Film Maryam: Janji & Jiwa yang Terikat membawa penonton menyelami kisah yang bukan sekadar horor biasa namun drama penuh emosi dan spiritualitas. Disutradarai oleh Azhar Kinoi Lubis dan ditulis oleh Lele Laila, film ini lahir dari cerita viral di podcast horor Lentera Malam tentang cinta terlarang antara manusia dan jin.
Kisah yang Menghantui Selama 26 Tahun
Maryam, tokoh utama film ini, hidup dihantui teror selama lebih dari dua dekade karena makhluk gaib yang jatuh cinta padanya. Jin itu mengikat Maryam dengan sebuah janji kelam—menjadikannya tak pernah bebas, bahkan dari pikiran dan jiwanya sendiri.
Visual pertama yang ditampilkan lewat poster menunjukkan wajah Maryam yang seolah terkoyak, menggambarkan belenggu batin dan ikatan yang sulit melepaskan.
Azhar Kinoi Lubis menjelaskan bahwa Maryam bukan horor yang hanya mengandalkan jumpscare. “Film ini punya kisah emosional, janji, dan ikatan jiwa yang bikin ceritanya makin dekat dengan penonton,” ungkapnya.
Trailer yang dirilis juga berhasil membius para undangan dalam konferensi pers. Atmosfer kelam dibangun dengan detail, akting total pemain, serta ketegangan yang mencekam—sebuah kombinasi yang membuat Maryam menjadi horor Indonesia paling dinantikan pada 2025.
Film ini merupakan hasil kolaborasi Legacy Pictures, Itandela Pictures, dan VMS Studio, serta diproduseri Tony Ramesh dan Shalu T.M. Menurut mereka, Maryam menggali kisah lokal yang akrab di telinga penonton Indonesia dan punya potensi resonansi hingga ke penonton global.
Para pemain seperti Claresta Taufan (peran Maryam), Wafda Saifan, Debo Andryos, Maryam Supraba, dan Rukman Rosadi turut memberikan konflik emosi dan spiritual dalam narasi yang menyeluruh.
Film ini menyuguhkan ketegangan psikologis yang kuat. Maryam bukan hanya dihadapkan pada teror visual, tapi juga dilema batin antara iman, kehendak bebas, dan cinta yang salah—sebuah cinta yang membelenggu lebih dari sekadar fisik.