Fatty Liver Tanpa Gejala Bisa Terjadi, Siapa yang Perlu Cek Hati?
Fatty liver
atau perlemakan hati dapat berkembang tanpa keluhan yang jelas pada tahap awal. Kondisi tersebut membuat seseorang tetap merasa sehat meski sudah terjadi penumpukan lemak pada organ hati.
Menurut keterangan dokter yang dikutip detikHealth, fatty liver umumnya tidak menimbulkan gejala pada fase awal. Keluhan seperti nyeri atau rasa tidak nyaman di area hati justru dapat menjadi alasan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut karena bisa menandakan kondisi yang lebih berat.
Kondisi ini juga tidak hanya ditemukan pada kelompok usia lanjut. Dokter spesialis penyakit dalam Prof. Dr. dr. Rino Alvani Gani, SpPD-KGEH, menyebut kelompok usia produktif sekitar 30 hingga 50 tahun juga dapat mengalami fatty liver. Pada usia lebih muda, risiko dapat berkaitan dengan obesitas yang sudah terjadi sejak masa anak-anak.
Kapan Perlu Memeriksa Kondisi Hati?
Tidak adanya gejala bukan berarti pemeriksaan kesehatan hati tidak diperlukan. Salah satu cara mengetahui adanya gangguan adalah melalui pemeriksaan kesehatan atau medical check-up.
Menurut informasi dari detikHealth, program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang disediakan pemerintah juga mencakup pemeriksaan untuk menilai kondisi hati. Pemeriksaan darah dapat digunakan dalam proses skrining untuk melihat kemungkinan adanya gangguan pada hati.
Orang dengan faktor risiko tertentu juga perlu lebih memperhatikan kondisi hati. Faktor tersebut antara lain obesitas, diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, dan gangguan kadar lemak darah. Faktor metabolik tersebut dapat meningkatkan risiko terjadinya perlemakan hati.
Pemeriksaan lebih lanjut dapat ditentukan dokter berdasarkan kondisi setiap orang. Pemeriksaan dapat mencakup tes darah dan pemeriksaan pencitraan, termasuk USG, apabila dinilai diperlukan.
Fatty Liver Bisa Berkembang Tanpa Keluhan
Perjalanan fatty liver perlu diperhatikan karena kondisi tersebut pada sebagian orang dapat berkembang menjadi masalah hati yang lebih serius. Menurut Prof. Rino, perlemakan hati yang tidak ditangani dapat berkaitan dengan peradangan dan kerusakan sel hati. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko fibrosis, sirosis hingga kanker hati.
Karena itu, kelompok yang memiliki perut buncit, obesitas, diabetes tipe 2, atau hasil pemeriksaan fungsi hati yang tidak normal disarankan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan evaluasi lebih lanjut.
Informasi lain mengenai deteksi fatty liver juga menunjukkan bahwa seseorang tidak harus menunggu munculnya rasa sakit untuk melakukan pemeriksaan. Pemeriksaan dapat dipertimbangkan ketika seseorang memiliki faktor risiko atau ketika hasil tes darah menunjukkan adanya gangguan pada enzim hati.
Selain pemeriksaan, menjaga berat badan, memperbaiki pola makan, rutin melakukan aktivitas fisik, serta mengendalikan kondisi metabolik merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan hati.
Keterangan foto: Ilustrasi pemeriksaan kesehatan hati untuk mendeteksi risiko fatty liver sejak dini.
Photo caption: Medical screening for early detection of fatty liver and liver health risks.
Referensi:
<a href=”https://health.kompas.com/read/26J06102800368/fatty-liver-tak-bergejala-kapan-sebaiknya-cek-medis-?source=terpopuler_artikel” rel=”nofollow”>Kompas</a>
<a href=”https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-8528345/usia-30-an-kini-banyak-yang-kena-fatty-liver-gejalanya-sering-terabaikan” rel=”nofollow”>detikHealth</a>