Terungkap, Minuman Sederhana di Pagi Hari Bantu Lawan Kolesterol Tinggi
Kolesterol tinggi masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang banyak dialami masyarakat. Jika tidak terkontrol, kondisi ini bisa meningkatkan risiko...
Read more
Kebiasaan menggigit kuku sering dianggap sepele. Banyak orang melakukannya tanpa sadar, terutama saat sedang berpikir atau menunggu sesuatu. Namun di balik kebiasaan ini, ada faktor psikologis yang perlu diperhatikan.
Dalam istilah medis, kebiasaan menggigit kuku dikenal sebagai onychophagia. Kondisi ini termasuk dalam kategori body focused repetitive behavior atau BFRB, yaitu perilaku berulang yang berfokus pada tubuh.
Berdasarkan ulasan dari Psychology Today, kebiasaan ini umumnya mulai muncul sejak masa kanak-kanak, meningkat saat remaja, dan bisa berlanjut hingga dewasa. Jika dilakukan terus-menerus, menggigit kuku dapat merusak kuku, kutikula, kulit sekitar jari, bahkan berdampak pada gigi dan rahang.
Berikut beberapa kondisi mental yang kerap dikaitkan dengan kebiasaan menggigit kuku.
Stres
Stres menjadi salah satu pemicu paling umum. Saat menghadapi tekanan, sebagian orang mencari cara untuk menenangkan diri. Menggigit kuku bisa menjadi mekanisme coping sementara yang memberi rasa lega. Namun jika dilakukan berulang, kebiasaan ini justru sulit dihentikan.
Selain stres, gangguan kecemasan juga sering menjadi latar belakang perilaku ini. Saat seseorang merasa gelisah atau cemas, tubuh akan mencari aktivitas untuk meredakan ketegangan. Pada individu dengan gangguan kecemasan, kebiasaan menggigit kuku biasanya lebih intens dan sulit dikontrol. Kondisi ini bisa menjadi sinyal bahwa masalah psikologis belum tertangani dengan baik.
Bosan
Menggigit kuku juga dapat muncul ketika seseorang merasa bosan atau tidak memiliki aktivitas. Secara psikologis, otak mencari stimulasi tambahan. Tanpa disadari, tangan dan mulut bergerak otomatis untuk membuat otak tetap merasa sibuk.
Perfeksionisme
Menurut sejumlah studi yang dikutip dari Nailknowledge, kebiasaan menggigit kuku juga dikaitkan dengan kecenderungan perfeksionisme. Orang dengan karakter ini memiliki dorongan untuk memperbaiki bagian kuku yang terasa tidak rata atau kasar. Awalnya hanya ingin merapikan, namun lama-kelamaan menjadi kebiasaan berulang.
Menghentikan kebiasaan ini memang tidak mudah, tetapi ada beberapa langkah yang bisa dicoba. Berdasarkan informasi dari WebMD, berikut beberapa cara yang dapat membantu.
Pertama, potong kuku secara rutin dan jaga tetap pendek. Dengan kuku yang pendek, tidak ada bagian yang cukup panjang untuk digigit.
Kedua, gunakan kuteks atau pelapis kuku. Selain membuat kuku terlihat lebih rapi, rasa tidak enak dari cat kuku dapat membantu mengurangi dorongan untuk menggigit.
Ketiga, alihkan perhatian dengan aktivitas lain. Mengunyah permen karet, memegang bola antistres, atau menggunakan fidget toys dapat membantu mengurangi kebiasaan tersebut.
Meski terlihat sederhana, menggigit kuku bisa menjadi tanda adanya stres, kecemasan, atau kondisi psikologis tertentu. Jika kebiasaan ini terasa sulit dihentikan dan mengganggu aktivitas sehari-hari, berkonsultasi dengan tenaga profesional dapat menjadi langkah yang tepat.
Referensi:
CNN Indonesia
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Kesehatan Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia kesehatan — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Kebiasaan menggigit kuku sering dianggap sepele. Banyak orang melakukannya tanpa sadar, terutama saat sedang berpikir atau menunggu sesuatu. Namun di...
Kolesterol tinggi masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang banyak dialami masyarakat. Jika tidak terkontrol, kondisi ini bisa meningkatkan risiko...