolerir. Tapi begitu ini ganti tidak sesuai anjuran dari kita atau spesifikasi kita, kita tidak menjamin yang elektrikal itu bisa berfungsi benar,” kata Ridjal Mulyadi, Head of Marketing Changan Indonesia.
Sensor pada mobil listrik berperan penting dalam mengatur efisiensi energi, sistem pengereman, kestabilan kendaraan, hingga distribusi tenaga ke roda. Perubahan ukuran atau bobot velg, misalnya, dapat memengaruhi pembacaan sensor dan menyebabkan ketidaksesuaian data pada sistem kendaraan.
Berbeda dengan mobil bermesin pembakaran internal atau ICE, mobil listrik memiliki sistem kelistrikan yang lebih kompleks dan saling terhubung. Sensor, motor listrik, baterai, dan sistem kontrol bekerja secara terintegrasi. Ketika satu komponen diubah tanpa perhitungan matang, dampaknya bisa merambat ke sistem lain.
Menurut Ridjal, risiko ini menjadi alasan mengapa pabrikan menerapkan kebijakan garansi yang lebih ketat untuk mobil listrik dibandingkan mobil konvensional.
“Mungkin kalau dari warranty pasti akan lebih ketat dibandingkan mobil ICE karena ini ya berkaitan elektrikal, berkaitan dengan sensor, berkaitan dengan efisiensi segala macam, itu integrated,” lanjut Ridjal.
Artinya, modifikasi yang tidak sesuai spesifikasi resmi pabrikan berpotensi membuat garansi kendaraan menjadi tidak berlaku. Hal ini penting dipahami oleh konsumen, terutama mereka yang baru pertama kali memiliki mobil listrik.
Sebagai gambaran, Changan Indonesia memberikan perlindungan garansi jangka panjang untuk produknya. Model Lumin, misalnya, didukung garansi komponen utama selama 8 tahun atau 120.000 km, mencakup traction battery, electric drive system, dan vehicle controller, mana yang tercapai lebih dahulu.
Selain itu, tersedia juga garansi kendaraan selama 6 tahun atau 120.000 km, serta paket servis gratis selama 4 tahun atau 80.000 km. Seluruh perlindungan ini diberikan dengan catatan kendaraan digunakan dan dirawat sesuai standar pabrikan.
Sementara itu, untuk model Deepal S07, Changan memberikan garansi traction battery hingga 8 tahun atau 240.000 km. Garansi electric drive system dan vehicle controller juga berlaku hingga 8 tahun atau 150.000 km, disertai garansi kendaraan 6 tahun atau 120.000 km, serta paket servis gratis selama 5 tahun atau 60.000 km.
Namun, seluruh manfaat tersebut dapat gugur apabila kendaraan mengalami modifikasi yang tidak direkomendasikan.
Pabrikan mobil listrik umumnya telah melakukan berbagai pengujian untuk menentukan spesifikasi ideal kendaraan, termasuk ukuran velg, bobot, hingga jenis ban yang digunakan. Spesifikasi ini dirancang agar selaras dengan karakter motor listrik, sistem pengereman, serta manajemen daya baterai.
Mengganti velg dengan ukuran atau bobot berbeda bisa memengaruhi efisiensi konsumsi energi, jarak tempuh, hingga respons kendaraan saat berkendara. Dalam kondisi ekstrem, kesalahan modifikasi juga dapat memicu gangguan pada sistem keselamatan aktif.
Oleh karena itu, konsumen disarankan untuk selalu berkonsultasi dengan dealer resmi sebelum melakukan perubahan apa pun pada mobil listrik. Menggunakan aksesori resmi atau komponen yang telah disetujui pabrikan menjadi langkah paling aman untuk menjaga performa dan keamanan kendaraan.
Dengan semakin populernya mobil listrik di Indonesia, pemahaman mengenai perbedaan karakter kendaraan listrik dan konvensional menjadi semakin penting. Modifikasi bukan sekadar soal tampilan, tetapi juga menyangkut keselamatan, efisiensi, dan perlindungan garansi jangka panjang.
Referensi:
DetikOto
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Mobil Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia mobil — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Maarten Paes resmi menjadi bagian dari Ajax dan kembali meramaikan kompetisi sepak bola Belanda. Penjaga gawang naturalisasi Timnas Indonesia itu...
FC Utrecht resmi mengakhiri kerja sama dengan gelandang muda Ivar Jenner. Keputusan ini diambil setelah kedua pihak sepakat untuk mengakhiri...